Sejarah Yayasan Setara (3): PAJS dan Tantangan-tantangannya

Mengecat rumah di shelter PAJS
Mengecat rumah di shelter PAJS

Setelah nama SEPATUMU tidak digunakan lagi, kembali digunakan nama Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS) untuk sementara waktu. Selanjutnya ”kelompok” dirubah menjadi ”Paguyuban”, yang dinilai mencerminkan semangat kebersamaan bagi anak jalanan untuk ”guyub”. Perubahan nama ini terjadi pada bulan Desember 1996.

Memang tidak mudah bekerja secara individual, tanpa organisasi yang memayungi, ataupun hubungan dengan organisasi-organisasi yang sudah dikenal masyarakat.

Winarso, yang tinggal secara penuh di rumah kontrakkan bersama para anak jalanan, harus menghadapi berbagai persoalan. Sebagian diantaranya adalah:

Pertama menyangkut hubungan dengan lingkungan. Pendekatan yang dilakukan kepada tokoh formal dan informal mampu meredakan reaksi negatif dari masyarakat yang tidak menyukai keberadaan anak-anak jalanan di kampung mereka.

Kedua, menyangkut tingginya perselisihan antar anak jalanan atau dengan komunitas lain yang seringkali diselesaikan melalui kekerasan fisik dalam tawuran masal.

Ketiga, stigmatisasi terhadap anak jalanan menyebabkan mereka menjadi sasaran yang dituduh melakukan tindakan kriminal, seperti pencurian, pencopetan, dan sebagainya. Di shelter, seringkali orang-orang datang dengan memberikan tuduhan bahwa ada satu atau lebih anak yang melakukan tindak kriminal.

Keempat, keberadaan kelompok anak jalanan yang terlihat terorganisir menimbulkan pengawasan dan tekanan dari pihak yang berwenang (pemerintah, kepolisian, dan tentara). Hal ini terlihat dari berbagai peristiwa yang harus dihadapi oleh PAJS. Pada tanggal 21 Agustus 1996, sekitar pukul 3 dini hari, shelter didatangi oleh empat polisi berpakaian preman, dan melakukan penangkapan terhadap tiga anak yang diduga terlibat dalam perkelahian. Paginya, sekitar pukul 07.35, Winarso diminta untuk menghadap ke Polsek Semarang Barat, dan dituduh sebagai anggota PRD, serta meminta keterangan tentang kegiatannya bersama anak jalanan. Pada saat Winarso ke kepolsek, terjadi penculikan terhadap pendamping anak (Yani Ernawati) yang dilakukan oleh sekelompok orang  untuk menggali informasi mengenai identitas para pendamping anak jalanan yang ada (Winarso, Odi Shalahuddin, dan Herry Bongkok) harga sewa rumah, sumber dana, dan sebagainya. Pemanggilan terhadap Winarso oleh Poltabes Semarang (11 November 1996) dan Kasat Intelpam Poltabes (23 Desember 1996) untuk dimintai keterangan mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukannya bersama anak jalanan dan mempertanyakan ijin kegiatan. Pada saat bersamaan (23/12), tiga anak jalanan ditangkap dan diinterogasi disertai tindak kekerasan di Poltabes untuk meminta keterangan apakah mereka menyetorkan uang ke Winarso. Keesokan harinya (24/12) dua orang tentara datang dan meminta anak-anak jalanan untuk tidak mengamen di seputar Taman Tugu Muda. Selain itu, ada sekelompok preman yang juga datang membawa senjata tajam, yang tampaknya sengaja diperlihatkan, meminta agar anak tidak melakukan kegiatan di Taman Tugu Muda,

Situasi di jalanan pada masa itu juga sangat keras. Berbagai razia disertai kekerasan seringkali terjadi. Kekerasan-kekerasan oleh sekelompok orang tidak dikenal berulangkali terjadi tanpa diketahui duduk persoalannya. Ancaman-ancaman banyak dihadapi oleh anak jalanan.

Harus ada langkah-langkah untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi tekanan dari luar terhadap anak jalanan dan kegiatan-kegiatan PAJS. (Bersambung)

Oleh: Odi Shalahuddin

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *