MINGGU PAGI, Edisi No. 17 TH 52, Minggu 1 September 1999  

Tanpa disadari, jumlah anak-anak dan remaja yang menjadi korban kekerasan seksual atau tindakan perkosaan ternyata cukup tinggi. Seiring dengan kondisi tersebut, jumlah anak-anak yang dilacurkan pun semakin meningkat. Bahkan yang mencengangkan, rata-rata dari mereka, terjun dan berasyik masyuk dengan seksualitas, karena keputusasaan akibat telah mengalami kekerasan seksual.

“Saya sudah terlanjur tidak perawan dan sudah pergi dari rumah maka saya terpaksa melakukannya (terlibat dalam pelacuran) untuk mendapatkan uang,” ujar SM, remaja putri berusia 16 tahun.

Alasan yang sama juga dikemukakan dua rekan lainnya, PE (16) dan Sv (14). Ketiganya adalah remaja putri yang terjun di jalanan dan bisa sewaktu-waktu ditemui.

Menurut aktivis Serikat Anak Merdeka (Samin) Yogya, Odi Shalahudin, posisi anak-anak memang sangat rentan dari ancaman kekerasan seksual. Apa yang dikatakan Odi Shalahuddin bukan sekadar gertakan. Karena selama tiga tahun melakukan pendampingan/advokasi – bersama para aktivis Setara – terhadap anak jalanan di wilayah Semarang, ia memperoleh data yang cukup membuat bulu kuduk para orangtua berdiri. Karena bisa dikatakan, kejahatan seksual itu telah begitu dekat dengan dunia remaja dan anak-anak. “Mereka adalah anak-anak yang dilacurkan atau child prostitutes. Dalam arti, mereka tidak memiliki kemampuan untuk memilih prostitusi sebagai profesi. Dengan begitu posisi anak adalah korban, bukan pelaku,” tegas Odi.

Lebih jauh Odi mengatakan, bahwa dari hasil yang diperoleh di lapangan, usia child prostitutes itu cukup beragam, yaitu antara 11 tahun hingga 16 tahun. “Mayoritas anak-anak dan remaja itu bergaul dengan dunia seksual setelah mereka menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan orang dewasa. Pengakuan itu banyak kami peroleh dari anak-anak perempuan jalanan,” ujar Odi.

Sementara menurut Pengurus Harian Yayasan Setara Semarang, Hening Budiyawati, persentase anak jalanan di Semarang mengalami kenaikan sejak pertengahan 1997 — terutama saat muncul krisis moneter.

Di sisi lain, VCD porno juga memiliki andil untuk merangsang anak-anak dan remaja berfantasi seksual sehingga kemudian mempraktikannya. Hal tersebut dikemukakan Kadit Serse Polda DIY Letkol Pol Drs. Yotje Mende, “Sedikit banyak maraknya peredaran VCD porno juga berpengaruh. Karena sebagian dari pelaku tindak asusila itu mengaku banyak menonton VCD porno,” jelas Letkol Yotje.

Setidaknya, kekerasan seksual atau perkosaan terhadap anak-anak yang terjadi di Tirtomartani, Kalasan Sleman beberapa waktu lalu juga merupakan pelampiasan fantasi seksual setelah menonton VCD porno. “Saya sering lihat VCD porno di rental, lalu saya praktikkan,”ujar remaja usia 17 tahun yang akrab dipanggil Bagong.

SAMPAI saat ini memang belum ada angka pasti mengenai jumlah pekerja seks komersial  (PSK) di Indonesia. Begitu pula dengan jumlah anak-anak yang dilacurkan. Koordinator Eksekutif Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), Mohammad Farid, memperkirakan jumlah anak yang dilacurkan baik laki-laki maupun perempuan sebanyak 30 persen dari total PSK. Perkiraan ini dipaparkan dalam makalah yang disampaikannya pada seminar ‘Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan’, di Semarang, 5 Agustus 1999.

Lola Wagner dan Danny Irawan Yatim dalam buku Seksualitas di Pulau Batam (1997), menyebutkan bahwa data resmi dari lokasi pelacuran pada tahun 1995 adalah 65.582 orang. Sedangkan yang tidak terdaftar resmi diperkirakan sebanyak 500 ribu orang. Jika perkiraan jumlah anak yang dilacurkan sekitar 30 persen dari angka tersebut, maka jumlah total mereka sekitar 170 ribu orang.

Sulitnya mendapatkan angka pasti berapa jumlah anak yang dilacurkan, tidak terlepas dari sifat sembunyi-sembunyi praktik pelacuran anak. Sifat sembunyi-sembunyi ini disebabkan oleh karena Indonesia menggunakan pendekatan regulasi – pekerja seks dikontrol dan didaftar – yang menyebabkan anak-anak ditolak masuk ke dalam daftar pekerja seks di lokalisasi. Selain regulasi, sifat sembunyi-sembunyi ini juga disebabkan adanya pandangan sosio kultural terahdap dunia pelacuran secara umum.

Menurut Farid, ada dua bentuk eksploitasi seksual terhadap anak, yakni eksploitasi (kekerasan) seksual dan eksploitasi seksual komersial. Eksploitasi seksual terhadap anak, menurut World Congress Against Commercial Sexual Exploitation of Children, memiliki tiga bentuk yaitu prostitusi anak, pornografi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Harus diakui, pelacuran anak sebagai bagian dari pelacuran secara umum, sangat dipengaruhi oleh pandangan tradisional yang bias jender. Selama ini, pelacuran diasumsikan hanya melibatkan orang atau anak perempuan. Pandangan seperti ini telah menutup kemungkinan dimasukannya anak laki-laki ke dalam perhitungan menyangkut perkiraan jumlah anak yang dilacurkan. “Perlu diingatkan bahwa di beberapa wilayah di Indonesia, fenomena pelacuran anak laki-laki secara faktual dan positif telah dilaporkan oleh beberapa pengamat maupun media massa,” kata Farid.

Persoalan pelacuran anak, jika ditinjau dari aspek ekonomi selalu berkaitan dengan masalah penawaran dan permintaan (suply and demand). Menurut Farid, meningkatnya permintaan akan pelacuran anak antara lain dipacu oleh ketakutan terhadap HIV/AIDS. Para petualang seks mencari objek seksual baru yang mereka kira lebih aman dari risiko, yakni anak-anak.

Tentu, kondisi ini tidak bisa kita biarkan begitu saja. Karena anak-anak yang hari ini menjadi korban eksploitasi seksual, kelak jika dewasa sangat berpotensi menjadi pelaku eksploitasi seksual pada anak-anak. (Heroe/Edi).