APA KABARMU ANAK JALANAN SEMARANG

Oleh:  Odi Shalahuddin

 

Kegiatan bersama di seputar Stasiun Poncol (dok. Setara)

Kegiatan bersama di seputar Stasiun Poncol (dok. Setara)

”Secara umum, jumlah anak jalanan di Semarang sudah menurun,” hampir senada para sahabat yang masih akrab dengan para anak jalanan menyatakan demikian.

Penurunan jumlah anak jalanan tampaknya menjadi kecenderungan di berbagai kota (tampaknya di luar Jakarta) yang selama ini disibukkan dengan berbagai upaya untuk mengatasinya. Katakanlah, diantaranya di Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Lampung. Apakah penurunan ini merupakan bukti keberhasilan dari program-program yang dilangsungkan baik oleh NGO dan pemerintah? Semoga saja demikian adanya.

Lantas, kalau ada penurunan jumlah anak jalanan di berbagai kota, mengapa data BPS tahun 2009 menunjukkan jumlah anak jalanan telah mencapai 230,000 anak? Jumlah yang sangat fantastis. Jauh melebihi jumlah anak jalanan yang meningkat pesat pada masa krisis ekonomi di akhir tahun 90-an yang mencapai 400% dan diperkirakan ada 150,000 anak jalanan di Indonesia.

Pertanyaan diatas hampir senada banyak diajukan oleh berbagai aktivis yang bekerja bersama anak jalanan di berbagai kota ketika diriku memposting tulisan di Kompasiana mengenai data tersebut. Jawabanku sederhana saja, ”Itu kan data BPS,”

”Mungkin, di kota-kota besar menurun, lantaran anak jalanan sudah memasuki wilayah-wilayah kota/kabupaten yang sebelumnya tidak pernah ada,” seorang kawan menyampaikan pandangannya ketika kami berdiskusi mengenai hal itu.

Bisa jadi, itu salah satu alasan. Alasan lain, kemungkinan ntentang definisi yang digunakan, yang menyebabkan banyak anak bisa dikategorikan sebagai anak jalanan.

Nah, pada pertemuan dengan para sahabat ini, kami mencoba mengidentifikasikan tempat-tempat mangkal anak jalanan di Semarang. Memang hasilnya menunjukkan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan misalnya pada tahun 2000-an yang diperkirakan mencapai 2,000 anak (Shalahuddin, 2004). Tahun 2006, diperkirakan mencapai 600 anak (Suara Merdeka, 17 Juni 2006). Pada tahun 2007, pemerintah kota berdasarkan data yang dihimpun membuat program yang ditujukan untuk 889 anak jalanan (Kompas, 12 Januari 2007), sedangkan berdasarkan data Yayasan Setara pada tahun yang sama diperkirakan ada 417 anak (Suara Merdeka 16 Oktober 2008). Perkembangan data terakhir, tampaknya belum tersedia.

Hasil identifikasi tempat-tempat mangkal anak jalanan diperkirakan tidak lebih dari 300 anak jalanan. Sedangkan dari jumlah perkiraan tersebut,  anak jalanan perempuan, yang keberadaannya pernah sangat menonjol di Semarang, tercatat tidak lebih dari 50 anak.

Program pemerintah di Semarang yang menyentuh anak jalanan baru mulai dilakukan sekitar tahun 1998, sebagai salah satu dari lima kota yang menjadi pilot proyek yang didukung pendanaannya oleh UNDP. Ini berlanjut dengan program yang dikembangkan ke 12 propinsi di Indonesia atas dukungan dari ADB. Selanjutnya, program mendapat dukungan dari APBN dan APBD propinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang. Pada September 2005, dicanangkan program penanganan para pengemis dan pengamen dengan mengalokasikan dana 1 milyar per tahunnya.

Pada Januari 2006, rencana untuk melengkapi Satpol PP dengan senjata api mendapatkan reaksi keras dari para pedagang kaki lima dan anak jalanan. Mereka khawatir hal ini akan digunakan ketika menggusur atau melakukan rasia terhadap mereka. Terlebih pada masa itu, Satpol PP memang tengah aktif melakukan rasia dan penggusuran (lihat pemberitaan Suara Merdeka pada akhir Januari, setiap hari memuat berbagai reaksi termasuk aksi-aksi penolakan). Pemkot sendiri pada masa itu mulai aktif melakukan kampanye pelarangan pemberian uang kepada para pengemis dan pengamen. Pada Pertengahan tahun 2006, Pemkot menyatakan akan melanjutkan kampanye tersebut dengan membuat Raperda Larangan Beri Uang Pada Anak Jalanan (lihat Suara Merdeka, 16 Juni 2006). Pada akhir tahun 2006, Pemkot mentargetkan akan menjadikan kota Semarang bebas anak jalanan pada tahun 2007. Ini terkait dengan kampanye Semarang Pesona Asia (SPA) yang akan dilangsungkan. Salah satu upaya adalah mencoba mengentaskan 889 anak jalanan melalui program house parent. Anak-anak akan ditempatkan pada keluarga-keluarga yang bersedia mengasuh mereka. (Lihat, misalnya Radar Semarang, 11 Januari 2007). DPRD Kota Semarang meningkatkan alokasi anggaran yang semula 200 juta menjadi 1 milyar (lihat Suara Merdeka, 15 Januari 2007).

Sejak awal tahun 2007, Satpol PP sangat aktif melakukan kampanye larangan pemberian uang kepada anak jalanan dan aktif melakukan razia atau penangkapan-penangkapan. Ini sendiri menimbulkan reaksi dengan tumbuhnya akasi-aksi dari anak jalanan untuk memprotes sikap Satpol PP (lihat misalnya, Kompas, 2 Pebruari 2007). Aksi terus berlanjut hingga beberapa bulan.

Pada tahun 2008, DPRD Kota menyetujui alokasi anggaran meningkat menjadi 2 milyar, dengan rincian 1 milyar dana akan digunakan untuk membangun sebuah panti  atau rumah singgah, dan 1 milyar untuk program. (Suara Merdeka, 23 Maret 2008) Dana ini tidak terserap dengan baik. Pembangunan panti digagalkan dan anggaran untuk penanganan anak jalanan hanya mampu terserap sekitar 200-300 juta. DPRD menganggap Pemerintah kota kurang bagus (Radar Semarang, 16 Oktober 2008).

Kecenderungan yang masih menonjol dalam penanganan anak jalanan di Semarang yang masih berlangsung hingga saat ini adalah tindakan rasia. Padahal pendekatan ini sudah disadari oleh Pemerintah Pusat sebagai intervensi yang tidak akan mampu merubah situasi anak jalanan, bahkan berpotensi terjadinya pelanggaran terhadap hak-hak anak karena adanya kecenderungan penggunaan kekerasan dalam setiap aksi rasia/penangkapan.

Gubernur Jateng, Bibit Waluyo, beberapa hari lalu telah meminta agar pemerintah Kota Semarang segera mencarikan solusi untuk menangani anak jalanan. Ia berharap pada tahun 2013 ibukota Propinsi Jateng ini bisa bebas dari anak jalanan. Artinya tidak ada lagi anak jalanan yang melakukan kegiatan mengemis dan mengamen (Radar Semarang, 3 Maret 2011)

Lantas, bagaimana dengan kabarmu anak jalanan Semarang?

Semarang, 8 Maret 2011

Sumber dari SINI