Tidur seadanya, pada proses awal tingga bersama (Dok. Setara)

Tidur seadanya, pada proses awal tingga bersama (Dok. Setara)

Keterlibatan dalam Proyek “Pendokumentasian Program bagi Pekerja Anak” bersama Organisasi Non Pemerintah (Ornop) lainnya,  seperti; HWK Jawa Tengah, Muhammadiyah Weleri, LPKP Malang, Yayasan Paramita Malang, YPSM Jember, L’KRAPIN Bandung, dan MPKS Muhammadiyah Bandung, mendorong Winarso untuk memberikan nama sebagai identitasnya. Pada pertemuan yang dihadiri perwakilan lembaga-lembaga di atas, Winarso mengajukan nama Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS) sebagai identitas yang digunakan.

Pada tahun 1995, perhatian Winarso yang semula terfokus hanya kepada anak jalanan yang berada di kawasan Pasar Johar, mulai berkembang dengan memberikan perhatian terhadap anak-anak jalanan, terutama yang melakukan kegiatan sebagai pengamen di dalam bus kota dengan jalur depan Halte Dibya Puri (Pasar Johar) hingga Halte Lawang Sewu (Taman Tugu Muda).

Pada tahun 1996, ada kecenderungan perhatian lebih besar kepada anak-anak pengamen. Hal ini disebabkan antara lain adanya selisih paham dengan anak-anak di Kawasan Pasar Johar yang merasa marah karena foto-foto kegiatan mereka termuat di sebuah tabloid yang terbit di Semarang. Walaupun hal ini bisa diselesaikan dengan baik, namun hubungan terlihat menjadi renggang.

Para pengamen bus kota, pada saat sore menggunakan Taman Tugu Muda sebagai tempat istirahat mereka. Di sini mereka saling bersapa, saling bertukar lagu, dan bermain-main. Biasanya sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam, anak-anak ini meninggalkan Taman Tugu Muda, kembali ke rumah atau tidur di tempat lain. Pendampingan yang efektif dilakukan oleh Winarso sejak pukul tiga sore hingga malam di kawasan Taman Tugu Muda.

Terhitung sejak 1 Juli 1996, Winarso melalui SAMIN mendapat dukungan dana dari Terre des Hommes Germany (TdH Germany) untuk melaksanakan “Semarang Street Kids Project). Winarso merekrut seorang mantan anak jalanan (Yani Ernawati), untuk membantunya sebagai pendamping anak jalanan. SAMIN sendiri menempatkan Odi Shalahuddin untuk membantu pelaksanaan proyek ini, dan terlibat aktif secara langsung.

Adanya dukungan dana semakin mengefektifkan pelayanan kepada anak jalanan. Salah satunya adalah dukungan untuk mengontrak sebuah rumah bagi anak jalanan. Proses untuk mendapatkan rumah, dilakukan melalui diskusi-diskusi dengan para anak jalanan di kawasan Pasar Johar dan Taman Tugu Muda. Setelah ada respon positif , anak-anak diminta pula untuk turut mencari rumah yang akan dikontrakkan.

Pada saat ada rumah yang akan dikontrak, mereka akan bersama-sama melihat dan meminta pandangan dari anak jalanan. Pada akhirnya didapatkan rumah, yang juga disetujui oleh anak jalanan, yakni sebuah rumah yang terletak di Jln. Lemah Gempat I No. 43, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Taman Tugu Muda. Rumah ini mulai ditempati pada tanggal 20 Juli 1996.

Pada periode itu pula, Winarso kemudian mengorganisir anak-anak pengamen yang kemudian berhimpun dalam Serikat Pengamen Tugu Muda (SEPATUMU). Nama ini pula yang digunakan oleh perwakilan mereka (8 anak dan 2 pendamping) untuk mengikuti pertemuan dan pameran anak jalanan di Medan yang diselenggarakan oleh Konsorsium Anak Jalanan Indonesia dengan panitia penyelenggara adalah Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP). Acara ini gagal terlaksana walau anak jalanan dari berbagai kota sudah berkumpul di Medan. Aparat Keamanan membubarkan dan menginterogasi panitia penyelenggara, serta beberapa peserta. Winarso sempat diinterogasi dan ditanyakan mengenai maksud dari nama “SEPATUMU”.

Perkembangan kemudian, nama SEPATUMU diganti menjadi Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS), dengan pertimbangan organisasi ini tidak hanya membatasi keanggotaannya pada anak jalanan yang melakukan kegiatan sebagai pengamen saja, dan juga tidak dibatasi hanya bisa diikuti oleh anak-anak di kawasan Taman Tugu Muda. (Bersambung)

Oleh: Odi Shalahuddin

Tulisan Terkait: