Anak Jalanan, Usia 14 Tahun Empat Kali Aborsi (Suara Merdeka, 1997)

SUARA MERDEKA, 15 Mei 1997

PENGANTAR REDAKSI : Anak jalanan tampaknya memberikan warna khas bagi perkotaan. Banyak yang menolak kehadiran mereka, karena bocah-bocah itu dianggap sebagai sisi kelam sebuah kota, perlu disembunyikan. Namun, akhirnya mereka justru tumbuh dalam situasi marginal. Dan tampaknya, sikap itu bukan sebuah penyelesaian yang manusiawi. Wartawan Suara Merdeka Gunawan Permadi, Ganug Nugroho Adi, dan Adi Prinantyo menurunkan tulisan seputar anak jalanan berikut ini.

________________________________________

SEORANG gadis kecil, mungkin berusia 12 atau 14 tahun, berlari melintas di deretan mobil yang berhenti di sekitar traffic light. Kencrung di tangannya segera disiapkan, lantas di atas panas jalanan, di antara mobil-mobil yang berhenti, dia mulai bernyanyi.  Tidak merdu memang, bahkan mirip gumaman.

Dia pun hampir tak pernah menuntaskan lagu yang dia nyanyikan. Sebab, orang di dalam mobil sudah keburu mengulurkan recehan. Tentu saja jika dia beruntung. Sebab, tidak sedikit dari pengemudi mobil yang buru-buru mengusirnya begitu melihat dia berdiri di depan pintu mobil.  Menyedihkan. Namun baginya, juga bagi anak senasib yang lain, itulah salah satu cara halal untuk mendapat uang.

Siapa pun bocah itu, bisa jadi merupakan contoh kasus kultur jalanan yang ironis, jika berhadapan dengan jutaan anak sebayanya hidup dalam kehangatan keluarga. Betapa tidak, siang hari bocah-bocah itu harus melakukan apa yang sebenarnya bukan kehendak mereka agar bisa makan; menjadi kuli barang belanjaan, ngamen di lampu bangjo, atau hoyen (istilah mereka untuk mengais sisa makanan-Red).

Sepenggal perjuangan untuk mendapatkan sebungkus nasi yang harus ditempuh dengan menghabiskan hampir seluruh hidup di jalan. Malamnya, mereka harus cukup puas tidur di los pasar, yang tentu saja menyimpan sekian kerawanan bagi bocah seusia mereka.

Fenomena anak jalanan memang bisa ditemukan di perkotaan mana saja. Dan berbeda dari komunitas lain, kelompok itu nyaris tak pernah mendapat perhatian penuh dari lingkungan sekitar.

Saat Yayasan Duta Awam (YDA) memublikasikan hasil penelitian soal anak jalanan belum lama ini, respons yang muncul tak sereaktif ketika berbagai penelitian tentang “komunitas lain” mengemuka di media massa.

“Ada indikasi betapa komunitas anak jalanan masih berada di luar ranah kesadaran masyarakat. Coba saja kalau itu penelitian tentang anak sekolah, pasti berbagai pihak sudah geger,” kata Dr dr Wimpie Pangkahila, seksolog dari Universitas Udayana, Bali.

Kehidupan anak jalanan memang sebuah kenyataan sosial yang rumit, lebih rumit daripada fenomena pekerja anak-anak yang juga tidak kurang memprihatinkan. Perilaku serta kematangan emosional anak jalanan sering terlihat jauh menyimpang dibandingkan dengan anak sebaya mereka yang tinggal di rumah bersama keluarga.

Pergaulan seks bebas, minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan, perbuatan kriminal seperti mencuri, menodong, perilaku-perilaku yang menjurus agresif dan impulsif, adalah bentuk pola kehidupan yang kemudian menjadi erat bersinggungan dengan keseharian mereka.

Konflik dan eksploitasi yang berlapis terhadap mereka pun tidak terelakkan. Pada anak jalanan yang masih tinggal dengan orangtua, bentuk konflik dan eksploitasinya pun sudah sangat beragam. Dari yang halus dengan mendorong anak membantu mencari nafkah keluarga, penyiksaan fisik, sampai pelecehan seksual pada anak sendiri.

Jenis Pekerjaan Anak Jalanan (%)

 

  1. Pengamen                                         41,1
  2. Tukang Semir                                   22,2
  3. Penjual koran                                  15,6
  4. Ciblek                                                   7,8
  5. Apa saja                                              2,2
  6. Penjual koran + penyemir               2,2
  7. Pengamen + penjual koran              2,2
  8. Pengamen + pengemis                      2,2
  9. Pengamen + penyemir                      1,1
  10. Pelayan toko                                      1,1
  11. Pelayan restoran                               1,1
  12. Mayeng                                                1,1

 

Jumlah                                                    100,0

Pasangan dalam Berhubungan Seks (%)

 

No   Jenis Kelamin           Laki-laki      Perempuan

  1. Laki-laki                        5,6                 92,3
  2. Perempuan                 61,1                   7,7
  3. Lelaki/Perempuan    16,7                        –
  4. Tidak Jawab               16,7                        –

 

 

Sumber : Yayasan Duta Awam, 1997

Di jalan, konflik, eksploitasi dan penindasan terus membayangi mereka. Pada tataran awal, biasanya konflik terjadi antarsesama mereka, baik yang sebaya maupun lebih tua. Konflik pada tingkat itu biasanya dalam hal perebutan rezeki.

Sering konflik itu berkembang menjadi bentrokan fisik yang melibatkan teman-teman setiap pihak yang bertikai. Kalau sudah begitu, biasanya mau tidak mau mereka harus berhadapan dengan preman yang menguasai daerah tersebut, yang dengan berbagai cara bisa mengeksploitasi mereka.

Budaya Kemiskinan

Anak jalanan memang tidak bisa dilepaskan dari faktor budaya kemiskinan. Oscar Lewis dalam The Culture of Poverty mengungkapkan, peranan budaya kemiskinan sangat besar terhadap pemberian warna dan pola perilaku serta pola adaptasi pada kehidupan bermasyarakat.

Ciri-ciri kebudayaan kemiskinan pada tingkat keluarga antara lain masa kanak-kanak yang singkat dan kurang pengasuhan dari orangtua, tingginya kejadian perpisahan antara ibu dan anak-anak, dan kelonggaran nilai-nilai perkawinan.

Pada tingkat individu berciri kuatnya perasaan tak berharga, rendah diri, dan kecenderungan dependensi, lemahnya struktur pribadi dan sering terdapat kekacauan identitas serta berbagai gangguan jiwa, kurang daya kendali diri, kurang sabar, cepat pasrah, dan berorientasi pada kekinian.

Penelitian Duta Awam menunjukkan, budaya kemiskinan ternyata bukan lagi satu faktor tunggal  yang mendorong anak-anak hidup di jalan. Faktor lain yang tak kalah kuat adalah kondisi psikologis keluarga.

Terungkap, hampir 80 persen responden memilih jalanan sebagai “rumah” mereka karena keluarga tidak bisa lagi berfungsi sebagai pengayoman. Meski jika diteliti lebih lanjut, faktor ketidakharmonisan keluarga itu terjadi karena dampak kuat faktor kemiskinan.

Apa yang terjadi pada anak jalanan memang dekat dengan budaya kemiskinan struktural yang turun-temurun, sehingga sulit bagi mereka untuk keluar dari budaya itu. Terlihat pula bahwa anak-anak itu memang hanya memiliki masa kecil yang singkat.

Pada usia yang sangat muda (tujuh tahun), ada seorang anal yang sudah harus membantu orang tua mencari nafkah sebagai peminta-minta. Yang lebih menyedihkan terjadi pada seorang anak yang harus keluar dari rumah pada saat belum genap berumur sembilan tahun, dan sampai sekarang telah menjalani kekerasan hidup di jalanan selama lima tahun.

Alasan dia keluar rumah? Bapaknya berselingkuh dengan perempuan lain. Ketika sang ibu tahu dan marah, si bapak malah lebih marah lagi dan pergi meninggalkan rumah, sambil merusak beberapa bagian bangunan rumah mereka.

Tidak tahan menghadapi cemooh tetangga tentang kondisi keluarganya, ditambah hanya dalam waktu singkat sejak bapaknya minggat dari rumah ibunya kawin lagi, anak kelas IV SD itu ikut-ikutan lari dari rumah. Sekarang, pada usia 14 tahun, dia telah merasakan asam garam menjadi anak jalanan.

Beberapa pengalaman seperti dipaksa melakukan hubungan seksual pun pernah dia alami, dari yang terjadi di Stasiun Jatinegara sampai di kolong salah satu jembatan besar di Jakarta.

Dari 101 anak yang terlibat dalam penelitian itu, 92,1 persen masih dapat mengingat nama orangtua mereka, minimal nama ayah atau ibu. Namun, cukup banyak pula yang tidak tahu nama lengkap orang tuanya. Mereka hanya mengingat Si Sih atau Mbok Rah sebagai nama ibu mereka.

Hanya 7,9 yang tidak dapat menyebutkan nama orang tuanya, ada yang lupa namun ada pula yang memang tidak tahu, karena sejak bayi sudah ditinggal orang tuanya.

Empat puluh delapan persen anak-anak itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Pontianak, Banjarmasin, Surabaya, Palembang, Lampung, Bali, Blora dan Padang. Sisanya 52 persen, berasal dari berbagai lokasi di Semarang.

Dari penelitian itu juga terungkap, alasan mereka keluar dari rumah terbanyak adalah karena faktor orang tua di rumah yang selalu ribut (13,7 persen), 12,6 persen anak keluar rumah karena ingin cari pengalaman, dan 11,6 persen karena bosan di rumah, 11,6 persen lain karena kedua alasan itu.

Yang perlu diperhatikan faktor ingin cari pengalaman dan bosan di rumah, setelah diteliti lebih jauh, ternyata tetap berhubungan dengan masalah di rumah yang membuat anak tidak betah. Implikasinya, mereka merasa kondisi di jalanan lebih baik.

Faktor penyebab lain adalah diusir 9,5 persen, 7,4 persen harus mencari tambahan biaya hidup, 5,3 persen hanya mengatakan karena ada masalah keluarga, 4,2 persen karena pengaruh teman dan ingin mandiri, 3,2 persen utuk biaya sekolah. Sisanya, karena takut pulang, mengalami pelecehan seksual di rumah, tidak ada yang merawat di rumah, ada masalah dengan teman dan gabungan beberapa alasan tersebut.

Perilaku Seksual

Terungkap pula perilaku seksual anak jalanan yang memprihatinkan. Dalam penelitian itu, 31 persen anak jalanan sudah pernah melakukan hubungan seksual. Dan tak perlu kaget jika seorang gadis berusia 14 tahun pernah hamil dan aborsi empat kali.

Meskipun demikian, pengalaman itu rupanya dia anggap normal saja. “Saya baru saja dilamar teman. Mau kawin,” kata gadis itu datar.

Di kawasan Lawangsewu, Tugumuda, bisa jadi tersimpan cerita lebih bikin miris. Beberapa anak jalanan di sana dengan enteng dan tanpa beban mengisahkan pengalaman seks yagn tanpa kuasa harus mereka alami.

Masyarakat menyebut bocah-bocah perempuan itu sebagai ciblek, sebuah istilah yang menurut logika fenomenologi, tampak jelas sebagai sebuah upaya menghindarkan diri dari tanggung jawab kapitalisme urban telah ikut membentuk kelompok ini.

Yang cukup mengejutkan, ternyata persentase anak perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual lebih besar daripada anak laki-laki. Lebih dari separo anak perempuan yang menjadi responden (56,5 persen) pernah melakukan hubungan seksual. Sedangkan anak laki-laki yang pernah melakukan “hanya” 23 persen.

Dalam hal keberanian melakukan hubungan seksual, anak laki-laki jauh lebih berani. Tercata 22,2 persen anak laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual sudah mulai melakukannya pada usia sembilan tahun. Sedangkan pada anak perempuan, usia pertama mereka melakukan hubungan seksual adalah 13 tahun.

Jumlah hubungan seksual mereka per bulan boleh dibilang cukup tinggi. Ada 12,9 persen anak yang biasa melakukan hubungan seksual lebih dari delapan kali dalam sebulan. Yang jumlah hubungan seksualnya dalam sebulan tidak pasti 48,4 persen. Selebihnya, 6,5 persen melakukan sekali sebulan, 16,2 persen 2-3 kali, 3,2 persen 4-5 kali, dan 3,2 persen 6-7 kali.

