SUARA KARYA, Minggu, 11 Mei 1997  

Anak jalanan kembali menjadi bahan perbincangan. Yayasan Duta Awam (YDA) Semarang dalam sebuah penelitian belum lama mengungkap, 31 persen anak jalanan di Semarang pernah melakukan hubungan seks. LSM nirlaba yang dalam kegiatannya bekerjasama dengan Pemda Kodya Semarang tersebut juga menyimpulkan, 71 persen pelaku seks ini tidak dilakukan dengan pasangan tetapnya. Ancaman AIDS dan penyakit kelamin tak membuat mereka mengurangi kegiatan tersebut.

Salah seorang anak jalanan, sebut saja Tuti (14) misalnya, sudah pernah melakukan aborsi sampai 4 kali. Warga kelurahan Bongsari Semarang Barat itu tahu soal seks dari pengalaman langsung. Tempat menginapnya di Los Pasar Bulu Semarang yang tanpa sekat, memungkinkannya melihat aktivitas seks pasangan suami istri di sekitarnya.

Dampaknya gampang ditebak, Tuti tergiur bujukan rekan senasib untuk mulai mencoba. Latar belakang itulah yang ternyata menjadikannya berpredikat “ciblek” (pelacur jalanan) seperti sekarang ini. Tuti melanglang kota Semarang. Tubuhnya yang hitam dekil karena aktivitasnya sebagai pengamen jalanan pada siang hari di bundaran Tugu Muda Semarang itu, tak memungkinkannya memilih konsumen kelas menengah ke atas.

Tuti yang melakukan aktivitas malam hari di taman-taman kota dan tempat terbuka lain itu mengaku bernasib lebih baik. Sebagian besar rekan seprofesinya, menjadi “ciblek” karena diperkosa sesama rekan anak jalanan yang lebih tua. Kasus ini tidak mencuat karena rasa senasib sependeritaan. Syukurlah Tuti bernasib baik, dalam waktu dekat ia akan dipersunting sesama teman anak jalanan.

Seperti halnya Tuti, anak-anak jalanan lain seperti Rina (16) bukan nama sebenarnya yang warga Bongsari Semarang Selatan dan Saraswati (15) asal Barutikung Semarang, menjadi penghuni tetap karena alasan keluarga. Pertengkaran ayah ibu yang berbuntut saling membawa pasangan selingkuh ke dalam rumah, membuat mereka menjadi penghuni tetap los pasar tersebut. Petualangan sekspun dimulai dari masing-masing pengalaman pribadi.

Dominan Wanita

Hasil penelitian YDA juga mengatakan, aktivitas seks anak jalanan lebih banyak dilakukan anak perempuan daripada anak laki-laki. Anak jalanan laki-laki rata-rata memulai aktivitas seks pada umur 9 tahun. Sementara yang perempuan baru melakukannya pada usia 13 tahun.

Tak beda dengan itu, Yanto (14) jadi anak jalanan akibat kemelut keluarga. Pria belia yang seharusnya masih mengenyam bangku pendidikan itu, tak kuat menahan malu dalam persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai. Kabur dari rumah di Purwodadi ke Semarang 4 tahun silam itu berbuntut panjang. Awal di kota yang tak terlalu besar itu, Yanto dipaksa melayani laki-laki homo.

Kisah suram itu secara tidak langsung, memperkenalkan Yanto kepada segala sesuatu yang berbau seks. Yanto kita terlanjur paham, bahkan makin sering menekuni sesuatu yang sebetulnya belum boleh dilakukan.

Dihubungi Suara Karya belum lama, budayawan kondang Damanto Jatman menyatakan anak jalanan nyaris menjadi persoalan hampir di semua kota besar. Dia mencontohkan Amerika Serikat yang juga dipusingkan persoalan tersebut. Darmanto memandang, kehadiran mereka tak sepenuhnya dilatarbelakangi faktor ekonomi. “Kurang apa negeri itu, tapi kenyataannya jumlah anak jalanan kian tak terbendung,” tandasnya.

Dalam perkembangannya, kasus ini menggejala hampir di seluruh wilayah perkotaan termasuk di kota-kota besar seantero Asia Tenggara. Masa depan anak jalanan benar-benar menjadi suram. Yang laki-laki masih beruntung menjadi kuli daripada sekadar menjadi gelandangan dan pengemis. Tetapi yang perempuan, kata Darmanto, apalagi yang sudah terlanjur mengenyam nikmatnya seks, akan memanfaatkan itu menjadi lebih profesional. “Banyak di antara mereka memilih menjadi ciblek dan pelacur sejati untuk menopang hidupnya kelak,” tandas Darmanto.

Meski demikian, menurut Darmanto, kasus-kasus seperti di Semarang itu belum sepenuhnya terlambat. Upaya pemecahan memerlukan penanganan yang sinergis dan simultan. Cara terbaik adalah memperbaiki kehidupan rumah tangga menjadi lebih harmonis.

Darmanto yang juga ketua jurusan psikologi FISIP Undip Semarang itu menyatakan, anak yang terlahir dari keluarga harmonis, tak akan pernah keluar dari ‘jalur’. “Keluargalah yang sebetulnya mengatur, mau jadi apa anak-anak mereka kelak,” tandasnya.

Khusus mengatasi anak-anak yang terlanjur menjadi anak jalanan, Darmanto menilai kiat memecah belah kelompok merupakan alternatif terbaik. Alasannya, solidaritas di antara sesama anak jalanan sangat kuat. Masing-masing anak jalanan merasa tentram dan damai berada di lingkungannya tersebut. Keluarga baru itu menjadi tumpuan semua harapan. Kesan itulah yang harus sejak awal dikikis.

Caranya, kata Darmanto kelompok itu dipecah menjadi beberapa kelompok lain. Siklus ketergantungan dan rasa persaudaraan pada kelompok harus diputus. Upaya ini sulit dan perlu biaya. Tetapi ini merupakan tanggung jawab dan beban bagi siapapun yang peduli terhadap kelangsungan negerinya. (Andira)