JAWA POS, 6 Mei 1997

Kehidupan bebas yang dijalani anak jalanan tentu bukan merupakan hal yang aneh. Faktor utamanya, tentu akibat tidak adanya orang yang membimbing dan memberi pengarahan tentang nilai-nilai yang benar dan salah kepada mereka. Akibatnya, mereka biasa melakukan tindak kriminalitas, minum minuman keras dan hidup bebas dalam soal seks Baik sebagai korban maupun pelaku. Seperti dilaporkan dalam bagian akhir dari hasil penelitian Yayasan Duta Awam Semarang (YADS) dan Pemda Kodya Semarang serta Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) mengenai masalah ini?

MELAKUKAN tindak kriminalitas, bagi beberapa anak jalanan ternyata sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Paling tidak, sebanyak 35,6 persen anak mengaku pernah melakukan tindak kriminal seperti mencuri atau mencopet, menodong, merampok, memperkosa, atau merampas uang milik temannya. Dari jumlah ini, yang melakukan tindak kriminal lebih dari 10 kali ada 13,9 persen. Lainnya, sebanyak 5-10 kali ada 2,8 persen, 2-5 kali 63,9 persen dan satu kali ada 19,4 persen.

Apa alasan mereka melakukan tindak kriminal seperti itu? Sebagian besar mengaku karena terpaksa akibat tidak punya uang, untuk makan atau diajak teman. Akibat tindakan itu, sebanyak 30,6 persen mengaku pernah ditangkap oleh polisi, tibum maupun masyarakat umum. “Dari jumlah itu, 90,9 persen mengalami penyiksaan. Hanya 9,1 persen yang tidak. Pelaku penyiksaan, paling banyak adalah polisi, kemudian orang biasa, pemilik benda yang dicuri dan orang tua mereka sendiri,” ujar Nila Ardhianie, Direktur Eksekutif YDAS.

Selain pernah menjadi pelaku tindak kriminalitas, sebagian dari anak-anak jalanan di Kodya Semarang juga merasakan menjadi korban kejahatan orang lain. Paling tidak, ada 61,4 persen anak-anak jalanan yang pernah jadi korban kriminalitas, antara lain ditodong, dicuri, diperkosa, dipukuli dirampas barang-barangnya dan berbagai tindak kriminal lainnya.

Kemudian penelitian soal penggunaan minuman keras, ternyata juga menjadi kebiasaan buruk mereka sehari-hari. Tercatat ada 60,4 persen anak jalanan yang pernah menenggak minuman keras. Jenisnya bermacam-macam, mulai dari minuman keras tradisional cong yang, ginseng, bir, anggur hingga wiski. Namun tidak dijelaskan dari mana anak-anak ini memperoleh minuman keras tadi.

Soal seks, anak jalanan juga cukup bebas. Seperti diungkap dalam tulisan pertama soal kebiasaan seksual mereka. Ternyata, ada pula, anak-anak jalanan yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis atau bahkan jenis kelamin apa saja. Untuk yang seperti ini, mereka menyebut sebagai AC-DC. Kemudian soal usia pasangan mereka juga bervariasi. Untuk anak pria, separonya ternyata lebih tua dari mereka. Ini terjadi karena biasanya mereka banyak berhubungan dengan pelacur atau wanita nakal.

Sudah bukan rahasia lagi, jika banyak dari wanita jenis ini suka berhubungan dengan anak laki-laki di bawah umur. Bagi mereka, anak-anak yang masih ‘bau kencur’ ini ibarat ‘vitamin’ yang bisa membuat mereka awet muda, sehingga profesinya sebagai wanita penghibur bisa terus bertahan lama. Biasanya, setelah ‘dipakai’ oleh para pelacur, anak-anak ini mencari lagi kepuasan yang sama dan menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Bagaimana dengan anak-anak jalanan wanita? Sebanyak 84,6 persen menyatakan usia pasangan mereka melakukan hubungan seksual tidak pasti. Kadang lebih muda, kadang sebaya dan kadang lebih tua. Pada golongan anak wanita ini, karena dipaksa, mereka harus bersedia melayani siapa saja, apakah anak yang lebih besar atau lebih tua.

Akibat perlakukan ini, tak jarang anak-anak jalanan menderita penyakit kelamin. Umumnya ini diderita oleh anak wanita. Sebanyak 61,5 persen pernah menderita penyakit kelamin seperti gatal-gatal pada alat vital mereka, terasa perih, lecet dan berbau, sekujur tubuh menjadi tidak enak serta perut mual. Sayangnya, hanya 29,4 persen anak-anak yang menderita sakit ini berobat ke paramedis.

Kebanyakan hanya minum obat bebas dan ramuan tradisional untuk menyembuhkan penyakit yang mereka derita. (irs/habis).