GATRA, 21 Agustus 1999

Sebuah penelitian membuktikan,remaja jalanan menganut seks bebas. Akibat diperkosa atau keluarga berantakan 

Etty kini lega. Setelah melahirkan bayi lelaki, dua bulan lalu, ia bisa menikmati hubungan seks kembali secara bebas. Dengan siapa pun ia mau. Mulai sopir bajaj, tukang ojek, pengemudi taksi, sampai tukang sayur. “Habis, selama bunting saya nggak bisa mejeng dan ngapa-ngapain, sih,” ucap Etty, asli Jakarta, yang tinggal di rumah tripleks di kawasan Pasar Inpres Senen, Jakarta Pusat.

Perempuan bertumbuh sintal berusia 17 tahun itu adalah salah seorang remaja jalanan haus seks. Pengalaman diperkosa enam orang, pada usia 9 tahun, mengakibatkan Etty menganggap seks bukan hal yang sakral. “Habis enak sih,” katanya kepada Taurusita Nugrani dari GATRA. Ia juga tidak peduli pada bayinya yang kini diasuh tetangganya. Setiap hari, ia beredar di Pasar Inpres Senen, mencari mangsa dengan imbalan mulai Rp 10.000 sampai Rp 50.000. “Duitnya buat nonton, beli pakaian dan bakso,” katanya.

Demikian juga Sri Wahyuni. Remaja putri berusia 16 tahun ini bersedia tidur dengan sesama anak jalanan. Bahkan, cewek yang akrab dipanggil Sri Boneng ini tak khawatir hamil, karena minum pil KB pemberian para kenalannya. “Dulu saya pernah hamil, tapi digugurkan pacar saya,” katanya kepada Mujib Rahman dari GATRA. Sepeninggal ayahnya, lima tahun lalu, Sri tak bisa diurus lagi oleh ibunya. Remaja yang kala itu baru berusia 11 tahun ini meninggalkan tempat kelahirannya, Desa Kalisat, Jember, Jawa Timur, menuju Surabaya dan saban malam mangkal di Stasiun Kereta Api Wonokromo.

Perilaku Etty dan Sri mencerminkan hasil penelitian Yayasan Setara, Semarang yang digelar dalam seminar “Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan,” di Semarang, Kamis dua pekan lalu. Penelitian selama April  hingga Mei lalu itu menyebutkan, 64,26% dari 56 perempuan jalanan yang diteliti pernah berhubungan seksual. Sebanyak 27,8% responden, yang berasal dari kawasan Simpang Lima, Tugu Muda, Terminal Bis Terboyo, dan Stasiun Kereta Api Poncol, Semarang, mengaku melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 14 – 16 tahun. Sedangkan 5,56% di antaranya mengaku tidak perawan sejak berusia di bawah 10 tahun. Bahkan 74,2% di antaranya melakukannya dengan pasangan yang berbeda.

Menurut Winarso, Ketua Harian Yayasan Setara, perilaku seks bebas dianut para remaja yang menjadi korban pemerkosaan. Motifnya berbeda dengan para wanita tuna susila yang melacurkan diri demi uang. Seperti dituturkan seorang responden bernama Juni. “Asal diberi pil, saya bersedia main,” kata Juni, remaja 15 tahun yang sering mangkal di Simpang Lima.

Tapi banyak pula yang menjual diri, sebagaimana dituturkan Sevi, responden yang mangkal di seputar Stasiun Kereta Api Poncol, “Saya telanjur tidak perawan dan meninggalkan rumah. Saya terpaksa melakukan ini demi uang untuk makan,” kata remaja berusia 14 tahun ini. Kini, 200 anak jalanan beredar di Semarang. Separuh di antaranya adalah remaja putri. Alasan utama yang mendorong mereka berada di jalanan : keluarga berantakan, atau mereka tidak diurus keluarganya lagi.

Namun, paparan Yayasan Setara itu dibantah Didid Adinanta. Pembela anak jalanan dari Yogyakarta ini menilai, anak-anak jalanan kini jarang melakukan seks bebas karena tersita oleh kegiatan lain. Kalaupun ada, kata Didid, “Karena terdorong keinginan mendapatkan perhatian orangtuanya.”

Bagaimanapun, prostitusi remaja di Indonesia sulit dibantah. Hal itu makin didorong oleh ekonomi pedesaan yang makin buruk. Buktinya bisa dilihat pada hasil penelitian Yayasan Samin Yogyakarta. Menurut koordinatornya, Mohammad Farid, 60% sampai 70% pelacur anak di Indonesia berasal dari Wonogiri, Pati, dan Rembang (Jawa Tengah); Indramayu (Jawa Barat); serta Banyuwangi (Jawa Timur). Penyebabnya, kata Farid, selain faktor kemiskinan juga banyaknya janda berusia belia.

Praktek pelacuran remaja itu, menurut Farid dan Winarso, makin menjadi-jadi akibat makin banyaknya kehadiran pada germo. Selain menampung mereka, para germo itu menyalurkan ke sejumlah kota lain. “Ada jaringan sindikat yang menyalurkannya dari Semarang ke Batam,” ucap Winarso. Apalagi, banyak yang memanfaatkan remaja sebagai pelacur, karena risiko tertular penyakit kelamin lebih kecil. Jadi, makin runyamlah kehidupan anak-anak jalanan itu.

Joko Syahban