Pengamen “Bangjo” Akan Ditertibkan (Suara Merdeka, 1997)

SUARA MERDEKA, 23 April 1997, Halaman II

SEMARANG – Boleh jadi, kawasan di sekitar lampu bangjo akan sepi dari pengamen jalanan. Dalam waktu dekat, jajaran Poltabes Semarang akan menggelar razia terhadap mereka yang selama ini sering dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas, serta meresahkan pemakai jalan, khususnya pengendara mobil pribadi.

Langkah represif itu dilakukan berkaitan dengan kasus perusakan mobil oleh seorang pengamen di sekitar traffic light Tugu Muda, beberapa waktu lalu.

Peristiwa itu berawal dari kejengkelan seorang pengamen. Ketika dia meminta uang ngamen, pengemudi mobil terlihat cuek. Karena merasa disepelekan, ”sang penyanyi” merusak mobil itu.

Agaknya, para pengamen mulai mencium gelagat para aparat. Sejak kemarin, di beberapa lampu merah hanya ada satu-dua pengamen. Padahal, biasanya mereka bergerombol memenuhi sekitar traffic light.

“Kami nggak tahu soal rencana razia itu. Lampu bangjo ini sepi, karena kawan-kawan takut ditangkap polisi. Kemarin kan ada kasus dan lima kawan kami ditangkap,” ujar Singgih (10), seorang pengamen yang beroperasi di sekitar Jalan Pemuda.

Beberapa pengamen di kawasan itu menambahkan, pengamen yang merusak mobil di Tugumuda itu bukan kelompok mereka. Mereka tidak mengenal orang itu.

“Bukan kami ngin mengelak, tapi orang itu benar-benar tidak kami kenal. Bahkan, dia sering ngampresen kami yang kecil-kecil ini.

Kasar

Mereka juga menyatakan, anak-anak jalanan di sekitar bundaran Tugumuda terkenal kasar dan emosional.

“Tidak sekali dua mereka sering minta uang gopekan (Rp 500-Red) dari kami, seolah-olah mereka penguasa jalan-jalan di sini,” ujar Dimas (13).

Kasat Binmas Poltabes Kapten Pol Soekisno, melalui Kanit Bintibmas Lettu Pol Muhadi, kemarin menjelaskan, polisi masih melacak pelaku perusakan mobil. Sebagai tindakan awal, petugas akan segera merazia para pengamen bangjo.

Muhadi mengungkapkan, sebenarnya beberapa waktu lalu polisi melakukan penertiban, sehingga mereka tidak lagi berkeliaran di sekitar lampu merah. Namun entah kenapa akhir-akhir ini mereka merebak lagi.

Dia juga mengatakan, Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Ny Jani Soewardi pernah menawari mereka pekerjaan selain mengamen. Organisasi itu meminta Yayasan Soegijopranoto untuk membuat proposal mengenai jenis kegiatan lain yang diinginkan para pengamen.

Atas tawaran itu, Yayasan melimpahkan pembuatan proposal kepada Ketua Kelompok Pengamen. Namun hingga kini rancangan itu belum juga diajukan.

“Poltabes berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinso) Kodya berniat menangani masalah itu. Langkah pertama, kami akan melakukan razia.”

Kepala Dinso Kodya Semarang Drs Pudji Utomo sangat menyayangkan perusakan di sekitar bundaran Tugumuda beberapa waktu lalu. Sebab, selama ini pihaknya telah memberikan pembinaaan, pendataan, serta perhatian terhadap para pengamen dan anak jalanan.

Dia menjelaskan, selama ini Dinas Sosial telah membina mereka (anak jalanan-Red).

Namun, jika kemudian muncul kasus perusakan oleh anak jalanan, dia melihat banyak faktor eksternal yang memengaruhi mereka.

Karena itu, lanjut Pudji, agar anak jalanan bisa dikontrol. Dinso bersama pihak terkait akan menyediakan semacam rumah inap untuk mereka.  (D4,D18,A14-50b)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *