SUARA MERDEKA, Jum’at, 6 Agustus 1999 (Halaman III)  

SEMARANG – Anak jalanan perempuan sangat rentan terhadap gangguan dan teror di lingkungannya. Diperkirakan 60% anak jalanan perempuan pernah mengalami gangguan.

“Masalah anak memang belum banyak mendapat perhatian. Kalau anak jalanan sudah banyak yang memikirkan, tetapi bagaimana dengan para pembantu rumah tangga yang kebanyakan juga masih anak-anak. Apakah mereka sudah mendapat perhatian dan perlindungan?” ujar perwakilan Unicef Jateng Widodo Suhartoyo dalam Lokakarya “Peranan Wartawan dalam Implementasi Hak Anak” yang diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng di IKIP        Jl.  Kelud belum lama ini.

Karena itu LPA mengharapkan media massa turut melakukan pemantauan pelaksanaan hak-hak anak dari tingkat bawah sampai ke tingkat sistem yang kurang tepat.

Masih banyaknya anak perempuan jalanan yang kurang mendapat perhatian juga dikemukakan Winarso, Ketua Yayasan Setara. Sampai saat ini, katanya, jumlah anak jalanan perempuan di Semarang berdasar penelitian dan pendataan sekitar 20-30% dari populasi anak jalanan.

“Sejak krisis ekonomi, jumlah anak yang mencari makan di jalan menjadi berlipat ganda. Mereka itu sekadar menggelandang. Ada juga anak-anak yang mempunyai keluarga dan rumah, justru mereka sengaja mencari makan di jalan. Bahkan dari penelitian kami, 46% anak jalanan perempuan di Semarang dilacurkan,” katanya.

Anak perempuan yang dilacurkan itu diperkirakan mencapai 30% dari pekerja seks yang ada di Indonesia. Mereka sangat rentan terhadap penyakit menular lewat hubungan seks, misalnya HIV, virus penyebab AIDS. (D9-63K).