Sarasehan Anak Jalanan: “Saya Dipukul saat Ngamen” (Suara Merdeka, 1997)

SUARA MERDEKA, Minggu, 27 Juli 1997, Halaman VI

SEMARANG – Tema kekerasan masih menjadi isu sentral dalam pembahasan mengenai penanganan anak jalanan. Hampir seluruh pembicara dalam sarasehan “Penanganan Anak Jalanan di Kodya Semarang” di Undip, kemarin, menyinggung soal kekerasan ini dari berbagai sudut pandang.

Pembicara K Ertanto yang sejak 1979 mengakrabi dunia jalanan di Yogyakarta itu, mengungkapkan bahwa memasuki jalan raya adalah memasuki lingkaran hubungan sosial yang penuh kekerasan.

“Pada awalnya, pemula anak jalanan akan menjadi sasaran penipuan penghuni jalanan yang lebih besar, juga dikaryakan,” kata dia.

Selain itu, kekerasan fisik pun akan didapatkan dari siapa saja. Termasuk kekerasan seksual menjadi bagian dari kehidupan di jalan. Seringkali, lanjut mahasiswa antropologi UGM itu, karena selalu dikenai kekerasan, mereka pun segera menjadi pelaku kekerasan pula.

Lima orang anak jalanan yang mendampingi K Ertanto pun menyatakan hal serupa. “Saya pernah dipukul sewaktu ngamen di bus, tanpa tahu sebabnya,” ucap Ari. Sementara Tius, seorang anggota Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) berkisah, dia tahu-tahu ditangkap petugas di kawasan Tugu Muda. Padahal bocah tersebut tahu yang bersalah adalah anak lain yang bukan anggota PAJS. Namun, dia tidak diberi kesempatan untuk membela diri.

Ketika pembicara Wakasat Binmas Poltabes Semarang, Kapten Pol Endang, meminta agar anak-anak mencatat pangkatnya dan menanyakan identitas petugas yang berlaku kasar, mereka pun berkelit, “Lha wong mau menjawab sudah dijotos duluan, gimana, Bu?!” kata Tius lagi.

Menghentikan

Menanggapi semakin menghangatnya perbincangan isu kekerasan itu, moderator Drs Mujahirin Thohir MA, menyimpulkan tidak ada alternatif lain bagi penanganan anak jalanan, kecuali dengan menghentikan tindakan kekerasan terhadap mereka.

Sarasehan tersebut merupakan rangkaian dari “Gelar Kreativitas Anak Jalanan” yang diadakan sejak Rabu lalu. Selain Ertanto dan Wakasat Binmas, tampil pula sebagai pembicara dosen FH Undip Paulus Hadisuprapto, penyair Darmanto Jatman, dan aktivis LSM Simon Hate.

Kegiatan diselenggarakan atas kerja sama Pusat Studi Wanita Undip, Forum Komunikasi Peduli Anak Jalanan Semarang, Forum Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat, serta PAJS.

Ketua Lemlit Undip Dr dr Satoto yang membuka acara itu mengatakan, betapa pun kecilnya, semua orang pasti pernah berinteraksi dengan anak jalanan. Apalagi, diperkirakan jumlah anak jalanan semakin meningkat.

“Paling tidak, ketika dia ngamen di sekitar bangjo, dan kita merasa terganggu, lalu misuh.”

Ertanto menambahkan, pola hidup anak jalanan dengan mudah akan menggiring mereka untuk segera berhadapan dengan aparat hukum. (B17, D4, F12-33h).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *