SUARA MERDEKA, 15 Mei 1997  

Berangkat dari keprihainan terhadap anak-anak jalanan, Yayasan Sosial Soegijopranoto (YSS) memiliki cara tersendiri untuk memberikan perhatian, yakni mendirikan rumah singgah bagi mereka. Bahkan, setelah bekerja sama dengan UNDP dan Depsos, bulan Mei ini rencana itu bakal segera terwujud.

YSS memandang, selama ini cinta kasih anak-anak jalanan merupakan suatu permasalaan. Kaerna itu, yayasan itu ingin memberikan cinta kasih, sesuatu yang sederhana bagi masyarakat umum, tetapi amat besar artinya bagi anak-anak jalanan.

“Terus terang, mereka hampir tak memiliki masa depan seperti anak-anak lain. Apalagi kehidupan di jalan sangat berbahaya, baik bagi fisik maupun mental mereka. Karena itu, kami ingin merangkul mereka,” kata TY Soetopo dari YSS kepada Suara Merdeka, belum lama ini.

Dia menambahkan, rumah singgah bagi anak-anak jalanan itu sedang dibenahi dan sebelum akhir bulan ini sudah bisa ditempati. “Namanya, rumah singgah ‘Anak Bangsa’.”

Konon, rumah yang selama dua tahun dikontrak dengan harga Rp 7 juta di Jalan Letjen Soeprapto itu akan mampu menampung sekitar 150 anak jalanan yang saat ini tak memiliki tempat tinggal tetap dan tersebar di wilayah Kodya Semarang, dengan berbagai status seperti pengamen, penyemir, dan pemulung.

Ia menambahkan, rumah itu merupakan “pondok boro”, tetapi para penghuninya tidak dipungut biaya. Sedangkan program jangka pendek yang akan ditangani adalah resosialisasi. Artinya, pengelola akan membuat anak-anak yang biasa berkeliaran di jalanan itu menjadi betah di rumah atau, paling tidak, mereka akan mulai belajar mengenal rumah.

“Untuk menumbuhkan rasa betah itu, kami akan memulai dengan menciptakan kebersamaan, kegotong-royongan, dan komunikasi sesama penghuni. Jadi, rumah dan penghuninya akan kami arahkan menjadi semacam keluarga besar dan semua penghuninya merupakan sebuah keluarga.”

Tahap kedua adalah reedukasi, yakni program menumbuhkan semangat belajar. Dalam tahapan itu, pengelola akan memberikan berbagai keterampilan bagi anak-anak jalanan.

“Kami juga akan menggelar program Kejar Paket A untuk memenuhi keinginan sekolah anak-anak yang dari segi usia sudah terlambat.”

Program ketiga yang akan diterapkan adalah rehabilitasi. Dalam program itu, diharapkan anak-anak sudah bisa meninggalkan dunia jalanan yang selama ini mereka geluti.

Artinya, setelah memperoleh berbagai keterampilan dan pendidikan, tahapan itu akan mengarahkan anak-anak kepada profesi alternatif di luar jalanan.

Jadi, secara logika, anak-anak yang berhasil “menyelesaikan” tahapan rehabilitasi sudah bisa mentas, karena telah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih layak dan menjamin, dibandingkan dengan kehidupan mereka sebelumnya.

“Tapi itu merupakan program jangka panjang. Kami nggak perlu tergesa-gesa, kerena semuanya memerlukan proses,” tambah Soetopo. (13s)