BISNIS INDONESIA, Minggu ke IV, Mei 1997

Anak jalanan tetap butuh perhatian dari orang dewasa agar membuat mereka bisa berperilaku lebih baik, meski predikat anak jalanan disandangnya.

Rumah berukuran 12 m x 9 m tidak dipenuhi perabot rumah tangga layaknya rumah sehat masyarakat kebanyakan, bahkan yang menempel di dinding rumah hanya hasil kerajinan tangan penghuninya.

“Sengaja ditempel berbagai hasil kerajinan anak-anak agar mereka merasa lebih dihargai dan selalu ingat mampu berbuat lebih baik,” kata Winarso, pimpinan anak-anak penghuni rumah di Jl. Lemah Gempal I No. 43 Pasar Bulu Semarang.

Laki-laki muda gondrong dan berjanggut itu selalu tampil bersahaja, bahkan tanpa beban dan ramah menyapa siapa saja. Kesan tersebut lekat pada diri Mas Win – panggilan akrab anak-anak Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PJAS) pada Winarso – .

Kelompok anak jalanan yang dipimpinnya itu didirikan sejak Oktober 1993 dan menampung puluhan anak di ibukota provinsi Jateng dalam rumah kecil yang berdempetan dengan rumah penduduk di sebuah gang sempit.

Ada Anang, Irwan, Daniel, Maryanto dan puluhan anak jalanan belasan tahun lainnya makan, tidur, dan berkumpul bersama dalam rumah petak di dekat pasar tradisional.

“Tidak semua anak jalanan pernah bersekolah, jadi pelajaran berhitung diberikan pula pada mereka, meski dengan cara sederhana dan apa adanya,” ungkap Winarso.

Pendekatan lelaki yang satu ini memang cukup unik, karena berhubungan dengan anak jalanan tidak harus di dalam rumah penampungan itu, tapi bisa di jalan-jalan, trotoar, emper toko, los-los pasar dan juga halte bus.

Untuk belajar pada malam hari, anak-anak jalanan yang tergabung dalam PAJS itu cukup beralaskan tikar atau ubin dingin dengan bertelanjang dada karena panasnya udara Semarang.

Kelas yang sekaligus ruang tamu serta ruang tidur mereka terbuka tanpa dinding, tanpa bangku, tanpa buku pelajaran, bahkan tanpa baju seragam sekolah dipelajari berbagai ketrampilan.

Anak-anak tersebut dibentuk untuk bisa memanfaatkan berbagai benda di sekitarnya, mulai dari bekas puntung rokok, kardus bekas dan juga pembungkus nasi habis dimakan menjadi media pendidikan.

“Yang penting, pendamping anak-anak dalam belajar harus bisa menjadi pendengar berbagai keluhan, umpatan serta masalah-masalah pribadi,” jelasnya.

Sikap pendamping bagi anak-anak jalanan di PAJS itu mengacu pada hubungan yang harmonis seperti seorang kakak kepada adiknya atau antar sahabat.

Hubungan yang cukup erat terhadap anak jalanan memang lebih mudah dilakukan dengan anak laki-laki, tapi tidak dengan anak perempuan. Mengingat anak perempuan lebih kompleks permasalahannya.

Panggil saja Yanti, 15, satu anak jalanan yang masih tinggal dengan orang tuanya mengaku pernah melakukan aborsi sebanyak empat kali dan seringkali berhubungan seks bebas dengan sejumlah lelaki.

Kaum perempuan muda usia itu terpaksa tidur di los-los psar atau emperan toko yang sangat rawan tindak kejahatan serta kekerasan seks.

“Saya tidak punya tempat tinggal, jadi terpaksa mencari los pasar untuk tempat berteduh,” keluh Susi, satu orang ciblek asal Tegal yang mengaku tinggal di pasar.

Rumah-rumah penampungan yang dijadikan tempat mangkal serta lembaga yang memberi perhatian terhadap anak-anak jalanan memang tidak hanya ada di kota Semarang, tapi juga ada di beberapa kota dengan pelopor Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Di antaranya, Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan di Medan, Institut Sosial Jakarta, Mitra Masyarakat Kota di Jakarta, Yayasan Anak Merdeka di Bandung, L’Krapin di Bandung, Yayasan Lembaga Pengkajian Sosial Humana di Yogyakarta serta Yayasan Anak Alam di Malang.

Rumah penampungan yang dimiliki sejumlah yayasan atau sekelompok masyarakat itu menjadi harapan anak-anak jalanan, karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal yang berusia memberi kehangatan serta kedamaian.

“Kami lebih suka tinggal di tempat penampungan daripada di rumah, bisa bebas dan bertukar cerita dengan teman senasib sepenanggungan,” aku Maryanto, satu anak jalanan di Semarang.

Rumah yang nyaman dan hangat memang menjadi impian anak jalanan, sekaligus harapan untuk diwujudkan jika mereka hidup berkeluarga dengan istri, suami serta anak-anaknya.

R. Fitriana