BISNIS INDONESIA, Minggu IV, Mei 1997

Anak jalanan sebagian besar dilahirkan dari ‘orang tua jalanan’ juga. Tapi, apakah itu nasib yang harus diterima sebagai harga mati?

“Kami butuh rumah dan sekolah.” Kalimat singkat itu adalah jeritan hati kecil anak jalanan, karena sekitar 63,2% anak dari 101 anak jalanan di Semarang berstatus putus sekolah dan tidak punya tempat tinggal yang layak.

Memang kondisi tersebut merupakan kenyataan sekaligus beban berat bagi anak jalanan untuk melambungkan harapannya yang seringkali harus pupus oleh kerasnya kehidupan yang dijalani.

Kami juga ingin sekolah dan hidup nyaman di rumah agar nantinya tidak susah seperti sekarang ini,” kata Joko – sebut saja demikian – satu anak jalanan yang biasa mangkal di perlimaan Tugu Muda Semarang.

Perkataan yang terlontar dari bocah berumur sembilan tahun itu patut didukung sepenuhnya oleh siapa saja yang memiliki kemampuan lebih untuk menyisihkan sebagian dari rezekinya untuk biaya sekolah dan tempat tinggal mereka.

Masa depan yang lebih baik bagi anak-anak jalanan tidak lebih sebagai satu harapan tinggi di langit dan jika ingin mencapainya harus memerlukan biaya relatif besar.

Namun demikian, anak-anak jalanan itu tetap saja punya mimpi tentang masa depan, meskipun hanya sederhana. Di antaranya hanya ingin menjadi pekerja pabrik, pegawai kantoran, sopir, pedagang, penyanyi, pembantu rumah tangga dan juga wiraswastawan.

Untuk bisa mencapai harapan tersebut, anak jalanan menyatakan membutuhkan ketrampilan. Yakni, berbagai kursus, ketrampilan dan permodalan yang cukup untuk bisa mewujudkan mimpinya itu.

Sekretaris Yayasan Duta Awam Petrus Wijayanto mengungkapkan berdasarkan hasil penelitian lembaganya ternyata relatif sedikit anak jalanan yang melakukan langkah untuk memperbaiki nasibnya melalui persiapan-persiapan nyata.

“Umumnya anak jalanan lebih banyak berurusan dengan persoalan bagaimana memenuhi tuntutan perut dan ‘mekanisme’ kehidupan jalanan yang sarat dengan kekerasan dan tekanan,” paparnya.

Meskipun rata-rata anak jalanan berkeinginan memperbaiki nasibnya (90,6%), namun kenyataan di lapangan berbicara beda, bahkan 84,4% anak jalanan mengaku menyenangi pekerjaannya dan hanya 14,6% yang tidak senang dengan pekerjaan sebagai anak jalanan karena merasa hina.

Di sisi lain, paparnya, perhatian anak jalanan juga banyak tersita untuk bersiasat lolos dari bahaya yang selalu mengancam di sela pekerjaan yang dilakoninya.

Bahaya pekerjaan yang terbanyak, kata dia, adalah dikejar polisi ketika sedang bekerja. Saat dikejar polisi, umumnya mereka lari lintang pukang tanpa mengindahkan lalu lintas, sehingga sering terjatuh di jalan dan mengakibatkan cedera.

Meskipun sedikit anak jalanan yang melakukan tahapan formal (sekolah) untuk mempersiapkan masa depannya, namun 82,2% anak jalanan di Semarang mengaku menyukai sekolah.

Tapi sisanya, 34,7% mengaku tidak suka sekolah dengan alasan sekolah membuatnya bingung dan tidak bisa memberikan jaminan untuk mencari uang di kemudian hari.

Melihat kondisi tersebut, sebenarnya anak jalanan memiliki kesadaran bahwa mereka kurang memiliki masa depan dan mereka tahu bahwa orang yang tidak berpendidikan formal hampir pasti tidak bisa hidup layak.

Sekalipun mereka lebih senang bersekolah daripada bekerja, anak jalanan – terutama yang bekerja sambil sekolah – mengatakan tidak bisa berbuat banyak, karena jika tidak bekerja mereka justru tidak dapat bersekolah.

“Bagi anak jalanan, bekerja adalah satu-satunya cara yang harus dijalani agar dapat meneruskan sekolah,” tandas Petrus.

Melihat kondisi tersebut, Walikota Semarang Soetrisno Soeharto menandaskan, sebagai aparat pemerintah hal yang maksimal bisa dilakukan hanya memompa semangat anak-anak jalanan untuk tidak putus asa.

Selebihnya berupaya mengetuk hati para dermawa untuk sedikit menyisihkan uangnya guna membiayai pendidikan anak manusia ini untuk meraih masa depannya, katanya.

“Yang penting, masih punya semangat dan keyakinan untuk memperbaiki nasib, karena semua manusia sebagai umat sama di mata Tuhan,” katanya pada renungan AIDS Nusantara bersama anak jalanan di Hotel Patrajasa Semarang, belum lama ini.

Dia mengakui, upaya pemerintah untuk mengentaskan anak jalanan dari kehidupannya memang relatif kecil dibanding kebutuhan yang diperlukan anak-anak itu. Salah satunya adalah dukungan untuk membuat tempat penampungan anak jalanan di Semarang.

Sementara itu *General Manager* Hotel Patrajasa Semarang Wahono mengimbau kepada kalangan pengusaha untuk ikut memikirkan nasib anak-anak ini.

“Pengusaha bisa menyisihkan sebagian keuntungan bisnis untuk membiayai kegiatan kemanusiaan bagi anak jalanan,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, pihaknya menyampaikan kesediaannya menjadi bapak asuh untuk 50 anak jalanan agar mampu melanjutkan sekolahnya dengan memberikan bea siswa sebesar Rp 60.000 per tahun.

Namun dengan kegiatan tersebut, benarkah persoalan anak jalanan bisa dientaskan dan diperbaiki nasibnya? Ternyata tidak sesederhana itu. (bar/tri).