Ketika Anak Jalanan Jatuh Cinta (3-Habis): Mustahil Mengubah dalam Hompimpah (Suara Merdeka, 1988)

SUARA MERDEKA, 8 Februari 1998, Halaman 1 

MAMAN, sebut saja dia begitu, tak pernah tahu sejak kapan dia sering tidak mandi pagi setiap hari.   Perceraian ayah ibunya “mengantarkan” buyung yang masih sangat butuh kasih sayang itu ke dunia jalanan, empat tahun lalu.

“Sejak itulah saya hidup begini. Baju ini saja sudah dua hari saya pakai. Terus terang, saya jadi sering lupa mandi dan nggak urusan soal pakaian,” katanya.

Makan pun, kalau pas ada uang dari ngamen. Jika tidak, dia ngoyet. Mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah. Sudah tahunan hidup semacam itu dia jalani. Bocah itu pun lazim keluar masuk bus kota dan bus antarkota.

Keras kehidupan di jalanan membuat anak-anak itu tak lagi terikat pada norma-norma yang sekian lama dipahami dan dihayati masyarakat. Bagi mereka, hidup yang penting adalah tetap bisa bernapas dan melakukan kegiatan sehari-hari.

Di jalanan terdapat ratusan Maman yang lain, berkeliaran setiap hari. Sangat heterogen. Dari pengasong yang naik turun bus menjajakan permen dan minuman, pengamen, pengemis, sampai penjual koran.

Iwan Fals saat bersama Swami menyebut anak-anak yang memberi “warna-warni” jalanan itu sebagai “bunga trotoar”

Memang terasa manis sebutan “bunga” itu, tetapi apakah demikian pula persepsi masyarakat terhadap mereka?

Sudah terlepaskan anak-anak itu dari “stigma” yang melekat di dalam pikiran masyarakat bahwa mereka adalah manusia yang selalu dekil, kotor, dan mesti setiap waktu di waspadai? Sehingga jika muncul sebuah kasus jalanan seperti mobil yang disilet catnya, mereka pula yang kena tuding?

Porak Poranda

Rasanya, kisah tragis menyangkut rumah tinggal anak jalanan Semarang yang tergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang  (PAJS) di Lemah Gempal, patut dikemukakan.

Saat itu, Oktober 1997 rumah itu telah “digerebek”. Puluhan bocah yang tidur di situ dipukuli dan seluruh isi rumah diporak-porandakan. Alhasil, setelah setahun lebih dua bulan anak-anak mengerti akan makna kata “pulang”, mereka harus tidur di jalanan lagi.

Upaya mencari rumah baru ternyata tak semudah yang dibayangkan. Koordinator PAJS Winarso, yang bersama salah seorang peneliti Pusat Studi Wanita (PSW) Undip Drs Ari Subowo MA, mencarikan rumah kontrakan baru, merasakan pahit getir penolakan demi penolakan.

“Kami memang mengatakan kepada pemilik rumah bahwa rumah itu akan digunakan untuk tempat tinggal anak-anak jalanan. Para pemilik tampak enggan sekali rumahnya ditempati anak-anak. Kalaupun teken kontrak, rasanya lingkungan juga sulit menerima mereka,” kata Ari.

Akhirnya, anak-anak terpecah. Beberapa di antaranya mengikuti program pendampingan PSW di sebuah rumah di Pedurungan, beberapa yang lain bersahabat dengan emper toko dan atap langit, sebagian lagi di sebuah kawasan kampus Undip Pleburan.

Menurut tim peneliti PSW Undip, Kartini Sekartaji SH MH, Drs Ari Subowo MA dan Ketua Ir Nunik Sriyuningsih MS, stigma bahwa anak jalanan buruk memang telah sekian lama terpatri di masyarakat kita meski memang ada sebagian dari anak-anak itu yang jelek, karena salah asuh sejak awal.

Kompleksitas perilaku anak jalanan yang terasa sangat aneh di mata masyarakat sedikit banyak tercipta oleh proses learning by doing mereka di lingkungan keluarga masing-masing. Mereka sangat akrab dengan pemandangan ketika orang tua asyik bermain judi, bermain seks (maaf) atau juga melontarkan kata-kata jorok.

Maka taklah mengherankan pada usia yang begitu dini, mereka mengakrabi dunia seks. “Kalau mau dikatakan lebih gamblang, tiduran di bawah kolong gerobak Tugu Muda, bagi mereka masih biasa,” kata Nunik.

Meski telah “berbeda” dari orang kebanyakan, sebetulnya tidak ada alasan bagi masyarakat untuk terus menerus mengecap mereka dengan stigma negatif. “Sebab, setelah diamati, ternyata mereka masih bisa diajak berpikir,” kata Nunik lagi, yang dikuatkan Ari Subowo.

Beberapa bukti tampak saat anak-anak hendak menentukan letak rumah tinggal yang baru atau ketika mereka ikut camping yang diadakan PSW, belum lama ini. “Dalam penentuan rumah tinggal, terlihat sekali mereka sangat memperhitungkan untung rugi letak rumah yang baru,”kata Ari.

