Suara Merdeka, Kamis, 5 Agustus 1999 (Halaman III)

SEBUT saja ia Sri (11). Siang hari, bocah perempuan itu biasa ngamen di lampu “bangjo” Jl. Pandanaran dan sesekali di Jl. A Yani. Ia biasa tidur di mana saja. Sesekali di los buah Pasar Johar, stasiun, dan trotoar Kampungkali. Tapi lebih sering ia tidur bergerombol bersama anak-anak jalanan lain, baik laki-laki maupun perempuan.

“Ibu saya mengemis di Kampungkali, Bapak entah dimana. Sejak kecil saya belum pernah bertemu,” ujarnya.

Seperti anak jalanan lain, hidup Sri memang penuh aneka kisah. Ia, misalnya, sudah mengenal hubungan seks ketika baru berusia 10 tahun. “Malam itu saya sedang tidur, tiba-tiba terbangun kaerna seperti ada seseorang menindih tubuh saya. Waktu itu saya takut sekali, tapi nggak bisa apa-apa,” tuturnya.

Bisa jadi, nasib Sri mewakili beberapa perempuan anak jalanan lain. Hasil penelitian Yayasan Setara (sebuah lembaga yang berkonsentrasi pada isu anak jalanan) menunjukkan bahwa 64,29% perempuan anak jalanan pernah melakukan hubungan seks.

Dari angka itu, 27% di antaranya melakukan kali pertama pada usia 14 tahun dan 16 tahun. Disusul usia 15 tahun (16,67%) dan 13 tahun (8,33%). Sebuah keprihatinan ketika hasil penelitian juga mengabarkan ada anak yang mengenal hubungan seks pada usia di bawah 10 tahun.

Siapa gerangan pasangan mereka pada kali pertama melakukan hubungan seks? “Pertama kali, saya mencoba dengan pacar saya. Padahal waktu itu (setahun lalu-red) belum sebulan pacaran,” kata Lis (16), bukan nama sebenarnya. Tapi Lis yang sehari-hari ngamen itu mengaku melakukannya dengan sukarela.

Tentang perlakuan kasar itu, diperkosa dan dianiaya, Yayasan Setara menyebutkan angka sampai 30,56%. Data lain, 74% anak jalanan yang pernah berhubungan seks sering berganti-ganti pasangan, serta sering memperoleh imbalan baik uang maupun barang termasuk obat-obatan terlarang. Lebih memprihatinkan lagi, kelompok anak ini diindikasikan sebagai anak yang dilacurkan.

Winarso, Ketua Harian yayasan itu mengungkapkan, hingga kini jumlah perempuan anak jalanan di Semarang telah melebihi angka 100. Dari angka itu, tak sedikit yang dijadikan objek eksploitasi seksual komersial terhadap anak.

Anak-anak jalanan, pada ujungnya, memang seumpama pertanyaan panjang. Sebab, bagaimanapun, mereka merupakan bagian dari komunitas. Maka perlu penanganan agar mereka merasa sebagai bagian integral masyarakat kebanyakan.

Barangkali, dalam seminar “Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan” yang akan digelar di Hotel Santika, semuanya akan terjawab. Yang akan menjadi pembicara adalah Mohammad Farid (Yayasan Samin Yogyakarta), Hening Budiyawati (Yayasan Setara Semarang), Dr Esmi Warassih (Dekan FH Undip), dan Prof Dra Niswatin Rakub (Ketua LPA Jateng). (Ganug Nugroho Adi-23b)