Kegemaran membuat brownis diperoleh Kayla dari channel youtube. Keasyikannya menonton berulang-ulang tayangan tentang kue dan roti menginspirasi bunda untuk membuat kue bersama. Pada hari itu juga bunda mengajak Kayla ke toko, dan mengenalkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue.

Beberapa kali kami mencoba resep yang ada, ternyata Kayla senang dan menikmatinya. Perasaan saya mengatakan, “Kayla memiliki kemampuan.”  Bila proses ini didampingi secara konsisten, maka ketrampilan membuat kue bisa jadi bekal untuk masa depannya. Bunda  menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kemampuan yang baik  membuat kue, sehingga perlu mendatangkan tutor yang memiliki ketrampilan dan bisa memahami kondisi Kayla. Membuat Brownis bersama tutor membuat kepercayaan diri Kayla tumbuh, kegemarannya dilakukan berulang-ulang.

Pada suatu hari, Bunda bertanya, Kayla setiap hari khan buat brownis, “Terus siapa yang mau makan?”,

“Dibagi-bagi sama orang”, jawab Kayla.

“Lalu kalau bahan-bahan rotinya sudah habis?”

“Ya beli lagi”, jawab Kayla.

“Beli khan pake uang. Terus uangnya dari mana?”

“Nggak tahu”, kata Kayla.

“Bunda punya usul, gimana kalau brownisnya dijual aja, bunda akan bantu ikut menjual brownisnya. Uang hasil jualan brownis bisa buat beli bahan.”

Setelah lima kali pertemuan dengan tutor, Bunda dan Kayla sepakat brownis akan dijual dengan harga 25 ribu. Pesanan brownis bertambah, bunda membantu mengantar brownis ke pelanggan. Kayla pun semakin bersemangat. Satu hari Kayla mengeluh kecapean. Bunda memberi pengertian, “orang berusaha,  ya memang kadang capek, tapi khan hasilnya banyak”.

Setelah menata brownis yang akan diantar, Bunda melanjutkan obrolannya. “Kayla, selama ini bunda membantu mengantarkan pesanan ke pelanggan. Khan tidak selamanya bunda yang antar brownis ke pelanggan karena bunda  juga punya kesibukan. Kayla juga harus mau mengantarkan brownis ke pelanggan donk”. Kayla diam saja, bingung bagaimana caranya. Bunda pun menjelaskan caranya …. Kayla pun sepakat mengantarkan brownis yang sudah berlabel harga ke para pelanggan.

Dari kejauhan bunda menyaksikan Kayla mengetuk pintu rumah pelanggan, permisi… Pintu rumah dibuka, terlihat keraguan Kayla saat memberikan pesanan brownis dan meminta uang Rp 25.000.

“Bagaimana perasaaan Bunda pada saat itu?” salah satu peserta webinar bertanya.

“Saya tidak tega mbak, tapi hal ini harus dilakukan. Inlah awal hidup Kayla, dia harus berjuang untuk hidupnya sendiri karena saya tidak mungkin mendampingi Kayla selamanya. Sebagai orang tua tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya.“ Jawab Bunda

“Kayla sekarang sedang belajar menabung,  sudah punya rekening sendiri. Sedikit demi sedikit uang hasil penjualan brownis dia tabung”.

Namanya Kayla Salma Nugroho, 16 tahun, pelajar SMK kelas X. Putri dari pasangan Nugroho dan Enday. Selama masa pandemi ini Kayla sering di rumah. Bunda dengan setia menemani Kayla melakukan kegemaran membuat kue dan menggambar. Remaja ini tampil wajar seperti teman sebayanya, namun secara perkembangan akademis, Kayla mengalami hambatan secara intelektual atau sering disebut Intelectual Disabilities (ID). Kayla sulit menerima hal baru, maka waktu pertama kali mengenalkan bahan-bahan kue, bunda harus  sering menginformasikan secara jelas dan berulang-ulang kali (Rote Learning).

Tulisan ini hasil dari ngobrol webinar pada Jumat, 17 Juli 2020 dengan tema “Belajar Kecakapan Hidup tentang Konsistensi bersama Kayla Salma Nugroho dan Ibu Enday” dipandu oleh Ibu Noviana, Founder dan Inisiator Komunitas Sahabat Difabel.

Wak Yok