Frustrasi, Pengamen Sodomi Anak Jalanan (Suara Merdeka, 2002)

Suara Merdeka, 28 Juni 2002

SEMARANG – Kasus sodomi terhadap sejumlah bocah lelaki oleh Robot Gedhek, yang pernah menghebohkan Jakarta tahun 90-an, kini terulang di Semarang. Pelaku bernama Agus Heri Purnomo alias Heri Kawat (23) seorang pengamen warga Bulu Stalan IV, Semarang kemarin petang ditangkap petugas Poltabes, di rumahnya.

Penangkapan itu berawal dari laporan delapan anak jalanan di sekitar Tugu Muda yang mengaku sering diperlakukan tak senonoh oleh tersangka. Dua di antara mereka, yakni Yn (12) dan Rh (14) menyatakan pernah disodomi oleh tersangka.

Enam anak lainnya masing-masing AR (14), Al (16), Ars (16), AW (16), dan AS (19) belum sampai disodomi, meski sering dipaksa untuk melayani nafsu tersangka dengan cara oral seks.

”Kalau tidak mau, saya diancam akan ditusuk pisau,” ujar Yn, yang mengaku sekali disodomi tersangka pada Selasa (28/5) pukul 02.00 dinihari. Perbuatan itu dilakukan di tanah kosong samping Wisma Perdamaian. Malam itu, tersangka yang berbadan ceking itu juga menyodomi Rh di tempat yang sama.

Sebelumnya, pada hari Sabtu (18/5) Rh yang berperawakan kecil itu juga mendapat perlakuan serupa. Dia mau menuruti ajakan bejat Heri, karena diiming-imingi 5 butir pil koplo jenis Lexotan.

Pada kejadian kedua, dia kembali dijanjikan 2,5 papan Lexotan. ”Tapi waktu itu dia bohong. Setelah ”digitukan”, saya langsung disuruh pulang,” kata Rh. Setelah diperlakukan tak senonoh, keduanya merasa sakit di bagian anus.

Enam anak lainnya tak sampai disodomi, hanya disuruh melakukan oral seks secara bergantian. Selain diiming-imingi pil koplo, tersangka juga menjanjikan perlindungan jika mereka mau menuruti ajakannya.

Berdasarkan pengakuan para korban, tampaknya tersangka mengidap kelainan. Terbukti, perlakuan seks menyimpang itu juga disertai dengan siksaan.

Saat melakukan oral, tersangka selalu memperlakukan kasar, misalnya dicambuk, disundut api rokok, atau ditetesi lilin menyala. Kepada para korbannya, dia beralasan cara itu bisa mendatangkan kesaktian dan pesugihan (kekayaan-Red).

Tersangka mengatakan, perilakunya itu bermula ketika dia disodomi seorang pria tua di Kintelan sekitar empat tahun lalu. Sejak itulah dia terpengaruh dan ketagihan menyodomi anak-anak kecil.

Namun, dia mengaku baru mulai menyodomi mereka sejak satu tahun terakhir. Perilaku menyimpang itu, kata tersangka, juga dipicu rasa frustrasi akibat cintanya ditolak seorang gadis.

Mengenai pil koplo yang sering dikonsumsinya, dia mengaku memperolehnya dari sebuah rumah sakit jiwa. ”Saya pernah dirawat sebentar di sana,” kata Heri yang pernah mendekam 6 bulan di LP Kedungpane dalam kasus pencurian.

Hingga kemarin petang, tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif di Poltabes. Berdasarkan kesaksian korban, masih ada anak-anak lain yang juga pernah dicabuli tersangka tapi belum melapor. (her-45)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *