Jateng Pos, 7 Agustus 1999

Pengakuan sejumlah anak perempuan jalanan yang jadi korban kekerasan, seperti yang diungkap Jateng Pos, beberapa waktu lalu, ternyata masih kurang seram dibanding keadaan yang sebenarnya.  Sejumlah anak jalanan perempuan bahkan ada yang terjerat sindikat germo dan disuplai ke sejumlah kota. Hal itu terungkap dalam seminar yang dilaksanakan Yayasan Setara bekerjasama dengan LPA Jawa Tengah dan Unicef Indonesia. Berikut laporannya :  

******

BANYAKNYA anak jalanan, terutama anak jalanan perempuan di kota-kota besar di Indonesia setiap harinya, jelas merupakan kenyataan sosial yang tidak bisa dipungkiri. Dengan motivasi yang sama dengan anak jalanan laki-laki – yakni sama sama mencari uang –,  keberadaan mereka di jalanan jelas lebih keras dan lebih berisiko untuk mengalami tindak kekerasan.

Kenyataan banyaknya anak jalanan perempuan ternyata juga terjadi kota Atlas Semarang. Hasil penelitian PWS Undip menunjukkan, jumlah mereka diperkirakan lebih dari 100 orang. Jumlah tersebut, setiap harinya bisa dilihat di beberapa pusat kota seperti di kawasan Simpang Lima, Pasar Johar, Tugu Muda, Terminal Terboyo, Pasar Karangayu, dan beberapa tempat lainnya.

Pada tingkat realitas, yang dinilai cukup mengkhawatirkan, adalah banyak terjadinya pemaksaan anak jalanan perempuan yang dieksploitasi untuk kepentingan seksual. Misalnya anak jalanan yang dilacurkan atau perdagangan anak untuk tujuan sosial.

Dalam rumusan yang dilakukan Yayasan Setara, kehadiran anak jalanan di dunia pelacuran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu anak yang memang berada di dunia pelacuran. Dan, yang kedua, anak yang masih melakukan kegiatan lain untuk mendapatkan uang, terutama dengan menawarkan jasa seksual.

Ada beberapa faktor yang mendorong atau menarik anak jalanan perempuan terpaksa memasuki dunia pelacuran. Misalnya, terjerat dalam sindikat germo, karena tidak perawan lagi, ingin mendapatkan uang yang lebih besar lagi, dan gaya hidup. Anak jalanan perempuan merupakan salah satu tujuan sindikat germo untuk merekrut anak jalanan menjadi pelacur.

Bahkan, mereka tidak hanya dijadikan pelacur di Semarang saja, melainkan disuplai ke beberapa kota lainnya di luar kota Semarang. Hilangnya keperawanan bagi mereka juga merupakan tekanan psikologis yang besar sehingga mereka rela menjadi pelacur (ecep sy)