TABLOID ADIL, No. 33 TAHUN KE-65, 28 Mei – 3 Juni 1997

Lebih separuh anak jalanan  di Kota Semarang, Jateng, pernah dan sering berhubungan seks. Anak lelaki mengenal hubungan intim lebih dulu dibanding perempuan. Ada yang bermesraan sampai delapan kali sebulan.

Kepada sekitar 150 anak jalanan di Semarang, Dr dr Wimpie Pangkahila, seksolog dari Universitas Udaya Bali, mengajukan pertanyaan; siapa yang pernah melakukan hubungan seksual? Jawabnya – jangan kaget – hampir setengah dari mereka mengangkat tangan. Pengakuan mereka cukup mengagetkan para hadirin pada ‘Malam Renungan Aids Nusantara 1997’ di Hotel Patrajasa Semarang, Minggu dua pekan lalu.

Pengakuan kelompok anak jalanan Semarang yang tergabung dalam Paguyuban Anak-anak Jalanan Semarang (PAJS) itu, didukung oleh hasil penelitian Yayasan Duta Awam Semarang bekerjasama dengan Pemda, yang dipresentasikan baru-baru ini. Dari 101 responden (78 laki-laki, 23 perempuan, umur antara 8-17 tahun dan umumnya sudah putus sekolah), 31 persen di antaranya mengaku sudah pernah melakukan esek-esek.

Persentase anak perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual lebih besar dari anak laki-laki; perempuan (56,5 persen), lelaki 23 persen. Anak lelaki mulai mengenal hubungan mesra lebih dulu dibanding perempuan. Sebanyak 22,2 persen anak laki-laki mengaku melakukan hubungan seksual sejak umur 9 tahun, sedang anak perempuan pada umur 13 tahun.

Frekuensi hubungan seksual tercatat 12,9 persen anak melakukan hubungan mesra lebih dari 8 kali sebulan, 3,2 persen 6-7 kali, 12,8 persen 4-5 kali. Selebihnya, 16,2 persen 2-3 kali sebulan,  6,5 persen sekali sebulan. Sisanya, 48,4 persen, mengaku melakukan tidak tentu selama sebulan.

Dalam memilih pasangan, mereka tidak pandang bulu (71 persen), sedang 19,4 persen yang melakukan dengan pasangan tetap. Sisanya tidak memberi jawaban. Menurut penelitian yang dilakukan 1996-1997 ini, yang dimaksud pasangan bukan cuma pasangan lain jenis tapi juga termasuk pasangan sejenis. Seperti terungkap: 5,6 persen anak laki-laki mengaku homo, dan 92,3 persen heteroseksual. Sedang untuk anak wanita, yang mengaku lesbi 7,7 persen dan 61,1 persen heteroseksual. Ada pula yang biseks yaitu 16,7 persen, sisanya 16,7 persen lagi-lagi tidak menjawab.

Dari penelitian itu diketahui, separuh dari pasangan anak laki-laki ternyata berumur lebih tua dari mereka. Sedang 84,6 persen anak wanita yang diteliti mengatakan umur pasangan mereka tidak pasti, kadang lebih muda, kadang sebaya, kadang pula lebih tua.

Bagi pasangan anak laki-laki yang memiliki pasangan umur lebih tua, karena mereka banyak berhubungan dengan pelacur. “Kan bukan rahasia lagi, banyak pelacur suka berhubungan dengan anak-anak di bawah umur,” jelas Petrus Widiantoro, sekretaris penelitian. Bisa diibaratkan, anak-anak itu cuma dihisap madunya. Tetapi dampaknya mereka jadi ketagihan, sampai akhirnya hubungan seksual menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi, katanya.

Beda dengan anak perempuan. Mereka berhubungan seksual kebanyakan karena dipaksa. Karena itu, mereka sering harus melayani siapa saja, tidak peduli faktor umur.  Terdapat 51,6 persen responden yang mengaku melakukan hubungan seksual karena dipaksa. Dari anak perempuan yang dipaksa ini, 37,5 persen mendapat upah, sedang 43,8 persen tidak mendapat apa-apa.

Angka-angka di atas, tentu saja memancing pro dan kontra. Peneliti Darmanto Jatman SU, menganggap lemah hasil penelitian itu. Karena menurutnya, peneliti tidak tahu berapa sensus semua anak jalanan. Sampel yang diambil memenuhi syarat atau tidak, masih perlu diteliti lagi. Juga responden yang dipilih masih diragukan obyektifitasnya.

“Kalau yang dipilih ciblek, ya semuanya pernah melakukan hubungan seksual. Realitasnya kan tidak semua anak jalanan perempuan menjadi ciblek,” kata Kepala Pusat Penelitian Sosial Budaya Lembaga Penelitian Undip itu. Ciblek adalah istilah masyarakat Semarang untuk menyebut pelacur jalanan. Ciblek sendiri adalah nama burung, berbadan kecil seperti prenjak.

Menurut Nila Ardiani, ketua tim peneliti, tujuan penelitian ini adalah untuk mencari solusi bagaimana mengangkat anak-anak jalanan ini ke bangku sekolah, atau mendapatkan pekerjaan yang sesuai. “Jadi jangan ditonjolkan perilaku seksualnya saja,” tuturnya.

Tujuan penelitian itu memang langsung mendapatkan sambutan. Paling tidak, Wahono, GM Hotel Patrajasa Semarang, bersedia memberi beasiswa kepada 50 anak jalanan untuk kembali ke bangku sekolah. Anda menyusul?  – saiful bahri