BERNAS, 16 Oktober 1997, Halaman VII

Pengantar Redaksi :

Keberadaan anak jalanan di berbagai kota biasanya menajdi kendala tersendiri bagi kehidupan masyarakat. Anak jalanan sering diasumsikan sebagai kelompok yang penuh dengan tindak kriminalitas. Bahkan mereka sering dijadikan kambing hitam atas kerawanan di suatu wilayah. Untuk itu, wartawan KR Biro Semarang Budiono dan Isdiyanto mengumpulkan berbagai data dan dirangkum oleh Sihono dalam tulisan bersambung mulai hari ini. 

ANAK Jalanan merupakan istilah yang disepakati oleh konvensi nasional untuk menyebut anak-anak di bawah 16 tahun yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja di jalanan. Alasan mereka kenapa memilih jalanan sebagai tempat bekerja, karena mereka termotivasi oleh kondisi ekonomi dan problem keluarga.

Mereka memilih menekuni kehidupan sebagai anak jalanan yang sarat dengan kekerasan karena didasari adanya pemikiran, hanya kehidupan di jalanan saja yang bisa menerima mereka sekaligus menafkahinya. Apalagi sebagian besar dari anak jalanan tidak berbekal pendidikan cukup. Bahkan tidak sedikit yang belum mengenal dunia pendidikan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Duta Awam (YDA) Semarang terhadap kehidupan anak jalanan di Kodya Semarang, ditemukan adanya eksploitasi, penindasan, pelecehan seksual maupun tindak kriminal lain yang selalu menghantui kehidupan anak jalanan. Sementara untuk membentengi diri dari tindakan-tindakan yang seharusnya belum mereka kenal ini, biasanya anak jalanan terjerat oleh keberadaan para preman yang sering memanfaatkan mereka.

Kedekatan anak jalanan dengan para preman sekedar untuk kelangsungan hidup mereka di jalanan. Mereka yang sudah terikat oleh keberadaan preman biasanya sulit untuk lepas kecuali mereka pindah tempat.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh kelompok Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) terhadap keberadaan anak jalanan di Kodya Semarang pada pertengahan 1996 lalu, diperkirakan jumlah anak jalanan di Semarang mencapai 500 anak. Mereka hidup dan bekerja secara menyebar di berbagai tempat umum di jalanan.

Sesuai hasil penelitian yang dilakukan YDA, dari 101 responden anak jalanan, 92,1 persen di antaranya mengaku masih bisa mengingat nama orangtua mereka, meski hanya mengingat nama panggilan orangtuanya saja. Misalnya saja si Yem atau mbok Nah. Sedangkan 7,9 persen mengatakan sama sekali sudah tidak ingat nama orangtuanya. Hal ini merupakan kejadian yang cukup memilukan.

Alasan mereka untuk menjalani kehidupan sebagai anak jalanan, karena faktor keluarga. Orangtua selalu ribut dan tidak pernah akur. Sehingga membuat mereka yang masih anak-anak ini memilih kehidupan alternatif di luar keluarganya. Hidup di tengah keluarganya ternyata justru membuat anak-anak ini seperti hidup “di neraka”. Sehingga mereka menganggap kondisi di jalanan lebih baik dibanding dengan di rumah mereka kumpul dengan keluarga.

Dari data yang ada, 80 persen anak jalanan mengaku akibat ada masalah dengan orangtua, 16 persen akibat faktor ekonomi, 2 persen akibat ada masalah dengan teman di lingkungan rumah, dan 2 persen lainnya akibat pengaruh teman-temannya yang sudah menjadi anak jalanan.

Yang menyedihkan lagi, sebagian besar anak jalanan ternyata berstatus sebagai anak yang drop out dari sekolahan. Hanya 36,8 persen anak jalanan yang masih mengenyam dunia pendidikan. Ini pun dilakukan dengan secara tidak serius. Biasanya anak jalanan yang masih sekolah sering mbolos jika pekerjaannya di jalanan sedang ramai atau mereka sedang menghadapi kesulitan di sekolahan.

Preman

Untuk bisa bertahan hidup sebagai anak jalanan, mereka harus berani menempuh banyak resiko. Mulai dari sikap para preman yang selalu melakukan pemerasan, jatuh dari angkutan umum, tertabrak kendaraan sampai ketangkap aparat kepolisian karena dianggap mengganggu lalu-lintas atau akibat tindak kriminal.

Sebagian besar anak jalanan yang menjadi sasaran penelitian, hampir semuanya mengaku sudah bisa membantu perekonomian keluarga meski hanya sekedarnya. Sedangkan bagi anak jalanan yang belum mampu mencari nafkah sendiri, terpaksa harus mengais rezeki melalui sisa-sisa makanan di restauran atau di rumah makan. Jika mereka beruntung kadang ada orang uang memberikan makanan.

Penghasilan anak jalanan juga sangat bervariasi, bagi mereka yang cukup berpengalaman di jalanan, dalam satu hari penghasilannya bisa mencapai Rp 6000. Namun bagi yang belum berpengalaman ada yang mengaku sehari pendapatannya kurang dari Rp 1000. Namun hal ini masih tergantung kepada kondisi jalanan yang ada.

Yang mengharukan justru anak jalanan yang masih sekolah. Tingkat kemandirian anak jalanan ini sangat mengagumkan. Selain bisa membiayai sekolahnya sendiri, mereka juga mengaku harus membantu perekonomian keluarga. Kehidupan sebagai anak yang mestinya segala kebutuhan hidupnya terpenuhi oleh orangtua, ternyata justru terjadi sebaliknya.

Dilihat dari segi tempat tinggal, bisa dikatakan semua anak jalanan di Kodya Semarang bertempat tinggal di lokasi yang tidak layak. Meski ada kelompok anak jalanan mampu mengontrak rumah, namun kondisinya tetap saja tidak layak dan terkesan kumuh serta kotor. Akibat sikap malas anak jalanan ini, sehingga satu pakaian harus dipakai selama beberapa hari. Setelah kondisi pakaian lusuh, tidak jarang langsung dibuang.

Hal ini menurut Parman, seorang anak jalanan, karena untuk mendapatkan pakaian bekas bagi anak jalanan tidak terlalu sulit. Banyak masyarakat yang mau menyumbangkan pakaian bekas dan pantas pakai untuk para anak jalanan.

Yang merisaukan justru keberadaan anak jalanan wanita. Mereka sering menjadi korban pelecehan seksual, baik oleh sesama anak jalanan atau oleh para preman. Hal ini akibat dari kondisi yang ada. Banyak anak jalanan wanita yang terpaksa harus tidur di emper toko atau di tepi jalanan tanpa pengawasan orangtua. Sehingga mudah dijadikan sasaran pelecehan seksual. (Bersambung).