SUARA MERDEKA, 03 Juni 1997, Halaman II

SEMARANG – Seakan-akan ingin meneriakkan kata hati tentagn pengucilan masyarakat terhadap komunitas mereka, pengamen yang tergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS), kemarin melantunkan lagu ciptaan mereka di tengah seminar “Penanganan Anak Jalanan”, di Lemlit Undip.

Hentikan kesewenangan terhadap anak jalanan, hentikan eksploitasi terhadap anak negeri. Dengarkan keluhan anak jalanan, riuh terdengar jerit kesakitan, menahan luka dilanda beban. Bukan salah mereka mencari makan, membuka ladang-ladang kota. Bukan salah mereka jadi anak jalanan.

Penampilan mereka mengundang daya tarik tersendiri. Ruang Sidang A Lemlit yang biasanya kental keseriusan dialog ilmiah, kemarin menjadi sedikit cair oleh lagu-lagu dari PAJS.

Setelah mereka menyanyi, tepuk tangan hadirin pun bergemuruh. Selain duduk di kursi belakang, banyak pula anak-anak itu yang duduk lesehan. Mereka mendengarkan ceramah para penyaji makalah, di sekitar meja pembicara.

Seminar tersebut menghadirkan pembicara Dra Minuk Sri Respati dari Bina Kesejahteraan Sosial (Binkesos) Kanwil Depsos Jateng, Romo J Pujosumarto dari Yayasan Sanjaya, dan Ketua Program Studi (Prodi) Psikologi Undip Drs Darmanto Jatman SU.

Seminar yang dipandu Dra Frieda NRH MS itu, diadakan Pusat Studi Wanita (PSW) Lemlit Undip, bekerja sama dengan Program Studi Psikologi FK Undip.

Menurut Darmanto, kehidupan urban supermodern memang sering mengosongkan kehidupan anak dari apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Termasuk di dalamnya menjauhkan anak dari kepedulian, persahabatan, dan kasih sayang.

“Dalam bahasa Eric Berne, mereka akan mengembangkan sikap defensif, yang berbentuk dalam komunikasi semu. Akhirnya, segala sindiran, makian, grenengan, plesetan dan sumpah serapah, sudah bukan hal aneh lagi bagi mereka,” tutur penyair Golf untuk Rakyat itu. 

Jaringan Kemanusiaan

Romo J Pujosumarto menyatakan, salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk mengatasi anak jalanan, yaitu dengan membangun jaringan kemanusiaan.

“Upaya membangun jaringan kemanusiaan diharapkan berkembang menjadi upaya alternatif partisipasi kita dalam pembangunan anak-anak bangsa. Kalau kita bersepakat menangani masalah anak jalanan secara mengakar, maka harus berani menyentuh inti permasalahan yang terletak pada konsep pembangunan itu.”

Seperti halnya pembangunan manusia integral-multidimensional lainnya, anak jalanan juga membutuhkan penanganan paedagogis lintas sektoral yang meliputi – antara lain – aspek religius-spiritual, moral-etis, psikologis, sosial, ekonomis, hukum, dan politis (ap-13t).