Ketika Anak Jalanan Jatuh Cinta (2): Norma Sosial Mereka Memang Eksklusif (Suara Merdeka, 1998)

SUARA MERDEKA, 7 Februari 1998, Halaman 1 

“SIAPA  bilang saya mau hidup seperti ini. Nggak punya rumah, nggak setiap hari mandi, nggak punya pakaian bersih, dan sering dipelototi orang. Tapi ini memang harus saya terima. Karena nggak bisa memilih, ya saya harus menjalani semuanya. Nggak peduli lagi dengan mereka (orang-orang kebanyakan). Toh, mereka juga sering nggak peduli dengan saya,” ujar Ramli saat ditanya bagaimana sikapnya terhadap “orang-orang rumahan”.

Lalu cerita-cerita pahit pun mengalir dari bibirnya. Hidup mereka, anak-anak jalanan, hanya mengikuti aliran. Mereka melihat ada uang di traffic light, pangkalan bus, pasar, dan gerbong-gerbong kereta api, ya mereka ke sana.

Orang-orang yang bernasih lebih baik dari mereka diharapkan membagi rezeki. Seratus-dua ratus mereka kumpulkan, lalu untuk makan. Terkadang, ada juga yang baik hati, mau memahami mereka, memberi uang dan nasi. Atau, bapak-bapak di stasiun membiarkan mereka saat tidur di gerbong barang.

Tetapi, menurut Ramli, sikap manis seperti itu tak setiap hari bias mereka terima. Sebab, tak jarang saat anak-anak jalanan ngamen, atau menawarkan kotak semir, justru mendapat bentakan dan umpatan.

Perlakuan tak baik pun ternyata terus saja membuntuti saat anak-anak jalanan perlu istirahat. Tak memiliki tempat tinggal tetap, bukan berarti mereka bisa tidur di mana saja. “Saya pernah diusir petugas ketika masuk Lawangsewu. Padahal saat itu hujan, dan saya hanya ingin berteduh, ingin tidur. Tapi nggak boleh,” tutur Ramli.

Kenapa nggak boleh?” Aku ora ngerti, Mas. Pokoke ora oleh mlebu.”

Pada ujungnya, banyak anak-anak jalanan yang melupakan kisah-kisah pahit dan tak mengenakkan yang mereka alami dengan cara mereka sendiri.  Alhasil, mereka jadi amat tak peduli dan acuh terhadap lingkungan. Sikap mereka jadi terlihat lebih kasar, agresif, dan liar.

“Hanya dengan cara seperti ini kami nggak ingat soal perut yang kosong, nanti malam tidur di mana, besok makan apa. Pokoknya senang. Padahal kalau kami tertawa, itu semua hanya semu, sementara,” aku Ramli.

Dan salah satu bentuk apatisme terhadap lingkungan itu adalah kehidupan seks mereka yang lumayan longgar.

Kelompok “Eksklusif”

Menilai perilaku sosial agaknya tak bisa lepas dari keterikatan terhadap norma yang berlaku dalam masyarakat. Norma, ketentuan, aturan atau apa pun namanya, paling tidak memberikan batasan mengenai pantas atau tak pantas, patut atau tak patut, sehingga sesuatu perlu atau tak perlu dilakukan.

Ihwal perilaku seks bebas anak-anak jalanan – yang notabene termasuk perilaku sosial – mau tak mau harus dikaitkan dengan norma atau aturan-aturan. Hanya masalahnya, seberapa banyak masyarakat yang memiliki “kewajiban moral” mengikatkan diri terhadap norma itu?

Karena itu terhadap perilaku seks para anak jalanan yang cenderung bebas, psikolog Dra Frieda NRH MS merasa tak amat kaget. Pasalnya, staf pengajar program studi psikologi FK Undip itu justru melihat perilaku “anak-anak bangau” bukan dari kacamata umum, melainkan dari norma yang mereka yakini.

“Norma selalu bicara soal boleh dan tak boleh, pantas dan tak pantas, itu norma umum. Nah masalahnya sekarang, apakah mereka, anak-anak jalanan itu, juga menganggap norma umum yang kita yakini itu juga mengatur mereka?” katanya, setengah bertanya.

Dia melanjutkan, pada kenyataannya, anak-anak jalanan, diakui atau tidak, memiliki “kultur” sendiri. Dalam bingkainya yang mereka buat sendiri, secara otomatis mereka juga memiliki aturan atau ketentuan sendiri yang harus mereka “patuhi”.

“Bagi kita, mereka itu bermasalah (karena melakukan seks bebas). Namun mereka tak merasa melakukan sesuatu yang salah. Karena apa? Mereka tak mengenal norma yang menyalahkan orang melakukan seks bebas. Ukuran pantas atau nggak pantas mereka berbeda dari kita, orang kebanyakan,” ujarnya.

Lebih jelasnya, lanjut dia, anak-anak jalanan memegang tata nilai yang berbeda dari orang kebanyakan. Artinya, mereka memiliki kacamata sendiri dalam memandang soal apa yang patut dan apa yang tak patut.

Kondisi seperti itu, tambah Frieda, tentu tak lepas dari kehidupan mereka yang memang bebas. Betapa tidak, sejak kecil mereka sudah harus menjalani hidup sekian kali lebih keras dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka yang memiliki nasib lebih baik: mempunyai orang tua, rumah dan bisa sekolah.

Pendeknya, begitu lahir mereka langsung dihadapkan pada alam yang tak ramah. Hingga akhirnya, menginjak masa remaja, kehidupan yang keras tak juga lepas dari mereka. Tak pelak, tanpa sadar anak-anak jalanan mulai menyadari ternyata mereka sebenarnya bisa “melakukan apa saja.”

“Kita semua tahu, masa remaja selalu sarat dengan eksperimen-eksperimen. Dan mereka memanfaatkan peluang itu.”

Salah satu eksperimen itu, menurut Frieda, adalah kehidupan seks. Dalam kondisi yang longgar norma, liar dan tanpa aturan dan tanpa kontrol, mereka pun mencoba. “Karena itu sebenarnya nggak perlu heran kalau kemudian mereka bbisa tanpa risi mengekspresikan (seks) di taman, tempat-tempat terbuka, atau di tempat-tempat umum lain. Kenapa? Karena mereka terbiasa hidup tanpa banyak aturan.”

Dia menambahkan, bagi anak-anak jalanan, norma umum hanya berlaku bagi “anak-anak rumahan”. Mereka mempunyai aturan sendiri, sehingga tak merasa terikat pada norma kepatutan.

Mengenaii “kebebasan” itu, dr Taufiq F Adisusilo SU berpendapat, anak-anak jalanan memiliki norma eksklusif. “Eksklusif untuk siapa, ya eksklusif di antara kelompok mereka sendiri,” ujarnya.

Senada dengan Frieda, pengasuh rubrik “Konsekstasi” di tabloid Cempaka itu juga melihat, anak-anak jalanan lebih gampang “bereksperimen”.

Kenapa? Sebab, menurutnya, anak-anak jalanan memiliki banyak peluang. Mereka sudah terbiasa bebas, hidup dalam norma yang serba longgar. “Karena itu, hanya dengan gasak-gasakan, ngomong hal-hal yang nyrempet-nyrempet bahaya, lalu saling cubit, anak-anak itu bisa langsung ‘ke sana’. Semuanya terjadi dengan amat mudah.”

Mereka merasa cuek, tak peduli. Anak-anak jalanan beranggapan, toh perbuatan mereka tak merugikan orang lain. Kecuali jika mereka mencuri, mencopet atau perbuatan kriminal lainnya.

Untuk “anak-anak rumahan” lanjut dia, proses “ke sana” jelas tidak segampang itu. Sebab, anak-anak jenis itu mengenal banyak aturan dan ketentuan dan terlebih lagi belajar agama. Sebaliknya, anak-anak jalanan, sudah terbiasa tak memiliki kontrol. Norma sosial dan agama bisa dikatakan hampir tak pernah menyentuh mereka. “Itulah mengapa mereka lebih memiliki peluang dibandingkan dengan ‘anak-anak rumahan’. Mereka sudah terbiasa lepas dan tanpa pengontrol.”

