Bocah Penyemir Sepatu: Mereka Datang dari Gerbong Kereta (Suara Merdeka, 1998)

SUARA MERDEKA, Senin, 9 Februari 1998, Halaman III

TIGA bocah kecil dengan tiga kotak semir di tangan, masuk ke sebuah restoran. Masih bocah-bocah yang “kemarin”. Pemilik dan semua pelayan rumah makan itu dapat dipastikan sudah hapal terhadap kehadiran mereka. Usianya mungkin baru sekitar delapan atau 10 tahun. Pakaiannya lusuh, celana pendek dan kaos oblong yang sudah tak ketahuan lagi warna aslinya.

“Semir, Om; semir Pak, lima ratus saja,” katanya kepada setiap orang yang duduk menghadap meja makan.

Seperti kemarin, tawaran mereka hampir tak ada jawaban, kecuali gelengan dari orang-orang berpakaian rapi yang duduk melingkar. Tiga bocah itu tak juga beranjak. Wajah dan mata mereka mulai menawarkan iba.

Tapi tetap saja tawaran mereka tak bersambut. Di luar, matahari pukul 12.00 begitu menyengat. Bocah-bocah tanpa alas kaki itu berjingkat, menahan perih di perut. Seperti kemarin, hari ini tampaknya rezeki belum juga seramah hari-hari lalu.

Di tempat lain, sebuah sudut Simpanglima, pusat keramaian kota Semarang, sebagian pemandangan rutin akan bisa selalu terlihat. Inilah sisi lain dari napas malam kawasan itu: di warung tenda yang berderet-deret seperti jamur, orang-orang melahap menu pesanannya, lalu sejumlah bocah kumal dan kotor menyelinap, menawarkan kotak semir setelah tahu orang-orang yang tengah menyantap makanan itu mengenakan sepatu.

Satu-dua orang, dari puluhan orang yang tengah menikmati menu pesanannya yang harganya ribuan rupiah, melirik lalu menganggukkan kepala saat seorang bocah mengacungkan kotak semir.

Sebagian yang lain akan pura-pura tak melihat, tak ingin berurusan dengan mereka, bocah-bocah kotor dan berdebu itu. Mereka tetap saja menikmati menu pesanannya, seolah ingin mengalihkan pandangannya dari bocah-bocah dekil yang menatap iba berdiri di dekatnya.

Ingin Sekolah

Itulah sepenggal cerita kusam yang tampaknya masih akan terus mengalir, entah sampai kapan. Tenda-tenda di keramaian Simpanglima, rumah makan dan restoran, memang taks elalu didatangi orang-orang berdasi, tapi apa boleh buat, juga bocah-bocah dekil yang mencoba mengais rezeki lewat kotak semir.

Mereka, bocah-bocah itu memang ibarat pipit-pipit di tengah padi yang menguning, yang setiap kali mendekat, penunggu sawah akan mengibaskan tali untuk mengusir mereka.

Kenyataannya, meski untuk sekedar sisa, bocah-bocah selalu tak mendapat tempat untuk berdiri di sekitar pengunjung restoran.

“Kalau disuruh memilih, saya juga ingin bersekolah. Tapi pakai uang siapa, wong untuk makan saja susah sekali,” aku Ahmad (8), seorang dari bocah-bocah itu.

Ia sulung dari tiga bersaudara. Ayah, ibu dan adik-adiknya entah di mana. “Tahun lalu saya minggat. Ayah selalu marah-marah, dan setiap hari selalu minta uang setoran dari mengemis. Saya lari. Saat di Jakarta (tempat tinggal sebelumnya—Red) hidup saya juga nggak lebih baik daripada sekarang kok. Karena itu saya minggat,” kata bocah asal Bojonegoro.

Dari kotak semir yang ia tenteng hampir setiap malam (pukul 18.00 – 04.00), ia bisa memperoleh uang sekitar Rp 3.500 sampai Rp 5.000. Terkadang kalau hari baik ia bisa dapat lebih.

“Sayangnya hari baik nggak pernah datang setiap hari,” tuturnya, enteng.

Tak hanya Ahmad, Prayit (13) pun punya cerita yang hampir sama. Sampai di Semarang satu tahun lalu, setelah menggelandang dari satu kota ke kota lain – karena coba-coba.

“Saya bosan di Bogor (kota sebelumnya), kebetulan ada teman yang mengajak ke sini, ya ikut saja,” tuturnya.

Orang tua tinggal di mana?

“Wah, saya nggak tahu siapa orang tua saya. Habis belum pernah ketemu sih. Tapi menurut kata Mbak Yun, orang tua saya ada di Surabaya,” katanya dengan logat Sunda yang kental.

