SUARA MERDEKA, 25 Juli 1997, Halaman II 

SEMARANG – Aparat kepolisian benar-benar “diadili” dalam dialog soal penanganan anak jalanan. Polisi dituduh sering memukul, menyita alat musik, dan asal tangjap ketika mereka ngamen. Semua tuduhan itu diungkapkan oleh anak-anak jalanan.

Tak pelak, Kasat Bimmas Poltabes Kapten Pol Jamidin pun sibuk melayani berbagai pertanyaan dari para pengamen itu. Perwira pertama itu pun harus berhadapan dengan arogansi jalanan dari anak-anak, yang selalu memotong kalimatnya saat menjawab gugatan.

Celetukan “Huuuuu……” dan “Ah, yang bener!” terus menerus terlontar. Bahkan, celetukan pun muncul ketika Kasat Bimmas mengutarakan harapan dan kesediaannya menerima anak-anak itu apabila suatu saat diperlakukan kasar oleh petugas. Tampaknya, di mata anak-anak itu, polisi sudah telanjur menjadi “musuh” besar.

Arogansi anak jalanan, agaknya, tak hanya terlihat ketika menyikapi polisi. Bila ada dinding tebal yang tampak di antara mereka dan masyarakat kebanyakan, boleh jadi, justru mereka sendiri yang menciptakannya.

Ketika Pusat Studi Wanita Undip menawarkan Kejar Paket A dan B dan seorang wanita yang mengaku ibu rumah tangga, menawarkan program pramuka, mereka menolak dengan curiga. “Kami sudah sering mendengar tawaran seperti itu, tapi realisasinya nggak pernah ada.”

Tetap Kosong

Mungkin, penolakan itu bentuk sentimen kelompok belaka. Namun, agaknya, jawaban mereka pun tak terlalu salah. Sebab, tak jarang tawaran serupa muncul dan hasilnya tetap kosong. Karena, sedikit-banyak mereka telah mengalami.

Dialog soal anak jalanan itu merupakan salah satu acara dari rangkaian Gelar Kreativitas Anak Jalanan yang berlangsung hingga Sabtu besok. Acara dipandu Hasan Fikri, aktivis dan simpatisan anak jalanan, dan diikuti simpatisan dari berbagai kalangan. Sebelumnya, Hotel Patra Jasa memberikan beasiswa pada 50 anak jalanan di Kodya Semarang, berupa uang SPP setahun untuk siswa SD Rp 60 ribu, siswa SLTP Rp 90 ribu, dan siswa SMU rp 120 ribu (D4-B17,F12-56g).