Namun, menurutnya, hal itu sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. coba saja, misalnya remaja-remaja rumahan (berpasang-pasangan) di bawa ke hutan, lalu dibiarkan tanpa ada yang mengawasi. “Pokoknya mereka diberikan kebebasan melakukan apa saja. Satu atau dua bulan mungkin ada di antara mereka yang melakukan hubungan seks,”katanya.

Berbagai Upaya

Lantas, bagaimana penanganan terhadap mereka, kalau memang ingin ditangani?

Frieda melihat agar persoalan dikembalikan pada “dari sisi mana kita memandang mereka”. Menurut dia, tata nilai yang dianut orang kebanyakan adalah tata nilai dominan atau norma-norma umum, seperti agama dan norma sosial yang berlaku.

“Nah, apakah mereka akan langsung kita masukkan dalam tata nilai kita, atau cukup kita anggap sebagai kelompok minoritas?”

Lalu, bagaimana kalau orang kebanyakan cukup hanya dengan mengakui (bukan menerima!) realitas bahwa perbuatan mereka (seks bebas) itu memang ada. Sebab apa, lanjut dia, untuk mengembalikan mereka dalam komunitas orang kebanyakan dalam waktu dekat adalah sebuah kemustahilan.

“Anak-anak jalanan itu sudah lama hidup dalam tata bangun mereka sendiri, lalu tiba-tiba kita mencomot dan mengajarkan mereka tentang norma yang kita miliki. Apa itu nggak sama dengan menjaring angin?”

Karena itu, menurut dia, mereka harus dicermati satu per satu, tak bisa asal tangkap. Artinya, harus ada seleksi atau pemilihan, siapa yang memiliki keinginan untuk merumah, hidup mapan dan sanggup teratur. Sebab, ada juga di antara mereka yang tidak ingin hidup “wajar”.

“Jadi, upaya apa pun yang kita terapkan tidak akan efektif jika tanpa kerja sama dengan mereka. Mereka harus dilibatkan, kita nggak bisa main paksa. Ingat, meskipun memiliki nasib yang sama, mereka itu heterogen, plural.”

Ir Nunik Sriyuningsih MS, staf pengajar Undip, melihat penanganan terhadap mereka tak cukup hanya dengan niat, tetapi dengan “panggilan jiwa”. Menurut dia, metode pendampingan terus menerus akan membantu menyadarkan mereka dari “keliaran” mereka selama ini. “Semuanya harus dilakukan dengan pelan, sabar, halus dan terus menerus.”

Lebih lanjut Frieda menambahkan, kegagalan dalam upaya “merumahkan” mereka lebih banyak terjadi karena pihak ketiga menyikapi anak-anak jalanan dengan tata nilai awam, bukan dalam kacamata mereka.

“Bagi kita, mungkin mereka memang memerlukan rumah, tempat tinggal yang layak. Tapi apakah mereka juga berpikir begitu? Belum tentu!” ujarnya. Pasalnya, ada juga sebagian di antara mereka yang berpandangan, rumah, kemapanan, atau bentuk kehidupan wajar yang lain, justru akan mengurangi “kemerdekaan”. Bagi mereka, hidup normal adalah harus sesuai dengan banyak aturan. Padahal selama ini anak-anak jalanan sudah terbiasa bebas. “Jadi kita harus tahu, apa sebenarnya yang mereka butuhkan.”

Mengenai kegagalan itu, Nuniek memandang, selama ini program atau perhatian yang diberikan terhadap anak-anak jalanan hanya bersifat karikatif, hanya menyentuh permukaan. “Mereka nggak cukup hanya diberi baju, uang, ceramah, tetapi lebih dari itu. Kita harus memanusiakan mereka, menumbuhkan kepercayaan mereka terhadap kita.” (Ganug Nugroho Adi-Bersambung-29k).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *