BERNAS, 3 Mei 1997, Halaman 8

SEDIKITNYA 31 persen anak jalanan yang berkeliaran di kota Semarang pernah melakukan hubungan seksual pranikah dan mereka melakukannya sebelum berusia 16 tahun.

Yang lebih mengejutkan, hubungan seksual pranikah lebih banyak dilakukan oleh yang perempuan, daripada yang laki-laki. Dari 23 anak perempuan responden, 56,5 persen di antaranya pernah melakukan hubungan seksual. Sedangkan dari 78 anak laki-laki responden, yang pernah melakukan hanya 23 persen.

Perempuan atau laki-laki, anak-anak jalanan kota Semarang bernasib sama jeleknya: sering menjadi sasaran tindak kekerasan aparat Tibum, dari sekadar dikejar-kejar sampai diperas.

Begitulah gambaran buram anak-anak jalanan di kota Semarang, sebagaimana tergambar dalam hasil penelitian Yayasan Duta Awam (YDA) Semarang bersama Pemda Kodya Semarang dan Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS).

Hasil penelitian tersebut dibeberkan kepada pers oleh Direktur Eksekutif YDA, Nila Ardhianie di Semarang, Jum’at (2/5). Hadir dalam kesempatan ini Ketua PAJS, Winarso. 

Frekuensi: cukup tinggi

Data tentang seberapa banyak mereka melakukan hubungan seksual lebih mengejutkan lagi. “Cukup tinggi,”kata Nila. “Sebanyak 12,9 persen (dari responden) melakukannya lebih dari 8 kali sebulan. Rincian kategori frekuensi lainnya lihat 12,9 Persen Melakukan … di bagian lain di halaman ini.

Karena hubungan seksual kerap kali dilakukan dengan pasangan yang berbeda, mereka akhirnya mendapat sebutan ciblek. “Mereka melakukannya sebagai gaya hidup. Bukan sebagai profesi layaknya pelacur,” kata Winarso.

Soal perlakukan sodomi yang diterima anak-anak tersebut, data hasil penelitian menyebutkan bahwa ada 3 di antaranya yang pernah mengalaminya.

Beberapa anak jalanan yang perempuan – akibat hubungan seksual pranikah, bahkan pernah menggugurkan kandungannya. Bahkan ada anak jalanan perempuan yang melakukan 4 kali aborsi pada usia 15 tahun, dan diketahui oleh orangtuanya.

Siapakah Mereka?

Anak jalanan di ibukota Jateng ini selalu meningkat jumlahnya. Pada 1996 hanya sekitar 500 anak, tapi sekarang diperkirakan sudah mencapai sekitar 700 anak. Mereka ada di pelbagai pelosok kota Semarang. Tidur di sembarang tempat dan bekerja seadanya.

Sebanyak 19,8 persen ditemukan di kawasan Pasar Johar, 8,9 persen di Pasar Bulu; 5 persen di Stasiun KA Poncol; 0,9 persen di Banyumanik; 13,9 persen di Simpanglima dan sisanya ditemuan di Terminal Bus Terboyo, Kalibanteng dan sejumlah tempat lainnya.

Hasil penelitian tersebut memberikan data bahwa 80 persen dari mereka menjadi anak jalanan akibat  persoalan keluarga mereka, 16 persen akibat faktor ekonomi, dan masing-masing 2 persen akibat tidak cocok dengan teman di lingkungan rumah dan lantaran pengaruh teman.

Menurut Winarso, sekitar 60 persen anak jalanan tersebut berasal dari kota Semarang sendiri dan sisanya dari luar Semarang, antara lain dari Demak dan Purwodadi, serta dari luar pulau Jawa seperti Palembang, Medan dan Banjarmasin. “Mereka terlantar di belantara Semarang sampai hari ini,” ujar Winarso.

Banyak dari anak jalanan dalam penelitian tersebut masih bersekolah. Yang kelas 3 SLTP bahkan ada 8,6 persen. Terbanyak 25,7 persen kelas 2 SLTP. Bahkan diantara mereka ada yang melanjutkan pendidikan di Sekolah Terbuka Paket A atau B. Tapi setelah lulus, ijazahnya tidak dapat digunakan untuk melamar kerja.

Mereka menghidupi diri sendiri dengan bekerja secara serampangan. Sebanyak 41 persen bekerja sebagai pengamen; yang jadi tukang semir 22,2 persen, penjual koran 5,6 persen, ciblek 7,8 persen dan sisanya bekerja sebagai apa saja, termasuk menjadi mayeng – pemungut barang bekas dan sampah alias jadi pemulung.

Nila dan Winarso berharap kondisi yang ditemukan dalam penelitian mereka secepatnya mendapat perhatian dan penanganan, oleh lembaga atau instansi terkait. “Bukan sekadar agar mereka mentas dari nasib buruknya saat ini, tapi juga agar tidak memiliki keturunan yang sama,” kata Winarso. (ran).

12,9 Persen Melakukan 8 Kali Sebulan

 

  • Penelitian dilakukan November 1996 – Maret 1997. Responden 101 orang – 78 laki-laki dan 23 perempuan, dari sekitar 500 anak jalanan di Kodya Semarang
  • Hasil penelitian: 12,9 persen responden melakukan hubungan seksual lebih dari 8 kali/bulan; 48,4 persen melakukan hubungan seksual, tapi tidak rutin; 6,5 persen melakukan hubungan seksual sekali sebulan; 16,2 persen melakukan 2-3 kali/ bulan; 6,4 persen melakukan 4-6 kali/bulan.
  • Hubungan seksual dilakukan dengan pasangan yang berbeda.
  • Anak jalanan di Semarang pada 1996 berjumlahnya sekitar 500 anak dan saat ini sekitar 700 anak.
  • Anak-anak jalanan tidur di tempat sembarangan dan bekerja seadanya.
  • Ditemukan di kawasan Pasar Johar (19,8 persen), Pasar Karangayu (8,9 persen), Pasar Bulu (12,8 persen), Stasiun KA Poncol (5 persen), Banyumanik (0,9 persen), di Simpang Lima (13,9 persen), dan sisanya di Terminal Bus Terboyo, Kalibanteng dan sejumlah tempat lainnya.
  • 80 responden menjadi anak jalanan karena persoalan keluarga, 16 persen akibat faktor ekonomi, 2 persen akibat tidak cocok dengan teman di lingkungan rumah dan 2 persen lagi lantaran pengaruh teman.
  • 25 persen anak jalanan kelas 2 SLTP, kelas 1 SLTP (14,3 persen), kelas 6 SD (11,4 persen), kelas 5 SD (11,4 persen), dan kelas 3 SLTP 8,6 persen.
  • 60 persen anak jalanan berasal kota Semarang, sisanya dari Demak, Purwodadi dan luar Jawa (antara lain Palembang, Medan, dan Banjarmasin).