SUARA KARYA, Sabtu, 10 Mei 1997

Ibu, ….. mohon ibu berkenan menerima bingkisan buatan kami anak-anak jalanan …… demikian Nanang berkata, mewakili 50 lebih suara anak-anak malang manakala Ny Soetrisno Suharto menyapa mereka di markas Paguyuban Anak-Anak Jalanan Semarang (PAJS) Lemah Gempal I/43. Betapa girang para bocah ketika istri walikota Semarang itu datang setelah lama berkawan akrab dengan hardik tak bersahabat, rasa tak aman dan ketidakpastian masa depan mereka.

Nanang (10), adalah seorang anak manusia tak beruntung. Sejak bayi ia tak sempat mencium aroma susu dari puting ibu kandungnya. Bapaknya begitu pula, gagal membantu memecahkan misteri kehidupan bocah tersebut. Nanang tercerabut dari kehangatan kasih sayang keluarga. Anak Solo ini gagal besar secara wajar karena kadung terhempas dari dunia anak-anak.

Awal Desember lalu Nanang pergi setelah merasa tak bermanfaat. Masa kelabu dirinya dimulailah. Sekecil itu ia hidup di atas roda, berganti dari kendaraan satu ke kendaraan lain sembari berbuat apa saja agar bisa bertahan.

Jauh sekali ia mengembara cuma berbekalkan sepotong kaos oblong biru dan celana jisn kumal, dua-duanya tak bisa membelit rapat tubuh Nanang saking longgarnya. Begadang mengandalkan logam pipih untuk mendapatkan sekadar nada bagi suara sember sebelum memutuskan berkoloni bersama teman-teman, dijalaninya sepanjang hari.

Irwan, Daniel dan kerabat Nanang di markas PAJS menambah panjang daftar penderitaan anak-anak jalanan, tak cuma di ibukota Provinsi Jateng, tetapi di manapun mereka berada. Pengalaman menjauh dari pelukan keluarga tak menjadikan Irwan hebat, karena sadar tak bisa dihindari lepas membakar rumah milik orangtua di Lampung akhir 1996. Bayangkan, bagaimana bocah berumur 10 tahun itu lari tunggang-langgang, memisahkan diri dari ikatan keluarga demi menutupi rasa takut dihukum karena perbuatan tak sengaja. Beratus-ratus kilometer dijelajahi sambil memahami aneka macam tabiat orang-orang asing sepanjang perjalanan. Irwan oleh sesama kolega dijuluki “bocah kereta” karena pengalaman mengembara di atas kendaraan bertenaga super raksasa.

Menyuapi

Hidup ini sungguh keras, terlebih bagi anak-anak usia bocah seperti mereka. Daniel menyadari klausul itu. Tetapi bukan kemauannya jika ia membanting tulang selagi tulang-tulang belum kuat benar sebagaimana diceritakan di hadapan Ny Soetrisno Suharto. Bocah Ambarawa, Kabupaten Semarang ini tak menyimpan banyak kata tatkala istri walikota Semarang menyapa. Tapi siapa pun leluasa mengeja raut wajah Daniel. Ia menanggung banyak perkara sebelum dewasa. Mimpi-mimpi indah menguap secara paksa sebelum dinikmati sepuas hati. Jangan pula berharap saling khabar, terlebih belaian kasih sayang keluarga Daniel. Terakhir dia harus menyuapi mulut dengan makanan yang selalu dia cari sendiri di jalan.

Panas jalan raya dan beban ganda tak pernah membuat Nanang, Daniel, Irwan dan seluruh warga PAJS menyerah kalah pada rasa kecewa. Masih tersisa banyak energi untuk menyudahi perasaan tak enak menyangkut eksistensi diri masing-masing dengan terus dan terus bekerja. Justru karena tempaan kehidupan nan keras membuat sikapnya membaja. Mereka biasa berjalan ke arah mana kehidupan berputar, tak peduli sedikit sekali orang lain bersedia memahami dunia sepi anak-anak jalanan.

Sering kali anak-anak gelisah lantaran kehangatan kehidupan di luar sana tersekati ketidakpastian. Tak seharusnya mereka mengadopsi pengalaman buruk, tetapi apa boleh buat pilihan lain sungguh mustahil di dapat. Jalan hidup anak jalanan seiring arah mata angin kedamaian pergi. Tak aneh mobilitas mereka begitu tinggi; berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain demi meraih sebuah harapan bernama suka-cita sejati.

Kaligrafi

Nyata sekali ke manapun pergi anak-anak jalanan selalu berhadapan dengan perasaan tak aman, yang membuatnya berpindah-pindah. Tak mungkin menciptakan ruang dialog demi membuka cakrawala pandang dalam waktu segera. Fenomena ini sulit terpecahkan, begitupun berlaku bagi PAJS Semarang. Tetapi jangan berprasangka buruk terhadap anak-anak jalanan. Takdir kelam dan perlakuan jalanan nan keras menyempurnakan sikap tak gampang menyerah. Watak keras anak-anak tersublimasi lewat usahanya untuk selalu mandiri, minimal mengongkosi sendiri kebutuhan hidup sehari-hari.

Lihat tangan bocah-bocah ini, ternyata mampu berolah seni, saat membuat kaligrafi nama seluruh kolega PAJS dan anyaman warna-warna kertas. Baik anyaman kertas maupun kaligrafi, mereka buat mendekati nilai estetis sekalipun terbuat secara apa adanya.

Jangan pandang rupa karya seni mereka, tetapi lihatlah tekad sehingga barang itu terbangun. Semangat membuat cendera mata begitu membara. Anak-anak memulai pekerjaannya Rabu pukul 22.30 sehari sebelum istri walikota memutuskan datang Kamis 6 Februari 1997. Kepastian akan datang tiba di markas pada saat anak-anak beranjak tidur. Markas PAJS riuh sekali sehubungan dengan khabar gembira itu.

Salah seorang anak menggaris kertas lalu menyesuaikan potongan kertas buatan teman-teman. Jadilah konfigurasi kertas warna-warni pada sebingkai karton berbentuk memanjang. Sementara anyaman kertas dalam proses terbangun, seluruh anak menatahkan tanda tangan di atas selembar kertas putih malam itu juga.

Akhirnya cenderamata itu jadilah. Lewat Nanang kemudian diberikan kepada Ny Soetrisno Suharto. Mulut bocah malang asal Solo laksana terkunci, nyaris tak mengeluarkan desah suara untuk sekadar menjelaskan buat apa bingkisan tersebut dipersembahkan.

Secara ekonomis cenderamata buatan anak-anak tak sebanding dengan bingkisan untuk mereka dari Ny Soetrisno Suharto dalam bentuk uang saku dan baju baru senilai Rp 1 juta. Tetapi anak-anak punya nurani untuk berterimakasih dengan caranya sendiri kendati tak bersuara. Sorot mata Nanang juga anak-anak lain cukup mengartikan betapa dalam makna pemberian tersebut. Bagi anak-anak, Ny Soetrisno Suharto adalah satu-satunya pribadi yang menyediakan busana, uang saku, waktu dan terlebih perhatian setidaknya selama Lebaran lalu tanpa menunjukkan jati diri sebagai istri pejabat. Tabir kelam yagn memaksa anak-anak jalanan tercampak dari atmosfer keluarga besar manusia terkuak, begitu istri walikota Semarang datang, berbicara dan menggalang relasi hati dengan mereka. ***