Hal lain yang cukup penting diperhatikan adalah pasangan dalam melakukan hubungan seksual: 71 persen anak-anak ternyata melakukan hubungan seksual tidak dengan pasangan tetap. Hanya 19,4 persen yang melakukan dengan pasangan tetap. Sisanya, 9,7 persen tidak menjawab.

Jenis kelamin pasangan dalam melakukan hubungan seksual juga perlu mendapat perhatian. Terungkap ada beberapa anak yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis, ada pula dengan jenis kelamin apa saja, menurut istilah anak jalanan orang yang seperti itu disebut AC/DC (lihat tabel).

Jawaban anak-anak mengenai usia pasangan mereka juga patut diperhatikan. Separo dari usia pasangan anak laki-laki ternyata lebih tua daripada mereka. Sedangkan anak perempuan 84,6 persen mengatakan usia pasangan mereka tidak pasti, kadang lebih muda kadang sebaya, dan kadang lebih tua.

Pada anak laki-laki, usia pasangan lebih tua bisa terjadi karena banyak di antara mereka yang berhubungan dengan pelacur atau wanita nakal yang lain. Sudah bukan rahasia lagi, banyak perempuan jenis itu suka berhubungan dengan anak laki-laki di bawah umur.

Biasanya setelah “dipakai” oleh pelacur, anak-anak itu mencari lagi, sampai akhirnya kegiatan seksual menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi.

Pada anak perempuan, karena dipaksa, mereka sering harus bersedia melayani siapa saja, anak yang lebih besar atau lebih tua.

Pasangan anak jalanan dalam berhubungan seksual yang terbanyak adalah sembarang orang (29,0 persen). Diikuti oleh pacar, teman biasa, pelacur, om-om dan warior (sebutan untuk perempuan yang bisa diajak berhubungan seksual tanpa dibayar).

Selain itu, anak jalanan juga sering berhubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan. Hari ini dengan pacar, besok dengan om-om, besoknya lagi dengan teman biasa.

Satu hal yang perlu dicatat, hanya sedikit anak jalanan yang masih sekolah dan sudah melakukan hubungan seksual, yaitu hanya dua orang (6,9 persen). Perbandingannya dengan anak yang tidak sekolah adalah 1 : 8. Artinya sampai saat ini, sekolah ternyata masih dapat diandalkan sebagai lembaga pendidik yang bermanfaat bagi anak-anak.

Membaca berbagai hal yang berhubungan dengan perilaku seksual anak jalanan memang membuat hati miris. Lihatlah, 51,6 persen anak jalanan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, pernah dipaksa untuk melakukan hal tersebut. Dari anak yang pernah dipaksa, 37,5 persen mendapat upah, 43,8 persen tidak mendapat upah.

“Bahagia” Menikmati

Lebih merepotkan lagi, anak-anak itu ternyata mengaku “bahagia” dengan apa yang mereka lakukan dan alami.

Coba simak, 84,4 persen anak jalanan mengatakan senang dengan pekerjaan yang mereka jalani sekarang. Sisanya 14,6 persen, tidak senang dengan berbagai alasan seperti merasa rendah karena sering dipandang hina oleh orang-orang sekeliling, merasa malu jika harus melakukan pekerjaan seperti itu terus, ada pula yang takut akan bahaya atau risiko pekerjaan.

Seorang ciblek ketika ditanya kenapa menyenangi pekerjaan yang sekarang, menjawab, “Saya senang pekerjaan ini karena bisa seperti orang kaya, naik turun mobil, dan bisa makan makanan yang dimakan orang kaya, seperti spaghetti dan sebagai dan seterusnya….”

Dahi kita pun makin berkerut. Sudah begitu jauhkah langkah mereka?

Anak-anak jalanan lain ketika diberi pertanyaan serupa menjawab senang melakukan pekerjaan yang sekarang karena tidak ada yang mengatur, bebas, dan mendapat uang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Cukup banyak anak jalanan yang menyatakan senang karena bisa memegang uang setiap hari, tidak seperti ketika belum bekerja.

Rupanya, kultur jalanan telah mengaburkan pandangan terhadap masa depan dan persepsi citra positif eksistensi diri. Masalah ini menjadi tantangan tersendiri bagi setiap terapis yang berkeinginan mengembalikan anak-anak itu ke dalam kultur keluarga yang sehat (13b).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *