SUARA MERDEKA, 28 Juli 1997, Halaman II

SEMARANG – “Kowe biasane ngamen ning ndi?”

“Ning Jembatan Mberok. Tapi saiki wis ora”

“Lho kenopo?”

“Diseneni wong kae, lho,” kata seorang anak sambil menunjuk seseorang di belakang.

“Kae sapa?”

“Kae lho”

“Oh, kuwi to.”

“Iya.”

“Nek kuwi tak undange. Lha wong kuwi bosku.”

“Bosmu?”

“Iya, sik ya.”

“Lho meh ning ndi?”

“Ya, ngundang bosku kuwi.”

Dialog itu meluncur dari empat anak jalanan dalam lomba ndhagel yang digelar pada hari terakhir Gelar Kreativitas Anak Jalanan, Minggu kemarin.

Sepintas, kalimat-kalimat itu hampir tak bermakna. Tapi tahukah Anda siapa yang dimaksud si bos oleh mereka? “Itu aparat,” kata Odi Shalahuddin, aktivis dan salah seorang pembina PAJS.

Dagelan anak-anak itu memang rata-rata membalikkan logika. Betapa tidak. Sebab, bagaimana mungkin seorang anak jalanan menyapa aparat dengan bos. Sebuah sapaan yang menyiratkan keakraban dan tanpa prasangka. Padahal, suasana “kawan baik” antara anggota PAJS dan aparat tentu saja hampir tak pernah terjadi.

Tak pelak, kreativitas, kalimat-kalimat nakal, dan tingkah laku anak-anak itu benar-benar muncul dalam lomba itu.

Barang Bekas

Tak hanya ndhagel, lomba membuat mainan dari barang bekas pun membuat para pengunjung tercengang. Simak saja anak-anak yang membuat beragam bentuk bangunan dari barang bekas yang benar-benar bekas. Seorang anak cacat kaki yang menjalani keseharian di jalanan bisa membuat replika Tugu Muda dari beberapa kaleng bekas soft-drink, botol, dan barang usang lain. Anak lain bisa membuat mainan mobil berlapis baja, juga dengan benda-benda bekas yang disediakan oleh panitia.

Dalam lomba ngamen, bermunculan lirik dan syair kreasi. Dan jangan kaget, ternyata mereka mampu mencipta musik yang cukup baik, minimal tak terlalu fals di sana-sini.

Sementara itu Sekitar 200 anak jalanan berseragam kaus biru bertuliskan Gelar Kreativitas Anak Jalanan, dari berbagai kota, kemarin membersihkan kota Semarang. Aksi bersih kota itu merupakan ide murni anak jalanan untuk membuktikan bahwa mereka bukan sampah kota, serta mampu berbuat sesuatu yang berguna.

Kegiatan yang dilaksanakan sebagai rangkaian dari acara Gelar Kreativitas Anak Jalanan itu diikuti oleh anak jalanan di Kodya Semarang, Yogyakarta dan Jakarta. Aksi itu di lepas oleh Kabag Tata Pemerintahan Kota Drs Utomo Sutopo di halaman Balai kota (D4, F11, F12-50a).