Anak Jalanan Bunga Kota yang Dinista (Tajam, 1999)

TAJAM, No II Tahun I, 23 Agustus – 4 September 1999

ANAK JALANAN. Mungkin itulah yang dalam lima tahun terakhir paling menjadi pemandangan umum atau bahkan merupakan ciri khas utama terpenting kota-kota besar di Indonesia. Anak jalanan pula yang secara mendasar patut menjadi indikator fakta penting yang merefleksikan realitas bahwa negeri ini, bahwa bangsa yang besar ini sedang sakit. Betapa tidak? Dari tinjauan berdasar jumlah misalnya, secara nasional anak-anak yang mengandalkan hidupnya di tengah keriuhan jalan kota-kota kita mencapai 500.000 anak. Apa artinya?

**************************************

SEDERHANA saja, jika merujuk UUD 1945 Bab XIV pasal 34 yang menyatakan bahwa “Fakir Miskin dan Anak Telantar Dipelihara oleh Negara”. Jelas bahwa pemerintah gagal merealisir amanat yang terkandung di dalamnya. Sebab, diakui atau tidak, perlindungan terhadap keberadaan anak jalanan – apalagi bahwa mereka dipelihara oleh negara – hingga kini nyaris sepenuhnya masih terwujud hanya sebagai gagasan mulia tanpa realisasi konkret. Bahkan, kalau hendak lebih dilengkapi secara objektif, perhatian pemerintah terhadap anak jalanan betul-betul minimal.

Menarik pula untuk dicermati, bahwa ketentuan UUD 1945 diperjelas lagi melalui keluarnya UU No. 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak. Di dalam pasal 2 ayat 3 dikatakan, bahwa anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun dalam sesudah dilahirkan. Anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan yang wajar.

Pernyataan tersebut, jelas bisa dan boleh ditafsirkan bahwa pengertian mengenai lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan yang wajar itu termasuk jalanan. Sekurang-kurangnya jika kita mencermati penegasan UNICEF, …. yang mengkategorikan jalanan sebagai tempat kerja yang kejam dan membahayakan anak-anak.

Jalanan sebagai habitat anak jalanan, …… anak jalanan lazim beraktivitas ….. anggota masyarakat yang ….. oleh pemerintah ataupun ….. masyarakat yang lebih mapan. ……identik dengan lahan kekerasan.

….. aniaya fisik atau mental, …..seksual, tindakan-tindakan yang …. langsung merendahkan harkat dan ….. anak sebagai manusia, merupakan …. “….. umum” yang lazim menimpa ….. dihadapi dan diatasi oleh anak ….. ….., ragam aniaya atau …… kekerasan itu sendiri sering dilakukan oleh sesama anak jalanan yang lebih senior terhadap yuniornya. Tetapi boleh jadi ini yang harus disipaki, tindak aniaya ataupun kekerasan dengan beragam bentuknya, termasuk kekerasan seksual terhadap anak jalanan perempuan atau lelaki, dihujamkan juga oleh pelaku dari kalangan luar komunitas anak jalanan dan masyarakat umum.

Anak jalanan, sebagaimana dinyatakan oleh Winarso, aktivis senior lembaga yang mencakup keberadaan anak jalanan, memang hidup di kawasan yang secara esensial sangat kejam. “Apa yang menimpa mereka, atau sekurang-kurangnya masalah mereka, sangat kurang mendapat perhatian,” ujar Winarso. Selama ini, menurut Ketua Harian Yayasan Setara Semarang itu, orang sibuk berbicara mengenai perkiraan berapa jumlah mereka sebenarnya. “Mestinya berapapun jumlahnya, yang lebih harus diutamakan adalah upaya konkret untuk membantu mereka dari libatan masalah atau menumpas penyebab yang memungkinkan timbulnya generasi anak jalanan,” ujarnya menambahkan.

Melalui investigasi di lapangan dengan lokasi Semarang, TAJAM menemukan cukup banyak karakteristik anak jalanan. Pemilihan karakteristik itu secara sederhana dipilah-pilah dan diidentifikasikan melalui bagaimana atau cara apa yang mereka tempuh dalam rangka survive di tengah gebalau kehidupan yang memang luar biasa keras dan terkesan potensial mematikan itu.

Menarik untuk dicermati, bahwa ngamen merupakan “profesi” favorit yang mereka pilih sebagai sumber penghasilan. Kelompok ini, berdasar pendataan TAJAM  di lapangan, jumlahnya menduduki ranking terbesar. Mencapai tiga puluh persen dari total populasi anak jalanan di Semarang. Selebihnya tujuh puluh persen lainnya, menyebar dalam berbagai “profesi”. Mulai dari penjaja koran dan majalah, mayeng, ngoyen, memulung, semir sepatu hingga mencopet dan beragam tindak kriminal lain serta, jangan kaget, melacur!

Mayeng, sebutan lokal untuk pengumpul ceceran palawija di pasar-pasar guna menjualnya kembali ke bakul cilikan, umumnya dilakukan oleh anak jalanan perempuan. Kendati demikian bukan berarti tidak ada pelaku lelaki di sekitar sini. Sedangkan ngoyen, yang tak lain adalah pengumpul sisa makanan, biasanya dilakukan dalam keadaan darurat untuk memenuhi kebutuhan perut saat memang betul-betul tidak punya uang.

Apapun yang mereka kerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup praktis, tetap saja anak jalanan dihadapkan pada problem besar berkait dengan cukup banyak hal. Untuk soal MCK (mandi cuci kakus) misalnya, meski dapat dilakukan di fasilitas umum untuk itu tetap toh tetap saja mereka dibayang-bayangi ancaman kesehatan. Belum lagi fakta bahwa sebagian besar diantara mereka bukan atau malah memang menolak untuk menjadi penghuni rumah singgah. Di Semarang, sebagaimana dinyatakan Winarso, soal rumah singgah ini betul-betul masih kurang. “Jumlahnya kurang dari lima buah,” katanya. Padahal idealnya dibutuhkan sekurang-kurangnya tujuh rumah singgah di seluruh Semarang. “Jumlah rumah singgah yang ideal mestinya dihuni oleh tidak lebih dari lima belas anak,” ungkap Kuntarto, aktivis. “Jumlah yang ada tidak memadai jika dibanding dengan populasi anak jalanan di Semarang dewasa ini,” katanya.

Mereka yang luput dari kemungkinan mendapat ruang di rumah singgah ataupun memang menolak untuk “dirumah singgahkan”, umumnya merupakan anak jalanan yang selain sudah terlanjur menggelandang selama lebih tiga tahun juga memiliki komunitas yang kuat. “Tetapi, betapapun sangat solidnya anggota komunitas itu terhadap sesamanya, tetap saja mereka yang tidak berrumah singgah itu rentan terhadap tindak kekerasan dan aniaya,” kata Kuntarto.

Kelompok ini, dalam prosentase lebih tinggi, secara harfiah betul-betul hidup di jalanan secara total. Termasuk di dalam kelompok ini adalah anak jalanan yang survive dengan cara melacurkan diri, atau dilacurkan, dan sebagian lain “dekat” dengan dunia kejahatan.

Sebenarnya, macam bagaimanapun “kerusakan” yang terlanjur menggerus mereka. Juga tak bisa pula menganggap keberadaan mereka berada di luar tanggung jawab, atau sekurang-kurangnya simpati dan perhatian, masyarakat dalam konteks menyeluruh! Jadi memang harus ada kita lakukan untuk mengantar mereka “menjadi lebih normal” secara normatif umum.

TIMUR SINAR SUPRABANA-b

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *