Gelar Kreativitas Menentang Kekerasan Terhadap Anak

SIARAN PERS YAYASAN SETARA

MEMBANGUN DUNIA RAMAH ANAK TANPA KEKERASAN

(Gelar kreativitas menentang kekerasan terhadap anak)

22 September 2013
Di Taman KB, Jln.Mentri Supeno, Semarang

 

Kekerasan terhadap anak, apapun bentuk dan alasannya merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Namun pada kenyataannya, berbagai kasus kekerasan terhadap anak terus berlangsung hingga saat ini.

Ada berbagai faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan terhadap anak. Hal terpenting adalah bahwa kekerasan terhadap anak belum disadari sepenuhnya oleh masyarakat umum sebagai tindak pidana.

Kasus kekerasan di dalam keluarga, masih dianggap sebagai urusan domestik belaka. Di Sekolah, penghukuman fisik oleh guru dengan alasan sebagai upaya pendisiplinan masih dianggap pula oleh masyarakat sebagai proses pembelajaran bagi anak. 

Diadopsinya Konvensi Hak Anak (KHA) oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1989, salah satunya adalah memberikan jaminan perlindungan terhadap anak dari kekerasan. KHA ini telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990. Untuk melaksanakan KHA, Indonesia telah mengesahkan Undang-undang Perlindungan Anak No. 23 tahun 2000.

PBB melalui Sekretaris Jendral, telah menunjuk seorang pakar independen, Paulo Sergio Pinheiro, sesuai dengan Resolusi Majelis Umum No. 57/90 tahun 2002, untuk melakukan studi mendalam tentang kekerasan terhadap anak. Hasil studi ini memberikan gambaran global mengenai kekerasan terhadap anak dan mengusulkan rekomendasi untuk mencegah dan merespon masalah ini.

Hasil studi ini menjadi salah satu dasar dari lahirnya kebijakan di Indonesia berupa Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak (melalui Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No 2 tahun 2010)

Situasi umum kekerasan terhadap anak  berdasarkan hasil survei kekerasan terhadap perempuan dan anak pada 2006, secara nasional telah terjadi sekitar 2,81 juta tindak kekerasan dan sekitar 2,29 juta anak pernah menjadi korban kekerasan. Mentri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pertengahan 2009 tercatat jumlah anak di Indonesia sebanyak 85.146.600 atau 38,86 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah 231.000.000 jiwa. Dikatakannya, jika persentase kekerasan tahun 2009 ini dianggap sama dengan tahun 2006, yaitu 3,02 persen, berarti ada kurang lebih 25 juta anak yang pernah mendapat kekerasan (lihat Kompas.com, 19 Maret 2010)

Penghukuman fisik dan bullying di Indonesia menjadi perhatian dari Komite Hak Anak PBB. Pada concluding observation (para 41-44) komite menyatakan keprihatinan atas tingginya jumlah anak korban kekerasan di sekolah, tempat-tempat umum dan penghukuman fisik di dalam keluarga dan sekolah. Komite memberikan rekomendasi agar Indonesia melakukan upaya amandemen legislasi, kampanye pendidikan publik, akses pelayanan terhadap korban kekerasan dan memastikan pelaku kekerasan diadili.

Terkait dengan masalah kekerasan terhadap anak, Yayasan Setara sebagai salah satu organisasi Non Pemerintah, yang bergerak pada isu (hak-hak) anak sejak tahun 1993 di kota Semarang, pada periode 1 Oktober 2012 – 30 September 2013 telah merintis program yang dipusatkan di sepuluh sekolah dasar dengan mendorong pengembangan sekolah ramah anak.

Kesepuluh sekolah tersebut adalah SDN Kuningan 1, SDN Kuningan 02, SDN Jomlang 03, SDN Jomlang 04, SD Islam Taqwiyaatul Wathon, SD Al Iman, SD Muhammadiyah 01, SD Pangudi Luhur Servatius, SD Pangudi Luhur Vincencius, SD Pangudi Luhur Tarcicius. Pada Pelaksanaannya, dua sekolah tidak dapat terlibat aktif. 

Sasaran program diarahkan kepada pimpinan sekolah, guru, orangtua dan anak-anak, melalui berbagai kegiatan.  400 anak (180 laki-laki; 220 perempuan), 106 guru (34 laki-laki; 72 perempuan) dan 214 orang (54 laki-laki; 160 perempuan) yang terlibat dalam program.

Di akhir program, Yayasan Setara bekerjasama dengan Dewan Kesenian Semarang menyelenggarakan acara yang diberi tema “Membangun Dunia Ramah anak Tanpa Kekerasan” yang dipusatkan di Taman KB, Jln. Mentri Supeno, Semarang.

Acara yang akan diselenggarakan pada tanggal 22 September 2013, pukul 08.00 – 13.00 menghadirkan perwakilan anak, orangtua dan guru yang terlibat dalam program rintisan membangun sekolah ramah anak, dengan mengundang sekolah-sekolah lain, SKPD terkait, dan Organisasi masyarakat sipil. Acara ini juga terbuka untuk umum.

Rangkaian acara meliputi gelar karya anak, pementasan musik, orasi budaya, dan pembacaan deklarasi guru dan orangtua menentang kekerasan terhadap anak.

Demikian siaran pers ini kami sampaikan untuk disebarluaskan.

Semarang, 20 September 2013

 

 

Hening Budiyawati                                                                    Tsaniatus Solikah (Ika)

Ketua Pengurus Harian Yayasan Setara                                Koordinator Media

(08122538369)                                                                        (087731524754)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *