SUARA KARYA, Sabtu, 10 Mei 1997, Halaman VII

Pengantar Redaksi

Anak jalanan adalah intisari persoalan kota-kota besar. Seperti wabah penyakit, tidak tertanganinya anak-anak, sama artinya membiarkan persoalan kita, atau secara lebih khusus kejahatan, meradang, tak cuma dalam bentuk bibit semata tetapi dalam arti sesungguhnya. H Soetrisno Suharto selaku Walikota Semarang menyadari betul bahaya sosial di balik problem anak jalanan. Agar tidak menggejala, ia merekomendasikan penelitian tentang anak jalanan secara menyeluruh kepada Yayasan Duta Awam (YDA), sekaligus mengadopsi penanganan paling cocok yang akan dijabarkan sebagai kebijakan skala makro. Koresponden Suara Karya di Semarang Petrus Widiantoro berkesempatan mengikuti dari dekat penelitian sejak November 1996 hingga April 1997. Berikut empat tulisan, ditambah sebuah tulisan soal aksi anak-anak jalanan pada malam renungan AIDS sedunia di Hotel Patra Jasa Semarang, Minggu malam (4/5). Redaksi. 

_______________

Jelita (15 tahun) adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Dia dibesarkan dan hidup di Los Pasar Bulu, kawasan pusat kota Semarang. Orangtuanya pedagang gurem. Jika malam tiba, Jelita memilih tidur di tempat gelap, sekadar menyingkir dari pemandangan tidak enak, tatkala ayah ibunya hendak “berduaan”. Karena pilihannya, Jelita sering didekati laki-laki lain, entah pedagang, preman atau siapa pun pada malam-malam tidurnya. Jangan kaget, si belia itu, ia 4 kali aborsi. Dan sekarang Jelita malah hendak dilamar seorang remaja sebaya, sesama anak jalanan juga. Itulah salah satu potret kehidupan anak jalanan hasil penelitian Yayasan Duta Awam (YDA) Semarang November 1996 – April 1997.

Anak jalanan adalah istilah yang disepakati Konvensi Nasional untuk menyebut anak-anak di bawah usia 16 tahun yang bekerja di jalanan. Mereka menggunakan sebagian besar waktunya untuk bekerja di jalanan; menjadi pengamen, tukang semir sepatu, penjual koran, minta-minta, pelayan toko/ restoran, mayeng (memulung ceceran barang di jalan untuk dijual) menjual diri dan sebagainya.

Kehidupan anak jalanan sangat kompleks, selalu penuh ancaman baik dari aparat maupun preman. Berbagai bentuk depresi sosial, ekonomi, kultural sangat berpengaruh terhadap perkembangan mereka. Akibatnya perilaku anak jalanan terlihat jauh menyimpang dibanding anak sebaya di rumah bersama keluarga. Pergaulan seks bebas, minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan, perbuatan-perbuatan kriminal seperti mencuri, menodong, perilaku-perilaku menjurus agresif dan impulsif erat bersinggung dengan keseharian mereka.

Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) mencatat jumlah anak jalanan di Semarang 1996 sekitar 500 orang. Mereka hidup dan bekerja secara menyebar di berbagai tempat umum. Sementara itu penelitian YDA terhadap 78 anak jalanan laki-laki (77 persen responden) dan 23 anak jalanan perempuan (23 persen responden) diketahui pola penyebaran daerah kerja mereka terkonsentrasi di Pasar Johar, Karangayu, Pasar Bulu, Poncol, Banyumanik, Simpang Lima, Terminal Terboyo, Kalibanteng, dan beberapa daerah lain. Ada juga anak jalanan tidak bekerja di satu lokasi saja, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Pola sebaran terakhir mencapai persentase tertinggi 25,7% disusul Pasar Johar 19,8%, Simpang Lima 13,9% dan Pasar Bulu 12,8%. Pola sebaran sisanya berkisar 0,9% – 8,9%.

Struktural

Menurut Oscar Lewis dalam The Culture of Poverty Studi Kasus, makalah Drs I Sandyawan Sumardi SJ, peranan budaya kemiskinan sangat besar terhadap pemberian warna dan pola perilaku serta pola adaptasi pada kehidupan bermasyarakat. Oscar Lewis menandai ciri-ciri kebudayaan kemiskinan pada tingkat keluarga antara lain: masa kanak-kanak singkat dan kurang pengasuhan dari orangtua, tingginya kejadian perpisahan antara ibu dan anak-anak, nilai-nilai perkawinan longgar. Sedang pada tingkat individu ditandai kuatnya perasaan tak berharga, rendah diri, dan kecenderungan dependensi. Struktur pribadi lemah dan seringkali terdapat kekacauan identitas serta berbagai gangguan jiwa seperti daya kendali diri kurang, kurang sabar, cepat pasrah, dan berorientasi pada kekinian.

Bersandar pada teori pakar budaya tersebut, tampaknya apa yang terjadi pada anak jalanan berkaitan dengan budaya kemiskinan struktural turun-temurun, sehingga sulit bagi mereka keluar dari budaya tersebut. Terlihat pula bahwa anak-anak hanya memiliki masa kecil singkat. Pada usia sangat muda (10 tahun) ada seorang anak harus membantu orangtuanya mencari nafkah sebagai peminta-minta.

Sebesar 6,3 persen anak menjalani hidup lebih dari 6 tahun di jalanan. Jika umur tertinggi 17 tahun, berarti mereka meninggalkan rumah pada usia 10 tahun. Dan 4,7% anak hidup di jalan selama kurang dari satu tahun, 4,2% antara 1 – 2 tahun, 16,8% selama 3-4 tahun dan 5,3% selama 5 – 6 tahun.

Penelitian YDA mengungkap bukti alasan mereka keluar rumah terbanyak karena faktor kesibukan orang tua (13,7 persen), 12,6 persen ingin cari pengalaman dan 11,6 persen lainnya karena kedua alasan tersebut. Yang perlu diperhatikan, faktor ingin cari pengalaman dan bosan di rumah, setelah diteliti lebih jauh ternyata berhubungan dengan adanya masalah di rumah yang membuat anak tidak betah, dan merasa kondisi di jalanan lebih baik bagi mereka.

Faktor penyebab lainnya adalah diusir 9,5 persen, 7,4 persen harus mencari tambahan biaya hidup, 5,3 persen mengatakan karena ada masalah keluarga, masing-masing 4,2 persen karena pengaruh teman dan ingin mandiri, 3,2 persen untuk biaya sekolah. Sisanya karena takut pulang, mengalami pelecehan seksual, tidak ada yang merawat dirumah, ada masalah dengan teman dan gabungan beberapa alasan diatas.

Secara sederhana dapat diklasifikasikan penyebab seorang anak bekerja dan hidup di jalanan, 80% akibat masalah di rumah orang tua, 16% akibat faktor ekonomi, 2% akibat ada masalah dengan teman di lingkungan rumah dan 2% akibat pengaruh teman.

Pendidikan

Sebanyak 63,2 persen lebih dari separuh anak jalanan berstatus pendidikan putus sekolah, sisanya lagi 36,8 persen masih sekolah. Bagi mereka yang putus sekolah, kebanyakan tidak melanjutkan setelah memperoleh ijazah SD (21,6%), yang selesai menamatkan SLTP sebanyak 10 persen. Selebihnya 10 persen keluar ketika masih kelas I, 6,7 persen kelas II, 10 persen kelas III, 11,7 persen kelas IV, 11,7 persen kelas V, 5 persen SLTP kelas I dan 13,3 persen ketika kelas II.

Anak jalanan yang masih sekolah, terbanyak adalah SLTP kelas 2 (25,7 persen), SLTP kelas I (14,3 persen), SD kelas 6 (11,4 persen), SD kelas 5 (11,4 persen), SD kelas 3, kelas 3 dan SLTP kelas 3 masing-masing 8,6 persen dan SD kelas 2 (2,9 persen). Dengan status pendidikan sebagaimana disebut di atas, 15 persen dari anak-anak ini tidak bisa membaca dan menulis.

…… membantu orangtua atau untuk diri sendiri mengharuskan anak-anak di bawah umur mencari uang dan merelakan hilangnya masa kanak-kanak. Sebanyak 99 persen anak jalanan mengaku dapat mencari uang sendiri. Dan 1 persen sisanya belum mampu mencari uang sendiri. Akibatnya untuk makan dia hanya mengandalkan hoyen (makanan sisa) dan pemberian orang.

Penghasilan anak jalanan berdasarkan perolehan dalam sehari adalah di bawah Rp 1.000, nol persen, antara Rp 1.000 – Rp 2.000 sebanyak 18,9 persen, Rp 3.000 – 4.000 sebanyak 41,1 persen, Rp 6.000 sebanyak 23,3 persen, di atas Rp 6.000 sebanyak 13,3 persen.

46,8 persen anak jalanan mengatakan bahwa penghasilannya tidak digunakan untuk keperluan diri sendiri. 41,5 persen digunakan untuk diri sendiri. 11,7 persen kadang-kadang untuk diri sendiri tapi kadang-kadang juga orang lain.

Anak-anak yang tidak menggunakan penghasilan untuk diri sendiri, kebanyakan menyisihkan untuk orangtua. Sebanyak 44,2 persen mengaku uang tersebut dibagi dengan teman yang tidak mendapatkan penghasilan. Selebihnya 5,8 persen menyerahkan sebagian penghasilan kepada penguasa wilayah maupun kelompok tertentu.

