BERNAS, 24 Juli 1997, Halaman I

Jakarta, Bernas, Gerakan Nasional Orangtua Asuh (GNOTA) yang didasari atas rasa setia kawan ternyata berhasil dengan baik, dan melalui gerakan itu jutaan anak dapat dibantu sehingga dapat menikmati pendidikan sebagaimana halnya dengan anak-anak lain yang tergolong mampu.

Demikian dikemukakan Presiden Soeharto, pada puncak peringatan Hari Anak Nasional Tahun 1997 di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu pagi (23/7). Pada kesempatan itu, Presiden mencanangkan Gerakan Nasional Perlindungan Anak (GNPA).

Selain ratusan anak yang secara khusus didatangkan dari 27 provinsi di Indonesia, serta wakil anak-anak dari ASEAN, hadir juga Wapres dan Ibu Try Sutrisno, para menteri serta sejumlah perwakilan negara sahabat.

Sementara sekitar 25.000 orang anak ikut pula memeriahkan acara tersebut, namun mereka berada di luar gedung Sasono Langen Budoyo.

Kepala Negara mengatakan “Saya ucapkan terima kasih kepada Saudara-saudara yang telah membantu mewujudkan dan mengembangkan gerakan ini. Tanpa keikut-sertaan Saudara-saudara dalam gerakan ini, maka akan banyak diantara anak-anak kita yang tidak bisa menikmati pendidikan.”

Untuk itu presiden menyerahkan penghargaan kepada mereka yang dianggap sangat peduli terhadap upaya-upaya pengentasan anak-anak tidak mampu, berupa Karya Adhikarsa diberikan kepada perorangan/kelompok yang telah berjasa dalam mewujudkan/ mengembangkan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh.

Mereka yang mendapatkannya adalah Presetio Utomo & Co. PT Bank Rakyat Indonesia, PT Bimantara Citra. Untuk perorangan adalah Nyoman Nuarta, Sutedjo Hadiwasito, dan Ariyanto Zainal.

Penghargaan Satya Adhikarsa diberikan kepada mereka yang telah menjadi orang tua asuh bagi minimal 10.000 anak asuh secara berkesinambungan selama 9 tahun, yakni Djajanti Group, PT Drassindo, PT Makindo, perorangan tokoh pengusaha nasional H Sudwikatmono, dan Djoko Tjandra dari Mulia Group.

Gelar Aksi

Sementara itu di Semarang, sekitar 250 anak jalanan dari Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta menggelar ‘aksi anti kekerasan’ yang puncaknya digambarkan melalui tiga anak yang menciptakan instalasi dengan menjerat tubuhnya di tiang gantungan, sebagai simbol menolak pembunuhan dan manipulasi jiwa anak-anak jalanan, Rabu (23/7).

Demikian antara lain pembbukaan ‘Gelar Kreativitas Anak Jalanan’ yang diselenggarakan selama 23 – 27 Juli di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Acara tersebut dibuka sendiri oleh Rektor Undip sekaligus anggota Komnas HAM Prof Dr Muladi SH.

Juru bicara aksi instalasi tubuh Bob Arif mengatakan, aksi itu untuk mengekspresikan anak-anak jalanan yang hak-haknya condong dibatasi. (ran/tarb).