Berdirinya Yayasan Setara dilatarbelakangi kegiatan/program yang dilaksanakan oleh seorang pekerja sosial bernama Winarso, yang secara intensif mulai melakukan pendampingan terhadap anak-anak jalanan di Semarang yang terpusat di kawasan Pasar Johar, sejak Oktober 1993.

Keterlibatannya, diawali dari persentuhan dan perkenalannya dengan Simon Hate, seorang aktivis Organisasi Non Pemerintah (Ornop) pada September 1993, yang pada saat itu tengah merintis terbentuknya lembaga jaringan kerja untuk mengatasi masalah-masalah kemiskinan di pemukiman kumuh di Semarang. Wahyudi, seorang sahabatnyalah yang memperkenalkan dirinya dengan Simon Hate.

Pada saat itu, Simon Hate dan rekan-rekannya telah membentuk suatu lembaga bernama Lembaga Studi Pengembangan Masyarakat Kumuh Perkotaan (LSPMKP) di Semarang. Namun, keberlanjutan lembaga tersebut tidak berlanjut.

Serangkaian diskusi berlangsung antara Simon Hate, Wahyudi, dan Winarso, mengenai berbagai persoalan masyarakat kumuh perkotaan. Selanjutnya, Winarso menyatakan tertarik untuk menggeluti dunia anak-anak. Pada proses diskusi ketika berlangsung di Yogya, terkadang dihadiri oleh Odi Shalahuddin, yang pada masa itu aktif di Lembaga Studi dan Tata Mandiri (LESTARI).

Ketika pilihan tentang isu anak dinyatakan oleh Winarso, Simon Hate menanyakan kepada Odi Shalahuddin tentang kemungkinan untuk dipertemukan dengan Mohammad Farid dari Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN). “Kalau soal isu anak, Farid-lah  orang yang paling tepat,” kata Simon kepada Winarso dan Wahyudi.

Odi Shalahuddin menindaklanjuti dengan menghubungi Mohammad Farid, dan mendapatkan respon positif, yang berlanjut pada komunikasi Simon Hate dengan Farid secara langsung yang meminta dukungan SAMIN untuk bersedia memfasilitasi pengembangan program anak jalanan di Semarang.

Pada tanggal 20 Oktober 1993, berlangsung pertemuan pertama yang dihadiri oleh Simon Hate, Mohammad Farid, Wahyudi dan Winarso. Pertemuan ini memberikan orientasi tentang hak-hak anak dan program investigasi.

Pada pertemuan kedua, di bulan November, Winarso telah menyerahkan dokumen hasil investigasinya, yakni “Potret Kehidupan Anak-anak di Sektor Informal di Semarang” yang berisi tentang kantong-kantong tempat mangkal anak jalanan, hasil pendataan jumlah anak jalanan, jenis kegiatan yang dilakukan, dan profil dari beberapa anak jalanan.

Pertemuan ketiga, berlangsung lebih intens pada tanggal 4-11 Desember 1993, untuk menyusun perencanaan program pendampingan anak jalanan dan mempersiapkan tulisan untuk bulletin CWA (lihat di SINI, SINI, dan SINI).

Pertemuan bulanan berlangsung secara rutin dengan agenda membahas proses dan hasil kegiatan yang dilangsungkan, mengevaluasi dan memberikan penugasan kegiatan selanjutnya.

Di Semarang, Winarso secara intens melakukan interaksi dengan anak-anak jalanan di kawasan Pasar Johar, menyelenggarakan berbagai kegiatan dengan fasilitas yang sangat minim dan memanfaatkan barang-barang bekas. Keseluruhan kegiatan dibiayai sendiri dan dukungan terbatas dari sahabat-sahabat dekatnya.

Pada Agustus 1994, ada dukungan dana sebesar Rp. 300.000 (tiga ratus ribu rupiah) dari USC Canada (kini menjadi Yayasan Satu Nama) yang digunakan untuk biaya operasional hingga akhir November 1994.

Pada bulan November 1994 – Desember 1995, SAMIN melaksanakan proyek “Pendokumentasian Program bagi Pekerja Anak”, dengan melibatkan lembaga-lembaga yang menjadi mitra ILO/IPEC. Winarso, walaupun bukan merupakan mitra ILO/IPEC, dilibatkan dalam pelaksanaan proyek tersebut.

Hasil pendokumentasian dari pelaksanaan proyek ini, salah satunya tersusun ke dalam sebuah buku berjudul “Pekerja Anak dan Penanggulangannya”, di mana pengalaman pelaksanaan program Anak Jalanan yang dilakukan oleh Winarso, termasuk di dalamnya.   (Bersambung)

Oleh: Odi Shalahuddin

Tulisan Terkait: