Betapa Abstrak Arti Kata “Pulang” (Suara Merdeka, 1997)

SUARA MERDEKA, 15 Mei 1997

SALAH satu simpulan Yayasan Duta Awam adalah banyak anak jalanan yang ingin meneruskan sekolah, tetapi gagal karena habatan birokrasi. Kesulitan seputar rapor lama hilang atau persaratan teknis lain, sering “menjegal” semangat anak-anak itu untuk memasuki pendidikan formal.

Secara umum, sistem kehidupa kita memang belum memberikan kesempatan anak jalanan yang ingin memasuki dunia sebagaimana masyarakat pada umumnya. Terbukti, ada anak yang sudah masuk sekolah, tetapi dijauhi teman, gara-gara cap anak jalanan yang identik dengan kenakalan dan berbeda dari yang lain. Akibatnya, si anak pun tak tahan dan kembali kejalan.

Apa yang menyebabkan kita sulit menerima kehadiran anak-anak jalanan dan bagaimana solusi masalah itu, berikut perbincangan dengan psikolog Dra Frieda NRH MS.

Apa yang menyebabkan masyarakat sulit menerima anak-anak jalanan?

Yang kita hadapi sekarang adalah situasi how should be (bagaimana seharusnya-red), dan realitas. Yang memprihatinkan, yang seharusnya terjadi itu justru sulit sekali direalisasikan.

Kondisi yang dihadapi anak jalanan itu kan sama dengan yang dialami napi. Semestinya, begitu keluar dari LP – namanya saja Lembaga Pemasyarakatan – mereka bisa diterima masyarakat. Artinya, orang bisa seutuhnya menerima mereka setelah bekerja kembali, berbaur dengan mereka sebagaimana manusia pada umumnya.

Namun, yang semacam itu kan sulit terjadi. Napi itu sudah kadhung dicap, mereka itu pasti, ya seperti itu. Akibatnya mereka yang hidup dan beraktivitas di sekitar napi, memang sulit bisa menerima.

Dan akhirnya, banyak napi yang memang gagal kembali ke masyarakat. Apa yang muncul kemudian, bisa jadi ia justru terlibat dalam kejahatan yang lebih “hebat” dari pada yang dulu. Yang dihadapi anak jalanan juga begitu.

Kenapa muncul kesulitan penerimaan itu?

Karena, ada stigma, ada cap di kalangan masyarakat tentang anak jalanan, yang terlanjur melekat kepala. Cap mereka: anak jalanan pasti begini dan begitu. Orang tidak mau, tanpa reserve, menerima mereka.

Kalaupun harus menerima, pasti masyarakat menerima dengan penuh kewaspadaan. Nah, daripada terus-menerus waspada, lebih baik orang tidak menerima sekalian. Logikanya begitu kan?

Dalam persepsi orang kebanyakan, jalanan itukan anonim, sama dengan alam yang serba keras, alias hutan. Norma mereka pasti berbeda dari norma yang biasa dipercayai masyarakat pada umumnya. Stigma menuntun pemahaman kearah itu. Itulah yang memunculkan atribusi terhadap anak jalanan dan membuat warga sulit menerima mereka.

Tertanam Stigma

Di samping itu, di kalangan anak jalanan telah tertanam stigma mengenai diri mereka, yang mereka rasa berbeda dari orang lain. Mereka merasa tidak pernah mempunyai orang-orang dekat, yang bisa saling menyayangi, sebagaimana yang lain.

Terlepas dari soal itu, bukankah seharusnya masyarakat luas tetap memberikan kesempatan?

Ya, mereka harus diberi kesempatan agar bisa hidup dengan wajar seperti kita. Namun, tentu mereka masih tetap berfikir, “Apakah ini bukan sebuah tindakan yang penuh resiko?”

Sebab, tentu tidak semua anak jalanan bisa langsung menjadi baik, sebagaimana orang biasa. Tergantung pada sejauh mana dan sedalam apa, anak-anak itu hidup dengan realitas dan norma jalanan. Yang sudah terlanjur dalam dan lama, tentu sulit. Sebaliknya, yang baru saja masuk, dengan sendirinya lebih mudah, bukan?

Lalu apakah jalan keluar yang paling memungkinkan untuk “memanusiakan manusia anak jalanan” itu adalah jalur keluarga?

Itulah. Mereka harus dikembalikan ke dalam situasi keluarga. Keluarga disini bukan hanya berarti keluarga secara biologis, ada ayah, ibu, dan anak-anak. Suasana di lingkungan Kali Code, tempat Romo Mangun dan para aktivis sebuah LSM berkiprah adalah situasi keluarga yang dibutuhkan anak-anak jalanan itu.

Intinya, anak-anak itu harus diberi pemahaman dan penghayatan, mengenai pengertian pulang. Kata pulang mempunyai arti yang sangat esensial. Bila mereka hidup di jalanan, tentu sangat tidak akrab dengan kata pulang. Padahal, maknanya sangat dalam.

Kalau ada realitas pulang, maka bisa disimpulkan mereka telah menemukan oase kehidupan. Suasana yang menyejukkan, yakni mereka bisa dikasihi dan berkesempatan mengasihi yang lain, setelah capai bekerja. Ada pula pemecahan masalah, jika suatu ketika mereka menemukan problem.

Jadi, bukan rumah yang menjadi ajang pemerasan mereka, tempat si “ayah” meminta hasil kerja mereka seharian untuk kepentingan sendiri. (13s).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *