Ir Nuniek S, Kepedulian pada Anak Jalanan (Kompas, 1997)

KOMPAS, Senin, 4 Agustus 1997, Halaman XXIV

KEPEDULIAN masyarakat Semarang pada anak jalanan, bisa disebut baru muncul setahun terakhir. Itu jika menunjuk pada terbentuknya Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) sejak setahun lalu.

Salah seorang yang terlibat dan berupaya mendorong kepedulian pada anak jalanan di Semarang ialah Ir Nuniek Sriyuningsih MS (45) yang juga Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) Lembaga Penelitian Undip (Universitas Diponegoro) Semarang. Sejak setahun lalu ia harus membagi waktunya sebagai staf pengajar Fakultas Peternakan dan Kepala PSW Undip untuk bergiat melalui PAJS.

Bahkan, kantornya di lingkungan Kampus Undip Semarang, terbuka untuk berkumpulnya anak jalanan. Mereka datang, mengeluh, menyampaikan gagasan, hingga minta bantuan. Semua itu ia perlakukan seperti anak sendiri.

Ibu dari seorang anak ini baru merasa sanggup menjadi perantara, menghubungkan anak jalanan dengan perseorangan atau lembaga yang mau peduli kehidupan mereka. Melalui PAJS atau PSW-Undip, segala bentuk bantuan untuk anak jalanan bisa diperoleh.

“Saya memahami, kalau saja mereka berhubungan langsung, belum tentu keinginannya terpenuhi,” ungkap Ny Nuniek memprihatinkan tingkat kepedulian masyarakat.

Penghubung memang masih diperlukan meski kreativitas anak jalanan tidak bisa disebut kurang. Yang kurang justru cara menyalurkan kreativitas mereka. Peringatan Hari Anak Nasional 23 – 27 di Semarang, pesta seni, aksi bersih kota, pameran gelar kreativitas dan sebagainya, mereka sendiri yang merancang dan melaksanakan.

“Memang tak bisa disamakan dengan kegiatan anak normal, tapi itu menunjukkan masih adanya kreativitas yang bisa dijadikan modal dasar,” ungkap Ir Nuniek.

***

SAAT ini, paling sedikit 700 anak jalanan yang menggelandang di jalan meliputi pengamen, penyemir sepatu, penjual koran, dan pengemis. PAJS belum mampu berbuat banyak. Dengan kepedulian yang mulai tumbuh, PAJS baru mampu menjangkau pengamen, mereka yang betul-betul menggelandang dan sudah jarang sekali kontak dengan orangtuanya. Untuk itu saja yang berkumpul di PAJS sekitar 200 anak.

Sebagai wadah kepedulian yang baru mulai bergerak, pengamatan terahdap mereka baru disiapkan sebagai bahan penelitian sebagai etape awal dari perjalanan panjang yang akhirnya diharap bisa mengentas anak jalanan. Yang justru jadi keprihatinan Nuniek dan PSW-nya adalah fenomena sosial yang di belakangnya diperkirakan jutaan anak yang mungkin menderita yang sama di rumah, tapi tak punya keberanian lari ke jalan.

Dalam upaya mengentaskan anak jalanan ini, PSW maupun PAJS tidak mau melaksanakan program hanya berdasar pengamatan. Keduanya ingin melakukannya berdasar penelitian yang tepat, sehingga hasilnya benar-benar tuntas. Hal itu terutama untuk menemukan pola pendekatan yang tepat agar mereka tidak kembali lari ke jalan atau trauma oleh pendekatan yang digunakan.

Ini bisa dimaklumi, sebab anak jalanan terdiri dari berbagai kategori. Ada yang kepepet oleh masalah ekonomi, dan lari ke jalan karena orangtuanya tidak mampu menghidupi. Tidak sedikit yang orangtuanya mampu, tapi tertekan dan punya keberanian lari ke jalan disebabkan pengaruh lingkungan.

Tentu tidak begitu saja menangani mereka dengan pendekatan yang sama. Tapi membutuhkan penanganan berbeda-beda. Jika intervensi pada anak jalanan dilakukan sama, ia yakin tidak menyelesaikan masalah.

***

SEBAGAI gambaran, dikemukakan fenomena sosial anak jalanan yang di baliknya ada masalah lain yang lebih serius yaitu akar masalah yang memunculkan mereka. Karena itu tidak heran jika mereka menjadi trauma terhadap”garukan” yang membawa ke suatu tempat pembinaan. Walau tempat dan fasilitas diberikan yang terbaik, karena tidak bisa menikmatinya, mereka lari dan kembali menggelandang.

Tanpa mengurangi penghargaan terhadap upaya selama ini, ia melihat pendekatan aparat menangani anak jalanan selalu formal, seperti yang dilakukan Tibum (ketertiban umum) dan lain sebagainya. Padahal yang dibutuhkan, pendekatan yang sangat humanis yang kadang-kadang aparat tidak terlalu sabar melakukan, karena keterbatasan jam kerja dan beban tugas lain. Begitu juga halnya aparat Depsos yang menangani anak jalanan sebagai bagian kecil dari tugas mereka.

Oleh sebab itu, sudah saatnya penanganan anak jalanan tidak terlalu berharap pada kegiatan pemerintah.

“Saya kira lebih bijaksana jika aparat atau pemerintah menengok pada LSM, dengan melibatkan mereka secara intensif, “ungkap Ny Nuniek yang lahir di Purwokerto, 22 Juni 1952.

Untuk itu, yang diperlukan adalah advokasi LSM untuk menggerakkan kepedulian masyarkat. Ini perlu contoh atau teladan seperti yang ia lakukan, cukup dengan menyapa kemudian menempatkan mereka bukan pada sisi yang berbeda, tapi sebagai teman dengan memaklumi perilaku mereka yang aneh-aneh.

“Saya memang belum mampu berbuat dan baru mencoba berupaya untuk mengerti dan menyelami dunia mereka. Tapi itu mampu menghilangkan rasa takut, sehingga mereka leluasa mengungkap persoalaan yang dirasakan,” tambahnya.

SIKAP kurang pedulinya masyarakat sebenarnya bisa berakibat bagi masyarakat sendiri. Saat ini misalnya, mereka tak punya tempat atau orang yang bisa mereka mintai bantuan. Padahal kahidupan meraka sangat memungkinkan mereka jadi “pembawa” berbagai penyakit menular misalnya AIDS atau penyakit kulit, penyakit seksual, dan sebagainya.

Menurut Nuniek, sebenarnya kepedulian pada anak jalanan bukan hal yang sulit. Misalnya memberi perhatian pada mereka yang masih punya kemauan berbuat baik sebagai modal dasar atau potensi yang mereka miliki. Tapi untuk latihan drama seminggu sekali secara teratur karena ada voluntir yang mau melatih, mereka kesulitan tempat. Setiap kali latihan, mereka selalu diusir seolah mereka itu virus yang berbahaya.

“Ini ‘kan keluhan yang manusiawi dan seandainya ada pribadi atau lembaga memberikan tempat, latihan drama rutin berproses pada jiwa mereka untuk bisa melihat yang baik dan buruk tanpa memberi khotbah,” kata Ny Nuniek mengungkap keluhan anak jalanan.

Sebagai ibu rumah tangga, Nuniek merasa kepedulian pada anak jalanan semakin menyita waktu yang seharusnya untuk keluarga. Sebagai dosen dan peneliti di PSW-Lemlit Undip saja, istri Drs SD Sukirno, PR-I Universitas Tujuhbelas Agustus (Untag) Semarang ini sejak pagi hingga sore berada di kantor atau di lapangan. Apalagi kini ditambah dengan memberi perhatian pada anak jalanan.

Tapi justru itu yang membuatnya berupaya memberi perhatian lebih pada anak tunggalnya, Wisnu Abirasantu (13) yang masih duduk di Kelas VI SD. Perhatian itu tidak berupa materi sebagai pengganti waktu yang banyak tersita untuk karier dan pekerjaan sosial. Tapi dengan teladan serta memanfaatkan sisa waktu untuk anak. Setidaknya, dilakukan bergantian dengan suami.

Pemahaman juga ditanamkan pada putranya, tentang kekerasan hidup serta kepedulian pada dunia nyata. Misalnya dengan membawa ke desa tempat orang bergelut menghadapi kehidupan, atau menjadikannya anak yang peduli pada lingkungan. Rasa sosial juga ditanamkan seperti dengan menyesuaikan diri pada kehidupan anak-anak di lingkungannya yang tidak mampu.

***

BAGI Nuniek, hal itu mungkin tidak dirasakan sulit. Sarjana peternakan yang meraih S2 Ilmu dan Teknologi Pangan di UGM itu, tahun 1975 terpilih sebagai mahasiswa teladan Undip. Kemudian tahun 1984 terpilih sebagai dosen teladan yang pertama di Undip.

Tinggal kini, bagaimana predikat teladan yang pernah diraih itu bisa digunakan meneladani masyarakat agar kepeduliannya terangsang pada anak jalanan, salah satu fenomena sosial masyarakat yang masih perlu dituntaskan. (dirman thoha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *