SUARA MERDEKA, 24 Juli 1997, Halaman II

SEMARANGYa…beginilah jalanan. Yang kutelusuri siang dan malam. Bagaikan burung terbang mencari sarang. Sarang yang ada, kebebasan dan kedamaian. Namun apakah kusanggup menahan, menahan beban hidup di jalan. Ya, di jalan … di jalan. Oh Tuhan, sampai kapankah aku begini. Menanggung beban seorang diri, di dunia yang kejam dan keji. Sampai kapan …. sampai kapan.

Kalimat itu meluncur dari bibir penyair Darmanto Jatman di hadapan sekitar seratus anak jalanan yang berkumpul untuk makan siang, seusai pembukaan Gelar Kreativitas Anak Jalanan, di kompleks Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Undip, kemarin.

Anak-anak jalanan dan puluhan mahasiswa menyimak baris-demi baris sajak yang dibacakan dosen FSIP Undip itu. Tak tercantum dalam teks, siapa pengarang puisi itu. Yang pasti puisi itu bercerita tentang seorang anak jalanan yang ingin menyuarakan jeritan hatinya.

Darmanto, yang amat jarang membaca puisi di kampus Undip, kemarin memang “tak kuasa” menolak permintaan Rektor Undip Prof Dr Muladi untuk membaca puisi di hadapan anak-anak jalanan.

“Saya sebagai Rektor, menugaskan Saudara Darmanto untuk membaca puisi,” ujar Muladi, yang langsung dicandai Darmanto, “Wah, baru pertama kali ini saya baca puisi tanpa honor.”

Hingga akhirnya tepuk tangan menggema dari semua yang hadir. Dan anak-anak jalanan itu pun mulai melahap tumpeng nasi kuning.

Gelar Kreativitas Anak Jalanan merupakan acara yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Wanita (PSW) Lemlit Undip bekerjasama dengan empat LSM.

Kegiatan itu akan berlangsung hingga 27 Juli, meliputi pameran dan pentas seni, dialog, sarasehan, aksi bersih kota, dan berbagai lomba. Arena pameran menampilkan aneka lukisan dan puisi anak-anak jalanan, juga hasil olah barang bekas dan buku-buku mengenai kehidupan jalanan. 

Sakit Dada

Di arena pameran kreativitas anak jalanan itu juga dapat disaksikan berbagai catatan peristiwa mengharukan. Di pintu masuk, misalnya, terpajang foto beberapa anak jalanan yang meninggal saat mengarungi kerasnya kehidupan di jalanan.

Paris Pangaribuan (12) korban itu, meninggal di Medan selepas ditangkap aparat keamanan gara-gara mencuri gitar. Dia meninggal ketika dirawat di rumah sakit. Sebelumnya dia mengeluh sakit dada ketika di penjara.

Terpajang juga foto Untung dan Dodok (Yogyakarta) serta Miswan yang juga meninggal di Medan. Mereka adalah anak-anak korban kerasnya kehidupan jalanan.

Di seputar arena pameran dipajang puisi-puisi karya anak jalanan. Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Prof Ir Eko Budihardjo MSc mengaku trenyuh membaca puisi-puisi yang dipamerkan.

Apalagi, puisi-puisi itu jelas mengabaikan tata cara penulisan karya sastra. Juga kaidah penulisan titik koma, atau huruf besar. Maklum, “kaidah-kaidah” tersebut jauh dari anak-anak jalanan yang sebagian besar memang tak bersekolah itu.

Prof Muladi yang juga menyempatkan menyanyikan Nobody’s Child – lagu tentang anak yang tak pernah menerima kasih dari orangtua – pada pidato pembukaan mengharapkan kepedulian terhadap anak jalanan hendaknya tak berhenti hanya pada penyelenggaraan gelar kreativitas itu.

“Kalau hanya berhenti disini, Undip berdosa. Karena sama saja mencari popularitas dengan memanfaatkan anak jalanan. Kepedulian ini harus diasah terus, dan diwujudkan dalam tindakan nyata (B17,D4-50a)