FORMAT, Edisi 18 TH I, 12 – 26 Agustus 1999

Sebut saja namanya Rosa (15) tinggal di jalanan sudah satu tahun. Ia dikenal sebagai pecandu pil kelas berat. Untuk mendapatkan pil, ia bersedia diajak berhubungan seksual oleh siapa saja. Bila sudah mengkonsumsi pil, Rosa sering kali tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Ia pernah telanjang di kawasan Simpang Lima dan tidur di sembarang tempat. Anak/komunitas jalanan banyak yang senang bila Rosa sudah tidak sadarkan diri. “Karena dia bisa dikerjain,” tutur Zen, anak jalanan laki-laki yang tinggal di komunitas yang sama dengan Rosa. Rosa sendiri kini sedang dalam keadaan hamil.

Inilah sedikit kisah buram yang dialami anak-anak jalanan perempuan, seperti contoh yang dialami Rosa, sebelumnya ia adalah anak baik-baik, namun setelah diperdayai dan diperkosa oleh pacarnya sehingga kehilangan keperawanan dengan cara memberi minuman keras yang dicampur pil, akhirnya ia memutuskan terjun sebagai anak jalanan di kota Semarang.

Demikian diungkapkan Hening Budiyawati, salah seorang Pengurus Harian Yayasan Setara dalam seminar sehari yang mengambil tema,”Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan,” di Hotel Santika Semarang.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Setara ditemukan adanya peningkatan jumlah anak jalanan perempuan yang pernah berhubungan seksual sebesar 64,29%. Umur anak ketika melakukan hubungan seksual yang pertama kali terbanyak di kelompok umur 14 dan 16 tahun sebesar 27,8 %. Yang memprihatinkan dijumpai adanya anak-anak yang melakukan hubungan seks di bawah usia 10 tahun (5,56%).

Dan dari anak yang pernah berhubungan seksual 74,2 % diantaranya melakukan seks dengan berganti-ganti pasangan.

Akibatnya karena seringnya melakukan hubungan seksual di usia yang relatif muda dan cenderung berganti-ganti pasangan, menyebabkan banyak tertular penyakit seksual (PMS = Penyakit Menular Seksual).

Sebagian besar anak jalanan perempuan atau yang sering disebut dengan ‘ciblek’ singkatan dari cilik-cilik betah melek (artinya anak kecil yang sanggup tidak tidur semalam, dan ada interpretasi lain ‘cilik-cilik iso digemblek’, yang artinya anak kecil yang bisa dijadikan simpanan dengan imbalan uang tertentu), itu pernahh tertulari PMS, selain PMS juga ada yang mengalami kehamilan bahkan ada yang pernah hamil dua kali dan melahirkan anaknya dengan selamat.

Yang lebih ditakutkan lagi bila seringnya melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti, anak jalanan perempuan menyimpan potensi besar untuk terinveksi HIV/ AIDS. Meski sampai sekarang belum ditemukan namun wajib kita waspadai.

Keberadaan anak jalanan perempuan di kota Semarang dapat dengan mudah ditemui di daerah sekitar Simpang Lima, Pasar Johar, Pasar Karang Ayu, Tugu Muda, Terminal Terboyo, Stasiun Poncol, Manggala dan prosentasenyapun cenderung meningkat tiap tahunnya dibandingkan jumlah anak jalanan laki-laki.

Daerah asal dari anak jalanan perempuan terbanyak dari dalam kota sendiri sebesar 82,14% sisanya dari luar kota. Dari dalam kota biasanya berasal dari daerah pemukiman kaum urban atau daerah miskin seperti kawasan Bandarharjo, Gunung Brintik, Tandang, Mrican, sedang anak jalanan luar daerah berasal dari Bawen, Blora, Purwodadi, Kendal, Wonogiri, Yogyakarta, Kerawang dan Jakarta.

Adapun alasan anak jalanan perempuan sampai menjadi anak jalanan kebanyakan adalah karena adanya kekerasan dalam keluarga mereka, rumah sepi, tidak ada perhatian orangtua, ingin hidup bebas, ingin membantu keluarga, ingin punya uang sendiri, lari dari rumah dan mencari saudaranya lebih dulu berada di jalanan. Selain itu tidak jarang anak pergi ke jalanan karena diajak atau disuruh orangtuanya dan anggota keluarganya.

Tidak jarang pula karena alasan telah diperkosa oleh pacarnya yang tidak bertanggungjawab.

Lalu bagaimana mereka mempertahankan hidup? Biasanya mereka mempertahankan hidup dengan cara membangun solidaritas di antara mereka sesama anak jalanan. Solidaritas yang mereka punyai cukup tinggi sebab menurut mereka bila ada salah satu rekannya yang membutuhkan bantuan misalnya sedang sakit dan butuh obat, tidak segan-segan mereka memberikan bantuan yang berbentuk uang, obat-obatan dan makanan.

Sedangkan ragam kegiatan yang lain adalah dengan menjadi pengamen, pengemis, penyemir sepatu, jualan koran/ asongan, melap mobil / motor, mengumpulkan sisa bumbu, buah dan sayur ketika bongkar muat untuk dijual kembali (mayeng), mengumpulkan atau mencari makanan sisa (ngoyen), memulung, mencopet, memerasa, mencuri dan menjual narkotika.

Selain itu kegiatan yang berhubungan dengan seksualitas yakni, menemani tamu, menemani orang berjudi, membantu bandar judi dan menawarkan jasa seksual.

Tidak jarang pula anak jalanan perempuan juga dikomersialkan oleh sindikat germo, sehingga mereka harus melayani tamu yang telah ditentukan, yang selanjutnya mendapatkan imbalan setengahnya, sedang setengah bagian lainnya diambil kepala sindikat germonya.

Gambaran kehidupan anak jalanan perempuan ini yang harus dicari jalan keluarnya untuk mendapatkan perlindungan dan juga ha-hak mereka sebagai anak.

Dan kewajiban dari negaralah untuk memenuhi hak-hak mereka serta tanggungjawab dari orangtua, orang dewasa dan orang yang telah diberi kenikmatan lebih dari negara, untuk menjaga hak-hak mereka agar dapat terpenuhi.

***Wiek/Wahid.