Muncul dalam “rapat pembahasan” ala mereka itu kalimat-kalimat seperti, Lha piye nek engko omahe adoh saka kota, kan ngamene angel (Bagaimana kalau nanti rumahnya jauh dari pusat kota, bukankah sulit kalau mau ngamen).”

Saat camping, anak-anak itu “serius” dengan piket ambil air di sungai atau jaga malam yang telah ditetapkan. “Intinya, anak-anak itu punya potensi, asalkan dalam pendekatan awal mereka diuwongke dulu,” timpal Sekartaji.

Yang “Mengalah”

Yang menjadi masalah sekarang, anak-anak dan masyarakat umum tidak mau “mengalah” untuk lebih bertoleransi. Menurut Nunik, solusi sering terhambat stigma. Selama ini, orang kebanyakan selalu mempunyai benteng yang berisi sopan santun, tata krama atau norma lain yang dianggap benar dan baik.

Dalam persepsi orang-orang, mereka tidak akan bisa masuk ke dunia anak jalanan, jika benteng norma itu tidak “ditabrak”. Sebaliknya, mengharapkan sopan santun dari anak-anak yang dibesarkan di jalan jelas impossible.

Tim penilai mengatakan, sebaiknya masyarakat luaslah yang “mengalah” dulu. “Paling tidak, jika masyarakat mau menerima anak-anak sebagai tetangga, itu sudah baik. Ada napas penerimaan di sana.

Dari penerimaan itulah mulai muncul kepercayaan, sehingga nilai-nilai dan norma bisa disosialisasikan di kalangan mereka. Mereka masuk ke jalanan melewati proses panjang, untuk mengubahnya juga harus lewat proses panjang. Tidak bisa hompimpah begitu saja,” kata Sekartaji.

Dinas Sosial selama ini mengandalkan Rumah Singgah Anak Bangsa di kawasan Sayangan, Semarang, sebagai pusat pembinaan anak-anak jalanan. Dari 600 data anak jalanan, tercatat oleh 150 anak dibina di sana.

Anak-anak yang masuk rumah singgah itu diambil langsung dari jalanan dan kemudian ditanya apa keinginannya. “Ada yang ingin sekolah, ada yang mau kembali lagi ke masyarakat, dan ada yang mengatakan masih ingin ngamen,” kata Kasi Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial Dinsos Kodya Semarang, Surawan.

Dari 150 itu, enam anak dimasukkan ke SD Yayasan Pendidikan Islam (YPI), serong dikembalikan ke Yogyakarta, dan seorang lagi ikut biro ketrampilan di Semarang. Namun dia pun mengakui, enam anak itu telah kembali ke jalan.

Kontinuitas

Winarso dari PAJS menilai pendampingan yang kontinu dan lebih mengarah pada aspek mental spiritual lebih penting bagi anak-anak. Segala hal menyangkut janji atau harapan dari siapa pun sudah “kenyang” diterima anak-anak jalanan.

“Kini yang lebih diharapkan adalah keikhlasan penerimaan dari masyarakat. Bagaimana anak-anak itu bisa menjadi seperti yang masyarakat harapkan, jika sebelum berinteraksi sudah dicurigai?”

Terlepas dari semua itu, yang harus dipahami semua pihak adalah peningkatan jumlah anak jalanan dari waktu ke waktu, dilihat dari kuantitas dan titik-titik persebaran.

Data dari Yayasan Duta Awam berdasarkan penelitian tahun 1996 menyebutkan, anak jalan di Semarang ada sekitar 500 orang. Terbanyak adalah pengamen dengan 41 persen, penyemir 22 persen, penjual koran 15 persen, dan ciblek 7,8 persen.

Namun data Dinsos tahun 1997 sebagaimana dituturkan Surawan, kini jumlah mereka 600 orang. Titik persebaran baru anak-anak jalanan antara lain di Banyumanik dan Kalibanteng. Selain titik-titik lama semacam Pasar Johar/Halte Hotel Dibya Puri, Kanjengan, Matahari Johar, Tugu Muda dan beberapa titik lain.

Jadi, siapkah masyarakat menyisakan sedikit ego dengan bertoleransi untuk lebih menerima anak jalanan dalam skala paling sederhana sekalipun? Salah satunya, sebagai tetangga (belum sebagai orangtua asuh).

Adakah anggota masyarakat yang rela menyisakan waktu, tenaga dan biaya untuk terus mendampingi sisi-sisi kehidupan mereka hingga yang paling pribadi sekalipun?

Tim PSW mengatakan pendampingan kontinu butuh biaya besar dan harus dilakukan secara bertahap dalam kelompok-kelompok kecil. Orientasi perubahan harus diutamakan. Bukan orientasi target yang cenderung berpendekatan kuantitatif namun kualitas tak terjamin. (Adi Prinantyo-29b).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *