Ikatan Emosional Anak Jalanan Sangat Kuat (Suara Merdeka, 2003)

Suara Merdeka, 21 Juli 2003

  • Setia dengan Pasangan Seks Bebasnya

HAMPIR semua anak jalanan punya pasangan. Ada yang sebaya,ada juga yang umurnya berselisih jauh. Bagi mereka yang punya pasangan, hubungan seks bukan lagi hal yang tabu. Apalagi, jika mereka tidak punya keluarga di Semarang. Berikut beberapa tulisan mengenai seluk beluk perilaku seks para anak jalanan di kota ini.

SEPERTI diceritakan Agung (12), pengamen yang biasa mondar-mandir Tugu Muda-Simpanglima. Biasanya teman-temannya melakukan seks bebas di bangunan-bangunan kosong, namun bocah bertubuh kurus yang mengaku punya pacar pengamen asal Kalibanteng itu menyatakan belum pernah melakukannya.”Aku cuma pacaran, nggak sampai begituan,” tuturnya malu-malu.

Berbeda dengan Agung, Uwik, gadis berusia 16 tahun yang mengaku warga Gunung Brintik sama sekali tidak mau melakukan seks bebas dengan teman-teman di jalan. “Saya takut hamil, lalu ditinggalkan.” Ketakutan itu, karena dia melihat beberapa temannya hamil dan ditinggalkan begitu saja oleh pasangannya.

Menanggapi hal ini Resti Lusila SPd koordinator relawan Rumah Singgah Anak Bangsa (RSAB) dari Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) mengaku, pihaknya selalu berusaha mengingatkan anak-anak untuk tidak melakukan seks bebas, karena bagaimanapun hal itu tidak boleh dilakukan meskipun memakai alat kontrasepsi, seperti kondom.

Resti menyatakan, rumah singgah hanya bisa mengingatkan dan memberi pengertian kepada anak jalanan tentang akibat seks bebas. Satu minggu sekali RSAB menyebar relawannya di tiap titik anak jalanan untuk memantau dan mendampingi mereka.

Periksa Gratis

Meski seks bebas bukan hal yang tabu bagi mereka,dalam kurun waktu lima tahun terakhir tercatat ada 4 anak yang dilaporkan hamil. Keempat anak itu tidak hanya dari rumah singgah binaan Resti, tetapi ada juga yang dari rumah singgah lain. Mereka yang hamil datang ke RSAB meminta diantar periksa gratis.Karena sampai saat ini RSAB punya kartu berobat gratis kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Sejauh ini, Resti melihat sebagian besar anak jalanan laki-laki mau bertanggung jawab jika pasangannya hamil dan tidak ada anak jalanan yang menggugurkan kandungan.

Ini karena rasa memiliki mereka sangat kuat,dan bagaimanapun mereka tetap punya kasih sayang serta hati nurani.

Puskesmas Pandanaran merupakan rumah sakit yang paling banyak menjadi tempat periksa gratis anak-anak jalanan yang hamil. Hanya saja, untuk proses melahirkan mereka tetap saja harus membayar.

Selain mendampingi sampai proses melahirkan, RSAB juga membantu anak yang hamil untuk mengurus surat-surat pernikahan, sehingga ketika anak mereka lahir bisa mendapatkan surat kelahiran dari kelurahan setempat.(H11-73)

Data Jumlah Pendampingan Yayasan Setara Per Januari-Juni 2003

Umur

Kawasan

Simpanglima

Tg Muda

Johar

Siranda

Metro

Non Kawasan

4-8

1

4

7

6

4

0

9-12

8

7

12

4

13

0

13-16

7

23

9

3

6

1

17

1

3

3

1

1

3

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0307/31/kot14.htm

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *