BERNAS, 27 Juli 1997, Halaman VII

SIAPA sebenarnya yang bertanggung jawab dengan banyaknya anak jalanan yang tersebar di pelosok negeri? Bagaimana mengentaskan anak jalanan tersebut? Apa jadinya jika mereka terus di jalanan tanpa perhatian dan kasih sayang, apalagi dengan kehidupan keras yang menerpa mereka?

********************************

Psikolog sekaligus budayawan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Drs Darmanto Jatman SU menyatakan, faktor keluargalah yang memang berperan penting dalam membentuk pribadi anak. Tapi orangtua jangan terlalu campur tangan mengatur hidup anak.

“Orangtua fungsinya hanya sebagai pengawas hidup si anak. Bukan mengaturnya, karena secara psikologis hubungan yang akrab tanpa tekanan membentuk pribadi anak jadi lebih baik. Keluarga tetap menjadi tolok ukur keberhasilan seorang anak dalam kehidupannya,”ujarnya.

Anggota Komnas HAM, Prof Dr Muladi SH yang dihubungi secara terpisah menyatakan salut dengan kegiatan anak jalanan yang menggelar kreativitasnya. Ia mengomentari tentang acara kreativitas anak jalanan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro Semarang 23-27 Juli. Tidak hanya puisi, tapi juga lukisan, kerajinan bahkan kumpulan tulisan yang sudah berbentuk buku yang diprakarsai oleh Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS).

Muladi katakan, kegiatan semacam itu perlu diadakan secara rutin, sebab bagaimanapun kreativitas anak jalanan harus tetap mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Semua pihak menurut Muladi harus bertanggungjawab, mulai Depsos, pemerintah, pengusaha ataupun kalangan berada. Sebab jika tidak dikhawatirkan mereka akan berkembang ke lahan subur kejahatan seperti prostitusi atau tindak kriminal lainnya. “Atasi sekarang atau mengganggu kemudian,” tegasnya.

Berdasarkan data yang ada sepertiga penduduk dunia adalah anak-anak yang tersebar sebagian besar di dunia ketiga. Dimana negara tersebut berkembang kemiskinan, mal nutrisi dan keterbelakangan.

Anak jalanan sendiri menempati sebanyak 100 juta, 75 persen diantaranya ada hubungan dengan keluarga sedangkan 25 persennya tidak ada hubungan sama sekali. Buruh anak menempati 200 juta sampai 250 juta, mayoritas tetap berada di negara ketiga.

Data nasional menyebutkan tiga (3) juta anak jalanan, dua juta buruh anak dan 13,5 juta anak terlantar yang terbagi tiga (3) juta putus sekolah, satu setengah (1,5) juta di daerah terpencil dan 6 (enam) juga yatim piatu atau penyandang cacat. (ran)