Kunjungan Ibu Walikota ke Rumah Singgah PAJS Pebruari 1997 (Dok. Setara)

Kunjungan Ibu Walikota ke Rumah Singgah PAJS Pebruari 1997 (Dok. Setara)

SUARA MERDEKA, 7 Februari 1997, Halaman II 

SEMARANG – Lebaran yang sudah dekat ternyata membersitkan pula kerinduan di hati anak-anak jalanan. Seperti anak-anak lainnya, mereka ingin bisa merayakannya dengan suasana baru. Kerinduan itu agaknya terpenuhi saat Ny Hj Soetrisno Suharto – istri Wali Kota Semarang – berkunjung ke tempat anak-anak biasa berkumpul, di Jl Lemah Gempal I/43, Kamis kemarin.

“Kowe kelas pira, le? (Kamu kelas berapa, Nak?),tanya Bu Tris kepada Daniel.

“Tidak bersekolah,” jawabnya dengan gaya malu-malu.

“Ini baju buat berlebaran. Kalau kebesaran, ya buat kemulan (berselimut – Red)  saja,” kata Bu Trisno seraya menyodorkan pula amplop.

Kowe ngerti iki apa?” tanyanya saat si anak menerima amplop. “Ngerti, niki dhuwit,” jawabnya pendek, disambut tawa riuh sekitar 50 anak-anak.

“Pinter ya, durung dibukak amplope, wis ngerti,” balas Bu Tris tertawa.

PAJS-Kunjungan Ibu Walikota_2

Canda ria itu berlangsung sekitar 30 menit, bersama anak-anak yang sehari-hari mengais rezeki sebagai pengamen jalanan. Pada kesempatan itu Bu Tris menyerahkan bingkisan.

Menurut Winarso, pekerja sosial yang mengumpulkan dan membimbing anak-anak itu, mereka semula terserak di jalanan dengan aktivitas masing-masing. “Saya kemudian tergerak menemani mereka, sedikit demi sedikit sehingga bisa mengontrak di sini,” tuturnya kepada “Bu Wali”.

Dengan menabung sedikit demi sedikit, mereka kemudian mempunyai tempat berkumpul dan berteduh. “Di sini kami belajar berkeluarga, mengelola hidup lebih teratur, serta berusaha mencari masa depan lebih baik. Kami kemudian menciptakan identitas kami sebagai Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS),” kata Winarso, yang memulai karyanya seorang diri beberapa tahun lalu.

“Bu Wali” sempat pula bernyanyi bersama anak-anak jalanan, dan mendengarkan puisi serta lagu ciptaan mereka. Winarso dan anak-anak asuhnya itu rupanya tak mampu menyembunyikan kebahagiaan dengan kunjungan itu. Sebab, selama ini mereka tiap hari harus didera dengan kerasnya lingkungan.

“Bu Wali mau hadir disini, kami senang sekali,” ujar seorang anak, yang karena keterbatasan pendidikannya, hanya mampu melukiskan kegembiraannya dengan ungkapan lugas.

Belajar

Pertemuan itu diprakarsai Yayasan Duta Awam (YDA) Semarang, LSM yang bergerak di bidang lingkungan, sosial dan kesehatan masyarakat. Kedekatan YDA dengan PAJS bermula dari penelitian terhadap anak jalanan yang dilakukannya.

Selain penelitian oleh pekerja lapangan YDA, anak-anak PAJS kemudian diajak untuk menjadi peneliti. “Ada misi edukasi ini. Dengan melibatkan mereka sebagai peneliti, anak-anak ini sekaligus belajar melihat realitas hidup mereka secara lebih luas. Pengalaman ini juga menimbulkan semangat inspirasi untuk belajar tentang banyak hal, di luar kehidupan anak jalanan yang keras,” kata Ketua Yayasan, Gunawa Permadi, di dampingi Direktur Eksekutif, Nila Ardhianie.

Hasil penelitian ini, kata dia, akan dijadikan dasar pemikiran untuk format pendampingan lebih lanjut dengan anak jalanan (ap-50h).