SUARA MERDEKA, Jum’at, 6 Agustus 1999 (Halaman II)

WAHAI anak jalanan, kenapa kalian bisa hadir, tumbuh dan hidup di jalanan?

Akan banyak jawaban untuk pertanyaan itu. Misalnya karena tak punya rumah, tak ada keluarga. Tapi barangkali banyak yang sebenarnya memiliki keluarga lengkap: bapak, ibu dan saudara. Toh mereka tetap di jalan, bahkan dari waktu ke waktu mereka makin bertambah.

“Saya punya rumah dan orangtua, tapi di rumah saya sering dimarahi dan dipukuli, karena itu saya turun ke jalanan,” ujar Pn (12), anak jalanan perempuan.

Barangkali pengakuan dia hanya salah satu jawaban. Masih banyak jawaban, sekaligus alasan dan faktor penyebab anak-anak turun ke jalan.

Dan jika kehidupan anak jalanan (laki-laki) sangat buruk, kehidupan anak jalanan perempuan lebih buruk. Misalnya eksploitasi seksual, juga perilaku-perilaku jalanan lain seperti “ngedrug” (mengkonsumsi obat).

Mengenai anak jalanan perempuan sebagai korban penyalahgunaan obat bius (drug abuse), Yayasan Setara menyodorkan data 62,50%. Drug yang biasa dikonsumsi adalah pil dan minuman keras. Untuk pil, antara lain adalah nipam, magadon, trihex, BK, dan rohipnol. Sedangkan untuk jenis minuman keras, misalnya ginseng, congyang, dan ciu.

Bagi anak jalanan perempuan, drug memberi pengaruh sangat besar dalam menempatkan mereka sebagai korban. Pelecehan, kekerasan, dan eksploitasi seksual hampir tak bisa dipisahkan sebagai akibat dari kebiasaan itu. Bahkan, jika sampai menimbulkan kecanduan, posisi tawar menjadi berbalik.

“Asal diberi pil, saya bersedia main (berhubungan seks-Red),” ujar Jn (15), anak jalanan perempuan.

Kenyataannya, cewek yang sudah setahun ini hidup di jalanan memang pecandu berat pil. Dan untuk mendapatkan barang yang diinginkan, ia rela melakukan (tepatnya diperlakukan) apa saja, seperti melayani kebutuhan seks.

Bisa Dikerjain

“Anak-anak merasa senang jika melihat dia (Jn-Red) tidak sadar, sebab bisa dikerjain,” kata Rz, juga anak jalanan.

Semua itu dituturkan Hening Budiyawati, aktivis Yayasan Setara, dalam seminar yang digelar oleh yayasan itu bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng dan Unicef Indonesia di Hotel Santika, kemarin.

Pembaca lain adalah Mohammad Farid (Yayasan Samin Yogyakarta), Dr Esmi Warassih (Dekan FH Undip), dan Prof Dra Niswatin Rakub (Ketua LPA Jateng) dengan moderator Drs Darmanto Jatman SU dan Dr Tukiman J Taruna.

Risiko yang harus dialami anak jalanan perempuan tak hanya soal drug. Sebab, mereka juga diperkosa (30,6%). Bahkan, pemerkosaan massal pernah dialami Yt (10) dan Sv (14).

“Ketika saya tinggal di pasar Johar, suatu malam saya diancam oleh orang-orang pasar yang mabuk. Saya dipaksa melayani sembilan laki-laki,”aku Sv.

Dalam seminar ‘Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan’ itu memang belum semua pertanyaan terjawab. Tapi ada kesimpulan yang menentramkan: kalaupun tetap ada di jalanan, berbagai risiko yang bakal menimpa itu harus diredakan. (Ganug Nugroho Adi, 13c).