Seputar Indonesia,  26 September 2011

SEMARANG – Ratusan anak jalanan di bawah bimbingan Yayasan Setara Semarang kemarin melakukan aksi simpatik.

Mereka menyuarakan antieksploitasi seksual komersial terhadap anak (ESKA) yang hingga kini masih sering terjadi di Kota Semarang. Ratusan anak itu melakukan long march dari SMP Ibu Kartini Jalan Imam Bonjol menuju Bundaran Tugumuda Kota Semarang sembari membagibagikan stiker yang menyuarakan agar menghindari aksi-aksi eksploitasi terhadap anak. Misalnya, prostitusi, pornografi, dan perdagangan anak untuk tujuan seksual (trafficking). Usai long march, sejumlah anak jalanan juga menggelar aksi teaterikal di halaman SMP Ibu Kartini, dan dilanjutkan dengan pentas seni anak-anak jalanan.

Di halaman sekolah yang sama, juga diadakan pameran foto yang menggambarkan kehidupan anak-anak jalanan di sekitar Kota Semarang. Ketua Panitia Aksi Simpatik Anti ESKA Desy Natalia mengatakan, aksi simpatik yang dilakukan oleh anak-anak jalanan bersama siswa-siswi SMP Ibu Kartini dimaksudkan guna menyuarakan hak-hak anak kepada masyarakat luas. ”Selain itu, juga menyebarkan informasi melalui stiker dan pamflet kepada warga yang melintas di sekitar Tugu Muda tentang hak anak,”ujarnya.

Menurut Desy, hak-hak anak itu di antaranya,hak tumbuh kembang, dilindungi, dan dijaga keberlangsungan hidupnya. Di samping itu juga dihargai pendapat-pendapatnya. Desy menambahkan, banyak kasus ekploitasi anak yang terjadi di Semarang. Hal itu diakibatkan oleh faktor ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya. Koordinator Setara Semarang Hening Budiyawati mengutarakan, selama lima tahun terakhir, Yayasan Setara sudah mendampingi 14 anak jalanan yang menjadi korban ekspolitasi anak. Beberapa anak yang ditanganinya didapat dari informasi di media massa dan kasus- kasus yang ditangani kepolisian.

”Rata-rata berasal dari luar Semarang,”katanya. Anak-anak yang menjadi korban ekploitasi didampingi sejumlah pegiat peduli anak di Yayasan Setara. Diusahkan semangat hidupnya dikembalikan lagi agar bisa menjalani hidup seperti hari-hari sebelumnya.” Ada juga anak yang kami antar kembali ke orang tuanya,” imbuhnya. Anak-anak yang menjadi korban ekspolitasi oleh orang yang tidak bertanggung jawab usianya antara 15–17 tahun. Mereka ada yang diperkosa, bahkan sampai ada yang berusaha di jual ke lelaki hidung belang.

Dia berharap, masyarakat bisa lebih memahami hak-hak anak, dan melindunginya sampai tumbuh dewasa. ”Dengan begitu Semarang sebagai kota layak anak benar-benar terwujud,” pintanya. _amin fauzi

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/430807/