Mbak Yun yang dimaksud adalah wanita penghibur yang pernah merawat saat Prayit menggelandang di Bogor selama tiga tahun. Bagi Prayit, Semarang pun tak menjanjikan apa-apa.

Seperti kehidupan sebelumnya di Bogor, bocah yang tak pernah mengenal sekolah itu pun mengulangi putaran nasibnya, yakni tempat tinggal yang berpindah-pindah mulai dari gerbong kereta api, bawah jembatan, dan emper toko.

“Tempat paling bersih yang pernah saya tiduri hanya masjid,” ujarnya, datar.

Dan untuk menyambung napas, ia pun bergabung dengan bocah-bocah senasib lainnya, ialah menawarkan jasa menyemir sepatu.

“Untuk menghemat, kota saya bikin sendiri lalu semirnya beli. Biasanya kami beli patungan, lalu dibagi rata. Di Johar harga satu plastik Rp 1.000, lengkap dengan kainnya.”

Harus Begadang

Dengan modal itu, mulailah anak-anak “bekerja”. Hasil yang mereka dapat, per hari memang bervariasi, namun tak pernah lebih dari Rp 10.000. Untuk memperoleh uang sejumlah itu (Rp 10 ribu – Red) pun, mereka harus rela begadang semalam suntuk.

Paling tidak, mulai sekitar pukul 17.00, Prayit dan kawan-kawan harus melintas sepanjang Jalan Pandanaran, lalu pada malamnya mangkal di kawasan Simpanglima untuk menawarkan jasa penyemiran sepatu.

“Capek, dan uangnya hanya sedikit. Tapi lebih baik dapat uang sedikit dengan menyemir sepatu daripada mengemis. Saya nggak mau mengemis. Kalau lagi nggak punya uang lebih baik minta jajan kepada teman,” kata Eggi (7) yang sering menawarkan kotak semir di rumah makan yang ada di sekitar Tugu Muda.

Lain lagi dengan cerita Tole (11), bocah asal Solo. Datang ke Semarang sekitar dua tahun lalu, Tole langsung menggeluti kotak semir sebagai mata pencarian. “Lumayan juga hasilnya, meskipun nggak setiap hari ketemu dengan orang-orang yang baik hati,”katanya.

Orang yang baik hati, dalam pengertian bocah-bocah seperti Tole, tentu mereka yang mengulurkan sepatunya untuk disemir. Syukur-syukur mereka mau memberi uang lebih. Ikhlas dan tidak ikhlas, bagi mereka tentu bukan masalah besar.

“Soal rela atau nggak, bukan masalah bagi saya. Yang penting mereka ngasih duit. Saya juga tahu kok, mereka tidak benar-benar ingin menyemirkan sepatu, tapi karena kasihan.”

Bisa jadi, bagi mereka, keikhlasan para pengguna jasa memang bukan lagi barang mahal. Urusan perut tampaknya lebih mendesak dibandingkan berpikir soal rela atau tak rela.

“Di sini saya hidup sendiri, tanpa orang tua dan saudara. Mereka entah ke mana, mungkin di Jakarta, Yogya, Solo atau di mana saja. Mereka selalu pindah kota, tapi yang tetap tinggal di gerbong kereta, atau bawah jembatan,” tutur Tole.

Lantas kenapa bocah belasan tahun itu sampai terpisah dari orang tua dan saudara? Tampaknya pengalaman yang dimiliki Tole hampir tak berbeda dengan bocah-bocah senasib lainnya.

“Keluarga saya sudah sejak dulu terpisah-pisah. Waktu masih di Solo, kami juga nggak pernah kumpul. Bapak dan ibu jalan sendiri-sendiri jadi pemulung, sedangkan kakak dan adik saya mengemis, lalu saya ngamen. Nggak setiap hari ketemu, kalau pun ketemu juga sama-sama diam.”

Terbiasa dalam suasana tanpa komunikasi seperti itu, ia pun lari ke Semarang. “Saya ingin mandiri,” ujarnya, yakin.

Tak perlu heran, hampir semua bocah penyemir memiliki kisah yang nyaris seragam, yaitu pisah dari orang tuanya dan saudara, menggelandang dari satu kota ke kota lain, hingga akhirnya larut dalam kehidupan kota yang maha keras.

“Kalau saya ditanya di mana saya tinggal, maka akan saya jawab, bahwa semua sudut di kota inilah tempat saya tinggal. Inilah kota tempat saya hidup,” kata beberapa bocah.

Lantas apa harapan-harapan mereka?

“Kami sebenarnya tidak berharap banyak. Tapi kalau orang-orang yang memiliki nasib lebih baik bersikap lebih ramah, rasanya sudah cukup. Pahamilah kehidupan kami, itu saja. karena kami pun sebenarnya tak ingin hidup tidak pasti seperti ini.” (Ganug Nugroho Adi-13h).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *