Butuh Ruang bagi “Lalat Pengganggu” (Suara Merdeka, 2003)

Suara Merdeka, 17 Januari 2003

BARANGKALI¬†klise. Tapi hampir selalu ada alasan yang sama dari anak-anak jalanan, kenapa mereka menjadi anak jalanan. Ya, hampir selalu sama; ekonomi, perselisihan dengan orangtua,¬†broken home… Nasib pada akhirnya mengenalkan mereka pada kehidupan yang keras dan brutal.

Lantas, siapa sebenarnya anak jalanan?

Yayasan Setara, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen melakukan pendampingan terhadap mereka pun tak bisa secara lengkap mendefinisikan anak jalanan. Namun, paling tidak lembaga itu mencatat, tidak semua mereka yang berada di jalanan sebagai anak jalanan yang ”sebenarnya”.

”Di Semarang, jumlah mereka mencapai ribuan. Secara sederhana, selama ini anak jalanan memang dipahami dari aktivitas mereka yang mengamen, menyemir sepatu, mengemis di sekitar lampu-lampu bangjo, atau bus kota,” kata Sekretaris Yayasan Setara Hening Budiyawati.

Pemahaman seperti itu tak salah. Hanya saja, sebenarnya tak semua dari anak jalanan itu sepenuhnya menghabiskan hidupnya di jalan. Tak sedikit dari mereka yang memiliki keluarga, dan sebagian dari mereka masih melakukan kontak.

”Untuk anak-anak jalanan dari Gunung Brintik misalnya, sepulang sekolah mereka akan turun ke jalan untuk ngamen, mengelap kaca mobil, atau apa pun, lalu sorenya pulang.”

Tapi di luar mereka yang memiliki keluarga dan tempat tinggal, ada penggolongan lain. Yakni anak jalanan dari keluarga jalanan. Artinya, anak-anak tersebut menjadi anak jalanan karena orang tuanya memang hidup di jalan.

”Ketika anak-anak lahir, mereka tak memiliki pilihan lagi. Mereka tidak berdaya untuk mengubah garis hidup. Mereka sangat rentan.”

Program Pendampingan

Maka, jika gagasan Wali Kota H Sukawi Sutarip terealisasi barangkali bisa menjadi obat penenang. Anak-anak jalanan bisa memperoleh tempat tinggal layak, pendidikan, sehat, dan yang terutama tak lagi rentan.

”Sebaik apa pun anak jalanan, mereka berpeluang menjadi tidak baik karena komunitas dan habitat mereka memungkinkan untuk itu,” tambah Hening.

Selama ini, pendampingan yang dilakukan Yayasan Setara pun memiliki target untuk mengentaskan mereka. ”Kami memiliki dua program, pertama memberikan proteksi dan kedua pelayanan.”

Bahkan, jauh sebelum gagasan wali kota itu, LSM tersebut sudah memberikan pelayanan kesehatan dan beasiswa sekolah selama setahun untuk 100 anak jalanan yang sekolah SD dan SLTP di tiga basis kampung, yakni Gunung Brintik, Tandang, dan Batu (Demak).

Wilayah terakhir menjadi target, karena sebagian besar anak-anak jalanan yang mangkal di sekitar Pasar Johar dan bekas gedung bioskop Admiral berasal dari wilayah itu.

”Program itu sudah berjalan dua tahun. Kami juga memberikan uang saku Rp 25.000/bulan. Untuk kesehatan, Setara memberikan pemeriksaan kesehatan gratis untuk semua anak jalanan, dengan prioritas pada 250 anak.”

Barangkali, program proteksi tak kalah penting. Lewat program itu, yayasan mencoba menarik anak-anak dari jalan, kemudian mengadakan pendidikan, pemulihan psikologi, dan pada akhirnya ke langkah pemulangan mereka pada keluarga.

”Kami memprioritaskan pada anak jalanan perempuan, karena mereka memiliki kerentanan lebih banyak dibanding anak jalanan laki-laki. Terutama untuk menghindarkan mereka dari eksploitasi seksual.”

Begitulah. Anak jalanan agaknya perlu ditangani serius. Bukan semata-mata karena mereka sebagai ”lalat penggangu” bagi keindahan kota dan seterusnya, tapi karena demi kehidupan yang lebih baik bagi mereka.(Ganug Nugroho Adi-45)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *