Tabloid CEMPAKA, No. 425, 22 – 25 Mei 1997, Halaman XV

MOMENTUM Malam Renungan AIDS sedunia yang digelar di Semarang Minggu malam lalu (4/5) di Hotel Patra Jasa Semarang, memunculkan makna multifaset.

Sekitar 200 anak jalanan mengambil bagian menyemarakkan malam renungan, yang secara serempak juga digelar di 300 kota di dunia. Tebak apa yang terjadi. Girang? Itu pasti. Anak-anak malam itu dengan sukacita menumpahkan kegembiraannya. Mereka bergoyangria diiringi house music yang diputar oleh penyelenggara yakni Yayasan Duta Awam bekerjasama dengan Hotel Patra Jasa serta Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS).

Di salah satu sudut ruang itu tersedia panggung setinggi setengah meter ukuran 6 x 6 m2, untuk pentas anak-anak jalanan. Selagi menyanyi anak-anak boleh menyantap makan makam mewah di sayap kiri dan kanan ruang Poncowati.

Masih dalam suasana makan malam, anak-anak tak dilarang untuk sekaligus membawa apapun yang dikehendaki ke meja makannya masing-masing. Tersedia sekitar 20 meja bundar yang ditata secara estetis layaknya menjamu tamu-tamu penting.

Acara lebih gayeng dan marak dengan hadirnya Wali Kota Semarang H Soetrisno Suharto beserta istri. Juga Dr Wimpie Pangkahila, Drs Darmanto Jatman SU selaku penutur tentang bagaimana memandang seks secara benar. Pengurus Yayasan Duta Awam, PAJS dan General Manager Hotel Patra Jasa Wahono.

Jika dilihat hanya dari sudut pandang tempat dan penyelenggara, kehadiran anak jalanan bisa dengan mudah memunculkan tudingan show or charity (pertunjukkan belas kasihan). Menurut Wahono, tudingan semacam itu tak perlu mengemuka andaikata disadari bahwa fenomena anak-anak jalanan merupakan salah satu pekerjaan rumah terberat di bidang pembangunan sosial.

CARI SOLUSI

Masalah ini memerlukan tindakan sesegera mungkin sebelum tertinggal dan tidak mampu mengatasinya. Dasar pikiran Wahono sederhana saja bahwa anak-anak jalanan adalah sekelompok masyarakat yang berpotensi menjadi medium penularan AIDS. Ingin bukti? Hampir semua anak-anak jalanan mengacungkan tangan ketika Darmanto Jatman bertanya apakah mereka pernah berhubungan seks.

Mengutip penelitian Yayasan Duta Awam Nopember 1996 – 1997 (menunjukkan sekitar 32 persen anak jalanan – dari 101 responden mengaku pernah melakukan hubungan seks), Wahono percaya kehidupan jalanan mengajari perilaku biologis seks. Persoalannya perkembangan mental dan spiritual mereka tidak seimbang, sehingga memunculkan pandangan keliru tentang aktivitas seksual.

Ia mengatakan, aktivitas seksual tidak lagi dipahami dalam maknanya yang luhur sebagai buah cinta Illahi selain diterima sebagai keniscayaan biologis belaka. Ini adalah masalah. Itu sebabnya kalangan anak jalanan diundang agar sejujurnya bicara bagaimana sebaiknya memahami kehidupan seks secara wajar di depan pihak-pihak yang mau peduli dengan masa depan anak-anak jalanan.

Mengundang anak-anak jalanan untuk ikut terlibat dalam Malam Renungan AIDS, menurut Wahono, menjadi lebih bermakna jika dilihat sebagai wujud tindakan mengangkat harkat sehingga sejajar dalam hirarki keluarga besar manusia. Undangan dari sebuah hotel mewah macam Patra Jasa tak perlu dipandang dalam konteks hendak berbelas kasihan dengan kelas bawah.

“Tindakan kami lebih berarti apabila dipahami sebagai salah satu cara menyapa anak-anak jalanan,” ucapnya.

BACA PUISI

Pada malam renungan itu bergulir pula pembacaan puisi oleh Dayat (12), salah satu anak jalanan di kota Semarang. Dia mengenakan kaos kuning-putih bertuliskan “Awas! AIDS, Sesal Kemudian Tak Berguna” mengumandangkan baik demi bait puisinya antara lain; AIDS, irama kematian terdengar sudah di penjuru bukit/terompet sangkala gempita di mana-mana/ malaikat ucap bela sungkawa di virusmu/ AIDS ….

