Agen Perubahan Ala Sripundati

Semua berawal dari kedatangan David Becham di Kota Semarang. Sripundati merasa sangat beruntung menjadi salah duanya siswa yang bisa berinteraksi langsung dengan David Becham, jika bukan karena agen perubahan program UNICEF, kapan lagi Sripundati bisa satu frame dengan pemain bola dunia? Srpundati merupakan siswa SMA kelas 12 di SMA XX Kota Semarang yang dahulu merupakan agen perubahan SMPN 33 Kota Semarang.

“Agen perubahan merupakan sekumpulan anak-anak di sekolah yang dipilih oleh temen-temannya, jadi setiap anak di sekolah disuruh ngisi kertas kuesioner berisi nama-nama  seluruh siswa, nanti nama yang paling banyak dipilih mernjadi agen perubahan.” Ujar Sripundati pada kesempatan di acara PodstEr Jumat Gaul live instagram.

Jadi teman-teman agen perubahan mempunyai misi mengajak teman-teman untuk selalu berperilaku positif, tidak melakukan bullying, saling menghargai, menghormati antar sesama teman, agar pertemanan di sekolah menjadi nyaman, aman, dan suasana sekolah menjadi ceria. Agen perubahan digagas oleh UNICEF Indonesia bersama Yayasan Setara, Pemprov Jateng, dan Pemerintah Kota Semarang. SMPN 33 dan SMPN 17 Kota Semarang merupakan sekolah pertama yang ditunjuk untuk melakukan percobaan pembentukan agen perubahan, hasilnya pun sekolah-sekolah tersebut mendapat acungan jempol dari berbagai pihak karena sudah menerapkan sekolah bebas dari perundungan terlebih dahulu.

Beberapa tugas agen perubahan menurut Sripundati diantaranya mengajak teman-teman tidak melakukan bullying, mensosialisasikan pengertian bullying, dan cara untuk mencegah bullying. Walaupun Sripundati dikenal sebagai seorang agen perubahan, ia pun tidak lepas dari pengalaman dibully oleh teman-temannya. Menasehati dan menegur adalah jalan yang ia lakukan ketika mendapatkan bully-an. Karena menurutnya, bully/perundungan dapat membawa dampak buruk seperti malu, marah, bahkan depresi.

“Sebaiknya cerita dan lapor ke orang yang mereka percayai, seperti teman orangtua atau guru atau orang dewasa yang dirasa nyaman.” Kata Sripundati saat ditanyai mengenai bagaimana langkah yang harus dilakukan apabila kita terkena bullying.

Masa pandemic seperti ini, bullying kerap terjadi di sosial media. Baik instagram, whatsapp, facebook, maupun twiter. Bullying tersebut biasa dikenal dengan cyberbullying. Bentuk dari cyberbullying seperti berkomentar kata-kata kasar yang dapat menyakiti hati dan mengunggah foto temannya tanpa ijin dengan maksud mempermalukan orang tersebut.

Begini tips cara mencegah bullying ala Sripundati:

  1. Saling menghormati, menghargai, dan menyayangi antar teman. Jangan sampai kita berselisih karena perbedaan, dan jangan ada yang merasa paling tinggi atau jagoan.
  2. Gunakanlah social media dengan bijak.
  3. Cari teman yang baik

RS