MEDIA INDONESIA, Jum’at, 6 Agustus 1999  

SEMARANG (Media) : Akibat perlakuan orangtua atau anggota keluarga lainnya yang salah arah didikannya, merupakan salah satu penyebab maraknya anak perempuan di jalanan di kota-kota besar lainnya, khususnya di Semarang.

Dari kasus yang berhasil dihimpun menyebutkan, bahwa anak jalanan perempuan lebih banyak tinggal di jalan atau tidak tetap dibandingkan tinggal bersama orangtua atau keluarganya karena dampak dari salah asuh itu, kata koordinator program penelitian anak jalanan perempuan dan anak yang dilacurkan Yayasan Setara Semarang, Hening Budiyawati di Semarang, kemarin.

Hening  Budiyawati mengemukakan hal itu ketika menyampaikan presentasi dalam seminar Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak Jalanan yang Dilacurkan yang diselenggarakan atas kerjasama antara Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jateng dengan Yayasan Setara Semarang dan perwakilan Unicef di Jateng.

Menurut Hening, dari hasil penelitian anak jalanan perempuan di Semarang, menyebutkan bhawa alasan anak perempuan melakukan aktivitas di jalanan yang diungkapkan oleh sebagian besar anak jalanan perempuan yang ada di Kodya Semarang, perbuatan itu dia lakukan karena adanya kekerasan di dalam keluarga.

Karena faktor kekerasan dari keluarga itu merupakan 86,1 persen dari seluruh problematik yang terjadi dalam keluarga itu dan selain faktor kekerasan mereka di jalanan karena di rumah merasa kesepian, kurang mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Ingin hidup bebas, ingin membantu orangtua, ingin punya uang sendiri, mencari saudaranya yang telah terlebih dahulu berada di jalanan, dan selain itu banyak juga mereka pergi ke jalanan justru karena diajak atau disuruh oleh orangtua dan anggota keluarganya.

Dicontohkan sebuah kasus seorang anak jalanan berumur 12 tahun, dia sejak umur 6 tahun sudah disuruh orangtuanya melakukan kegiatan di jalanan dan setiap harinya dia diharuskan menyetorkan sejumlah uang kepada orangtuanya dan apabila tidak justru dimarahi. Bahkan, tidak segan-segan orangtuanya melakukan penyiksaan, jelasnya.

Adanya sinyalemen anak perempuan jalanan dilacurkan, menurut Hening Budiyawati, pada hakekatnya merupakan bentuk eksploitasi terhadap anak dan sesuai hasil penelitian Pusat Studi Wanita Undip Semarang menyebutkan juga, di Semarang dalam tahun 1998 lalu berhasil dihimpun data sekitar 28 persen anak jalanan perempuan yang ada dilacurkan.

Bahkan, dari Yayasan Setara berhasil menghimpun data sebanyak 46,4 persen anak jalanan perempuan yang dilacurkan.

Diakuinya bahwa dari hasil penelitiannya kehadiran anak jalanan perempuan di dunia pelacuran dibedakan menjadi dua yaitu anak yang memang sepenuhnya berada di dunia pelacuran dan yang satunya yaitu anak yang masih melakukan kegiatan-kegiatan lain untuk mendapatkan uang yang kadang-kadang menawarkan jasa seksual.

Sesuai data yang dihimpun menyebutkan pula, bahwa jumlah anak jalanan perempuan di Kodya Semarang sekitar 200 anak dan pada umumnya berasal dari dalam kota Semarang khususnya daerah kumuh, jelasnya. (HT/Ant/B-2)