WAWASAN, Jum’at, 6 Agustus 1999

Semarang, (Wawasan), Komunitas anak jalanan perempuan atau yang lebih dikenal dengan istilah ciblek di Semarang ternyata akhir-akhir ini menurun jumlahnya. Penurunan ini terjadi sebab banyak ciblek yang beramai-ramai pindah ke Batam menjadi pekerja seks di sana.

Perpindahan para ciblek ini terungkap dalam seminar sehari bertema “Mengungkap situasi anak jalanan perempuan dan anak yang dilacurkan” di Hotel Santika Semarang, Kamis. Seminar ini diselenggarakan oleh Yayasan Setara bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng.

Hening Budiyawati dari Yayasan Setara pada seminar ini mengungkapkan, ciblek-ciblek yang dibawa ke Batam tersebut semula banyak yang mangkal di kawasan Simpanglima. Mereka diperdagangkan oleh sekelompok orang untuk dijadikan penjaja seks bagi orang-orang Singapura, Malaysia serta orang-orang asing.

“Belum lama saya ketemu pembawa ciblek-ciblek itu. Ia malah minta tolong kepada saya untuk mencarikan cilikan tambahan,” kata Hening. Dalam setiap kencan, para germo di Batam itu memasang tarif sekitar Rp 150 ribu. Separoh dari tarif itu diberikan kepada ciblek.

Hening berpendapat, perdagangan ciblek untuk tujuan seksual sudah banyak diketahui orang. Hanya saja, sulit baginya untuk mendapatkan data secara lengkap. Pada proses penelitiannya, hanya ada satu ciblek yang pernah ke Batam itu.

Obat Bius

Hening mengungkapkan, pengaruh obat bius terhadap ciblek juga cukup besar. Sebanyak 62,5 persen di antara mereka ternyata telah menjadi korban penyalahgunaan obat bius. Mereka merasa dapat menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya saat menggunakan obat bius itu. Mereka juga berpendapat, saat minum obat bius para ciblek menjadi lebih berani dalam menghadapi orang.

Obat keras yang disalahgunakan anak jalanan ini berupa pil dan minuman keras. Sebagian besar (68,57 persen) ciblek mengkonsumsi tiga atau lebih jenis pil sehari.

Berbagai jenis pil yang pernah dikonsumsi oleh ciblek ini antara lain, nipan, magadon, trihex, bk, lesotan, rohipnol, destro, prd, kasandra, dan ekstasi. Sedangkan untuk minuman keras, jenis yang dikonsumsi adalah ginseng, congyang, anggur putih, arak putih, bir putih, bir hitam, ciu dan vodka.

Pembicara lain Mohammad Farid pada kesempatan ini mengungkapkan, sulitnya pendataan jumlah anak yang dilacurkan di Indonesia ini merupakan dampak dari posisi resmi negara terhadap pelacuran yang tidak mendukung penyelesaian masalah secara tuntas.

Ada empat model yang digunakan oleh pemerintah. Pertama, dalam aspek kriminalisasi, pelacuran dianggap sama sekali dilarang. Kedua, dalam aspek dekriminalisasi, pelacuran bukan dianggap sebagai  kejahatan. Ketiga, dalam aspek regulasi, pekerja seks dikontrol dan didaftar. Keempat, adanya legalisasi kerja seks, yakni hukum perburuhan memberlakukan pekerja seks harus menerima pendapatan dan mereka dikenai pajak. (Lw/Ct/h)