SUARA MERDEKA, 23 Juli 1997, Halaman II

MULAI hari ini hingga 27 Juli 1997, sebuah acara berlabel Gelar Kreativitas Anak Jalanan digelar di kampus Undip, Semarang. Ratusan anak yang biasanya bekerja sebagai penyemir sepatu, pengamen atau penjual koran akan memperlihatkan kemampuan dan karya mereka kepada masyarakat.

Menurut Ketua Pusat Studi Wanita (PSW) Undip Ir MG Nunik Sriyuningsih MS, pihaknya bersama empat lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain hanya memfasilitasi keinginan anak-anak untuk berkreasi.

Empat LSM itu adalah Forum Komunikasi Peduli Anak Jalanan Semarang (FKPAJS), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LP2M), Forum Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia (FKPPAI), serta Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS). Berikut petikan wawancara dengan Nunik, di kampus Undip, kemarin.

Apa yang melatarbelakangi pelaksanaan Gelar Kreativitas anak Jalanan?

Bagi PSW, ya karena kami memang concern dengan dua konvensi yang telah diratifikasi Indonesia. Yakni, konvensi antidiskriminasi terhadap wanita dan konvensi hak-hak anak. Keduanya memang berkaitan dengan masalah-masalah kewanitaan.

Khusus konvensi hak anak, jika kita berbicara soal anak jalanan, harus diakui mereka telah kehilangan banyak hak. Hak untuk memperoleh perlindungan, hak memperoleh perlakuan sebagai anak sebagaimana yang diperoleh anak-anak kebanyakan, hak untuk mendapatkan pendidikan, dan hak-hak lain.

Tentu saja kita tak bisa menuding siapa yang bersalah, karena mereka muncul sebagai dampak dari pembangunan. Saya jumpai pula, dalam beberapa kasus, anak-anak itu menjadi anak jalanan juga bukan karena mereka sendiri.

Seperti halnya seorang anak jalanan yang sebetulnya ingin kembali ke sekolah, tapi orang tuanya tak memperbolehkan, karena anak itu sumber penghasilan keluarga. Si ayah tak bekerja dan penjudi kelas berat, misalnya.

Ada juga anak yang berasal dari keluarga mampu, tapi tak kerasan di rumah. Gara-garanya, salah pendekatan dari orang tua, sehingga ia merasa tertekan. Bukan salah si anak kan kalau begitu.

Sedangkan mau menyalahkan orang tua juga tak bisa. Sebab, mereka menjadi penjudi pun, merupakan dampak dari pembangunan. Mereka miskin dan datang dari desa ke kota tanpa keterampilan, kan juga ekses negatif dari pembangunan.

Lantas, kegiatan besok (hari ini-Red) dimaksudkan sebagai apa?

Ya, hanya bagian dari perjalanan panjang untuk mencari jalan terbaik untuk menanggulangi masalah anak jalanan. Intinya, bagaimana agar anak-anak yang hidup di jalan itu tak menjadi anak jalanan lagi.

Penyelesaiannya kan tak semudah itu. Tidak bisa kita menetapkan jalan keluar dengan mencarikan orang tua asuh atau sekadar memberi ceramah, nasihat dan sebagainya.

Mereka kan hidup di alam tersendiri yang sama sekali berbeda dari alam orang kebanyakan. Sehingga kita harus menyelami hidup mereka, baru bisa menemukan formula yang tepat untuk menanggulangi masalah mereka.

Konsep awalnya bagaimana? Sebab, bukankah butuh proses lama untuk membuat mereka meninggalkan jalanan?

Yang utama adalah kita memberi media untuk jiwa mereka, agar di dalamnya mereka bisa berproses. Kami hanya memfasilitasi keinginan anak-anak. Dalam dialog dan sarasehan nanti, anak-anak itu akan berbicara tentang dunianya. Di event lain seperti pameran dan pesta nanti, yang dipajang juga hasil kreativitas mereka.

Dalam gelar seni nanti, mereka akan tampil lewat sajian tari, drama dan vokal grup. Anak-anak juga akan bersih-bersih kota. Tampaknya mereka ingin menghapus image bahwa anak jalanan penyebab kota kotor. Sedangkan untuk lomba, akan dilangsungkan lomba lawak, ngamen, inovasi barang bekas, dan lomba menggambar.

Sekali lagi, itu semua keinginan anak-anak, dan kami hanya mediator. Kebetulan bertepatan dengan Hari Anak Internasional dan HUT PAJS.

Semua itu bermuara pada keinginan agar mereka survive di jalan tanpa menjadi preman, serta menemukan celah di jalan sebagai pijakan agar bisa hidup layak di kemudian hari.

Setelah dipikir-pikir, ya kami mengutamakan seni sebagai media. Pasalnya, seni adalah wahana yang universal dan sangat berpeluang untuk menyentuh nurani.

Apakah kegiatan itu tak akan menjadi legitimasi bagi ‘korps’ anak jalanan itu?

Ha….ha… Memang, semua kegiatan itu ada sisi positif dan negatifnya. Tetapi kita harus menyadari, kalau ingin menolong mereka, memperbaiki mereka, tentu harus dengan masuk ke dunia mereka. (Adi Prinantyo-50a)