SUARA MERDEKA, Kamis, 25 September 1997, Halaman III

SEMARANG – Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) Undip Ir Nunik Sri Yuningsih MSc mengatakan yang lebih memprihatinkan dari sekitar 400 anak jalanan itu, 30 persennya adalah perempuan.

“Keberadaan mereka sangat mengkhawatirkan, karena perempuan sangat rawan terkena penyakit seks menular. Itu berarti akan sangat membahayakan alat reproduksi mereka.”

Dari 30 persen itu, lanjutnya, hampir semua akhirnya terjun ke dunia hitam, seperti pelacuran. Sebab, dalam jangka waktu tiga bulan setelah berkeliaran di jalanan, mau tidak mau mereka akan menjadi ciblek, amatiran dan pelacur.

Dia mengatakan sejauh ini, dari penelitian yang dilakukan Pusat Studi Wanita (PSW) Undip, terungkap usia anak jalanan perempuan itu berusia 9 – 21 tahun.

“Keselamatan mereka yang masih sekolah lebih besar daripada yang tidak. Tetapi jumlahnya hanya 10 persennya saja, selebihnya merupakan anak putus sekolah.”

Untuk itu, Nunik mengatakan perlindungan terhadap anak jalanan perempuan ini perlu diperhatikan, karena keberadaan mereka lebih terancam dari pada laki-laki.

“Selama ini kan baru ada tempat persinggahan untuk anak jalanan laki-laki, sedang untuk yang perempuan belum ada. Mereka masih banyak yang tidur di jalanan seperti di pasar-pasar.”

Menyinggung penyebab seorang anak lari ke jalanan, menurut dia, sebagian besar karena perlakuan salah dari orang tua, seperti terlalu dikekang dan sering dimarahi atau dipukul. Namun, kemiskinan tetap menjadi faktor utama mengapa si anak turun ke jalan.

“Banyak juga disebabkan eksploitasi orang tua memaksa anaknya mencari uang di jalan dan keretakan keluarga seperti, perceraian, ditinggal ayahnya kabur dan sebagainya.”

(D2-13)