SUARA MERDEKA, 25 Juli 1997, Halaman III

“BAPAK mabuk terus. Suatu hari saya ngomong agar dia tidak minum lagi, tapi malah ngamuk. Saya akhirnya lari dari rumah. Naik kereta api dari Purwakarta sampai Gambir. Lalu saya digebukin pegawai stasiun. Dua hari nggak makan karena nggak punya uang. Akhirnya saya membuat alat musik dari tutup fanta, lalu nyanyi. Lumayan, akhirnya bisa makan juga. Tapi saya dikompas (diperas-Red) senior-senior, setiap hari harus setor Rp 2 ribu. Saya melawan, akhirnya lari ke Semarang …

Pengakuan seorang anak jalanan itu tertulis dalam sebuah leaflet. Kotor, kusam dan teronggok di sudut sebuah ruangan. Tak banyak orang tahu, memang, kenapa anak-anak lahir, lalu sebagian hidup di jalanan. Bagi sebagian orang, anak-anak jalanan adalah parasit. Tukang ribut, mengganggu ketenangan, dan membuat kota jadi kusam.

Tapi setelah membaca leaflet itu, sesuatu seperti menghentak ke luar. Tak banyak yang tahu memang, mereka anak-anak itu, pun sebenarnya tak pernah menginginkan jalanan sebagai napas mereka. Karena itu, ide “merumahkan” mereka adalah niat yang amat mulia. Meskipun  harus diakui, upaya menyatukan anak-anak jalanan tak semudah membalikkan telapak tangan. Sekali lagi, tak semudah membalikkan telapak tangan!

Jika kemudian anak-anak jalanan di kawasan Semarang akhirnya rela untuk “merumah”, tentu bukan tanpa upaya. Sekecil apa pun, usaha menyatukan mereka dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) – kemudian bermarkas di Lemahgempal I No. 43 – harus diakui merupakan jejak panjang.

Hampir tak ada yang istimewa pada rumah di sudut jalan itu. Tak terawat, kusam, kotor dan selokan kecil di sisi gang yang tak begitu lebar di depannya selalu saja menimbulkan bau tak sedap. Bahkan, di dalam kesan itu tak juga hilang. Ruang tamu lengang dari segala jenis perabotan, kecuali sebuah lemari sederhana hitam kusam. Sejumlah majalah bekas tersimpan di lemari itu.

Dua kamar di rumah itu tak jauh berbeda : tanpa ranjang dan kasur empuk. Hanya beberapa papan ditata sedemikian rupa, lalu dilengkapi alas tikar. Satu kompor yang baru saja digunakan terlihat di ruang belakang. Boleh kadi, semua kekusaman itu sedikit mencair jika kita menengok empat dinding ruang tamu yang penuh dengan beragam hiasan, berdesakan dengan beberapa foto, daftar nama penghuni, tata tertib dan jadwal piket.

Hampir satu tahun rumah itu menjadi tempat tinggal bagi sekitar 60 anak jalanan. Sebuah tempat untuk melepas letih setelah seharian menyusuri jalan-jalan: mengais rezeki.

“Rumah ini lahir karena kepedulian kami terhadap mereka,” ujar Ricky (25), seorang kakak pendamping anak-anak jalanan. “Tapi ingat, tak mudah untuk memasuki dunia mereka, apalagi mengajak mereka berkumpul seperti ini. Kami butuh dua tahun lebih untuk mengajak mereka tinggal di sini.”

Curiga

Kesulitan tersebut, tambah laki-laki yang biasa dipanggil Mbah Ki itu, karena biasanya anak jalanan curiga terhadap orang lain yang mencoba mendekati. Tak jarang kecurigaan itu lalu ditimpakan pada orang-orang yang ingin “merumahkan” kembali mereka, termasuk yang kini menjadi pengasuh.

“Maklum, mereka biasa mengalami perbuatan negatif dari orang-orang yang tak mau memahami mereka,” kata pemuda yang ikut membidani kelahiran PAJS itu.

Padahal, Winarso, Mbah Ki dan pengurus lain PAJS, ingin merumahkan atau mengurangi anak-anak jalanan di Kota ATLAS. Selain itu, paguyuban tersebut juga bermaksud melindungi mereka dari berbagai bentuk eksploitasi, termasuk pelecehan seksual yang sering dialami anak-anak itu ketika masih keluyuran di jalanan.

“Upaya kami merumahkan mereka juga untuk mengantisipasi kemungkinan ada pihak-pihak yang ingin “mengaryakan” mereka,” kata Wienarso (28), yang sejak PAJS terbentuk dipercaya menjadi kakak pendamping. Dia seorang pekerja sosial yang sejak tahun 1992 mendampingi anak-anak jalanan di kawasan Pasar Johar dan seputar Tugu Muda.

Mbak Ki yang sehari-harinya menjadi koordinator rumah tangga, menjelaskan sejak 1990 beberapa orang mencoba memasuki dunia anak-anak itu dengan cara bergabung di sekitar Tugu Muda. Tugu bersejarah di depan Gedung Lawang Sewu itu semula menjadi terminal atau tempat tinggal anak-anak jalanan yang sebagian besar menjadi pengamen tersebut.

Dari sanalah lahir Serikat Pengamen Tugu Muda (Sepatumu). Kelompok itu beranggot anak-anak jalanan yang biasa mangkal di sepanjang kios Pasar Bulu, Johar, seputar Tugu Muda, dan Lawangsewu. Mereka rata-rata berusia 14 sampai 16 tahun.

Perjalanan panjang untuk menyatukan mereka mulai menunjukkan hasil dengan kelahiran Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS) tahun 1995. Kelompok yang dimotori Winarso (28) itu berubah nama menjadi PAJS, bersamaan dengan Hari Anak Nasional 23 Juli 1996.

“Pada tanggal itu pula kami secara resmi menempati rumah ini,” ujar Mbah Ki.

Rumah berkamar empat itu awalnya dihuni 74 anak yang setiap hari bekerja sebagia pengamen. Usia mereka paling tinggi 16 tahun, semuanya laki-laki.

“Tak ada syarat khusus untuk menjadi bagian dari keluarga ini,” katanya. “Siapa pun boleh tinggal di sini, yang penting umurnya tidak lebih dari 18 tahun.”

Tapi khusus anak perempuan dan anak-anak yang masih berkeinginan keras untuk meneruskan sekolah, dicarikan orang tua asuh dan tinggal di Gunung Brintik. “Soalnya tak mungkin mencampur mereka di rumah ini.” 

Sarat Konflik

“Saat mereka mulai menempati rumah, bukan berarti persoalan tempat tinggal untuk anak jalanan selesai. Mata penuh kecurigaan dari warga sekitar Lemahgempal terpaksa kami terima,” kata Mbah Ki. Termasuk pula pandangan buruk ke pengasuh, antara lain dikira “mengaryakan” anak jalanan untuk kepentingan pribadi.

“Syukurlah, sebagian besar warga akhirnya mau menerima kami,” tutur laki-laki itu sembari mengisap rokoknya.

Hal itu bukan berarti masalah telah selesai, karena sepanjang September – Oktober 1996, dia menerima berbagai ancaman dari pihak-pihak yang tak menyukai PAJS. Tak jarang orang-orang tanpa identitas jelas mengancam anak-anak yang tinggal di “rumah singgah” itu agar mengaku siapa yang mengaryakan mereka.

“Tuduhan negatif semacam itu justru menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa kami, pengasuh PAJS, bertujuan baik untuk anak-anak jalanan Semarang.”

Dia menambahkan, “Itu belum ditambah dengan kesulitan membaurkan mereka dalam satu ikatan kekeluargaan, layaknya hubungan keluarga. Soalnya, kita tahu, anak-anak belasan tahun sedang dalam masa transisi, yang sulit sekali dipahami. Apalagi keinginan mereka tak ada yang sama. Mengajak mereka untuk saling mengerti sangat sulit.”

Pendampingan

Dalam upaya “merumahkan” anak-anak jalanan itu, PAJS menerapkan konsep pendampingan untuk menumbuhkan ikatan kekeluargaan di antara mereka. Dalam ikatan keluarga itu sesama anggota harus saling menghargai, mendukung, dan belajar bersama untuk meningkatkan kualitas hidup ataupun pribadi. Juga mengembangkan semangat untuk berkarya dan hidup mandiri.

Untuk mengembangkan kualitas fisik, intelektual, dan kreativitas, diajarkan berbagai ketrampilan, seperti melukis, sablon, musik, teater, baca tulis, dan organisasi. Tak jarang mereka dilibatkan dalam kegiatan di kampung seperti arisan dan kerja bakti. Di rumah itu, dua minggu sekali  diadakan diskusi tentang segala persoalan sehari-hari, termasuk razia di jalan.

Beberapa anak yang masih memiliki orang tua disarankan untuk kembali ke rumah masing-masing. “Tentu saja itu bukan proses yang mudah,” ujar Mbah Ki. Soalnya, tak semua orang tua mau menerima kembali anak-anaknya, apalagi untuk menyekolahkan mereka.

Melihat minat yang tinggi dari beberapa anak untuk bersekolah lagi, pengasuh di PAJS mengupayakan dana untuk membantu mereka. Antara lain dengan cara mengumpulkan dana sukarela dari beberapa pihak yang peduli pada masa depan anak jalanan.

Dari beberapa anak yang ditemui, rata-rata prestasi sekolah mereka baik. (Tri Rejeki Andayani, Ganug Nugroho Adi – 50a)