Tak mau ketinggalan, penyair Darmanto Jatman pun unjuk kebolehan dengan sajak “Dorothy Law Nolte”, antara lain; Bila anak dibesarkan dengan celaan/ ia akan belajar memaki/ bila anak dibesarkan dengan permusuhan/ ia akan belajar berkelahi … namun/ bila anak dibesarkan dalam sebaik-baiknya perlakuan/ kasih sayang dan persahabatan/ ia akan belajar keadilan serta menemukan cinta dalam kehidupan.

Pada acara dialog dengan penceramah, muncul pertanyaan polos dari beberapa anak jalanan. Misalnya Anto (16), Pak, penerita AIDS itu dikarantina atau tidak, soalnya kalau bebas kan bisa mencari teman?” atau “Bagaimana cara menghilangkah AIDS, dan apa tanda-tandanya?

Di sisi lain melihat ketidaktahuan mereka tentang AIDS, maka Wali Kota Semarang H Soetrisno Suharto dengan senyum kebapakannya yang khas, mengimbau kepada semua pihak, perlunya memperhatikan mereka. “Lihatlah mereka, anak-anak jalanan sebagai anak manusia. Jangan berpikir mereka itu sekolah atau tidak, punya duit atau tidak. Sebab di mata Tuhan, tidak ada bedanya antara Wali Kota dan anak-anak jalanan. Saya akan menghargai orang-orang yang memberi perhatian kepada mereka …,” tandasnya.

BERI HADIAH

Dan dialog kecil antara Pak Tris (panggilan akrab Wali Kota Semarang-Red) dan anak-anak jalanan makin akrab. “Coba, kenapa saya berada disini? Yang jawabannya benar, akan saya beri hadiah uang Rp 50 ribu,” tantang Pak Wali.

Mendengar pertanyaan itu, beraneka jawaban pun terlontar dari mulut anak-anak.

“Karena Pak Wali sayang kepada anak-anak jalanan.”

“Pak Wali cinta kami, sehingga ingin bertemu dengan kami,” jawab anak yang lain. Beberapa jawaban itu oleh Pak Tris dinilai tepat, maka tak pelak lagi, Ny Soetrisno Suharto-lah yang “terpaksa” menguras dompetnya untuk membagi-bagi hadiah. Dia diminta sebagai “juru bayar”, sehingga harus mengeluarkan uang antara Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu terhadap setiap jawaban yang benar.

Acara di Patra Jasa ini ditutup dengan renungan diiringi nyanyi bersama Lilin-lilin Kecil dan pernyataan lilin secara massal.

PEKERJA SEKS KOMERSIAL

Sementara itu, pada malam yang sama, kegiatan serupa juga digelar di pendapa Balai Kota Semarang. Rangkaian pembacaan puisi, penyampaian pendapat umum dari para peserta yang sebagian besar pemuda dan suguhan seni gerak Taman Teater dari Semarang mewarnai malam renungan.

“Banyak pekerja seks komersial (PSK) yang masa bodoh terhadap AIDS. Bahkan, ada yang pasrah soal risiko tinggi terkena AIDS. Sangat disayangkan, karena AIDS menjadi mudah menyebar. Penyadaran terhadap PSK dan para pelanggannya perlu ditingkatkan,” ujar Binawan Sandhi, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undip dalam dialog malam itu.

Kegiatan di Balai Kota ini digelar oleh Yayasan Rama-Shinta dan Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) bekerja sama dengan PMI Kodya Semarang, Satuan Peduli AIDS FK Undip, Pemda Kodya Semarang dan Ford Foundation. Hadir antara lain Wakil Walikota Semarang R Herdjono, Kepala Dinas Kesehatan Kodya Semarang dr Hadi Wibowo, dan beberapa pejabat lainnya.

Mengaku bukan seorang penyair, H Saifudin Bonglin dari Harian Suara Merdeka membacakan puisi yang cukup menggelitik. Awas! AIDS datang/ tutup pintu/ tutup jendela/ tutup lubang/ semua lubang/ tutup celana dalam, tutup mata/ tutup telinga/ tutup mulut. (Ghufron Hasyim)