Ciblek

Sekalipun banyak menemukan ……… kerjaan sehari-hari, ternyata 84,4 persen anak jalanan mengatakan senang dengan pekerjaan mereka. Sisanya 14,6 persen tidak senang karena merasa rendah, sering dipandang hina oleh orang-orang sekeliling, dan takut akan bahaya pekerjaan itu sendiri.

Seorang responden pelacur cilik (ciblek) menjawab,”Saya senang dengan pekerjaan ini karena bisa naik turun mobil, dan makan layaknya orang kaya. Cukup memprihatinkan bukan?” kata Direktur Eksekutif YDA Nila Ardhianie.

Anak-anak jalanan lain ketika diberi pertanyaan serupa kebanyakan menjawab senang melakukan pekerjaan kaerna tidak ada yang mengatur, bebas dan mendapat uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebanyak 90,6 persen anak mengatakan ingin bekerja di bidang lain, 9,4 persen mengatakan tidak ingin bekerja lain bidang. Hal ini mungkin berhubungan dengan aspek bahaya 77,1 persen anak jalanan mengatakan bahwa pekerjaan mereka mengandung bahaya. Ketika dikejar, mereka umumnya lari lintang pukang tanpa mengindahkan lalu lintas. Cukup banyak anak kemudian terjatuh di jalan. Buat mereka ditangkap polisi berbahaya kaerna besar kemungkinan disiksa. Sebanyak 91 persen anak-anak pelaku tindak kriminal mengaku disiksa polisi. Bahaya bagi ciblek, di antaranya sakit kelamin dan dikejar polisi, selain kerap dimintai uang oleh orang-orang dewasa.

Perilaku Seksual

Penelitian menunjukkan bahwa 31 persen anak jalanan pernah berhubungan seksual. Persentase anak perempuan mencapai 56,5 persen, sedang anak laki-laki hanya 23 persen.

Dalam hal keberanian melakukan hubungan seksual, ternyata anak laki-laki jauh lebih berani. Sebesar 22,2 persen anak laki-laki memulainya pada usia 9 tahun. Sedang pada anak perempuan adalah 13 tahun. Dan 12,9 persen anak bisa melakukan hubungan seksual lebih dari 8 kali dalam sebulan. Dan 48,4 persen jumlah hubungan seksual dalam sebulan tidak pasti. Selebihnya 6,5 persen melakukan 1 kali dalam sebulan, 16,2 persen 2-3 kali, 3,2 persen 4-5 kali, dan 3,2 persen 6-7 kali dalam sebulan.

Sebesar 71 persen anak-anak ternyata melakukan hubungan seksual tidak dengan pasangan tetapnya. Hanya 19,4 persen melakukan dengan pasangan tetap, sedang sisanya 9,7 persen tidak terjawab.

Satu hal perlu dicatat, hanya dua responden yang masih sekolah melakukan hubungan seksual. Artinya sekolah ternyata dapat diandalkan sebagai lembaga pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak.

Perilaku seksual anak jalanan memang cukup membuat hati miris. Seperti fakta berikut ini: 51,6 persen anak jalanan dipaksa melakukan hubungan seksual, 37,5 persennya di antaranya mendapat upah, 43,8 persen sisanya tidak.

Sebanyak 61,5 persen anak perempuan yang pernah melakukan huungan seksual pernah merasa sakit. Misalnya alat kelamin gatal, terasa perih, lecet dan berbau. Selain itu sekujur tubuh menjadi tidak enak, perut sakit, serta mual.

Sayang hanya 29,4 persen anak sakit berobat ke paramedis. Kebanyakan emreka minum obat bebas serta ramuan tradisional. Ada juga yang membiarkan saja penyakitnya kendati ketahuan mengidap sipilis. Sedikit sekali ciblek mau menggunakan alat pengaman dalam berhubungan seksual, begitu pula laki-laki.

Selain korban sodomi, juga ditemukan anak dipaksa menjadi pelacur oleh seorang pelacur. Anak yang dipaksa menjadi pelacur biasa tidur di pinggir jalan/ emper toko. Dari sini setidaknya dapat disimpulkan bahwa tempat tidur terbuka di lingkungan umum berbahaya bagi anak jalanan.

Melakukan tindakan kriminal, bagi beberapa anak jalanan sudah menjadi kegiatan sehari-hari. Sebanyak 35,6 persen anak mengaku pernah melakukan tindakan kriminal seperti mencuri/ mencopet, menodong, merampok, mlirit, memperkosa dan merampas uang teman.

Anak-anak pernah melakukan tindak kriminal sebanyak 2-5 kali (63,9 persen). Seterusnya 19,4 persen baru melakukan satu kali, lebih dari sepulul kali sebanyak 13,9 persen dan 5 – 10 kali 2,8 persen. ***